Dear Husband

Dear Husband
Pijat



"Diam dan turuti aku sayang." kata Nando sambil merengkuh Sofia kedalam pelukan hangatnya. Dokter cantik itu bisa merasakan detak jantung suaminya, sedikit membuang rasa malu...dia merebahkan kepalanya yang memang terasa sedikit pusing disana. Hidung mancungnya mengendus aroma parfum mint maskulin yang berasal dari tubuh sang suami yang mencium pucuk kepalanya penuh kasih sayang. Tangan kokohnya juga merengkuh tubuh langsingnya sambil mengelus perutnya lembut. Entah kenapa Sofia begitu menyukai aroma mint itu.


"Bagaimana Emily mas?" tanyanya sambil terus menduselkan kepalanya di dada bidang Nando.


"Dia berada ditempat yang tepat." kata Nando datar. Terlihat sekali dia tidak menyukai topik pembicaraan sang istri, tapi juga tidak tega mengabaikannya begitu saja.


"Apa kita tidak terlalu jahat padanya?" seburuk apapun perlakuan Emily padanya hingga menampar wajahnya, tapi Sofia juga masih punya sisi kemanusiaan. Tak ada yang bisa melarang perasaan seseorang pada orang lain.


"Tiap orang akan menerima akibat dari setiap perbuatannya."


"Tapi mas...."


"Sofia dengar...apapun yang menjadi keputusanku sudah tidak bisa diubah lagi. Apalagi ini menyangkut calon anakku. Calon pewaris Hutama. Biar semua orang tau jika Fernando tidak pernah main-main dengan orang yang berani menyentuh miliknya, apalagi istrinya. Seujung rambutpun tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu." ucap Nando tegas. Sofia hanya diam dan memejamkan matanya, merasakan detak jantung suaminya yang sudah berubah cepat karena marah.


"Maafkan aku." ucapnya pelan. Nando kembali mengecup keningnya lama dengan mata terpejam.


"Sayang, bisakah kita membicarakan hal lain? Aku sangat capek hari ini." keluhnya dengan wajah memelas.


"Hmmm baiklah. Nanti akan kuberikan vitamin penambah stamina."


"Bisakah kau memberiku yang lainnya?"


"Yang lainnya?" ulang Sofia dengan kening berkerut.


"Obat kuat misalnya." bisik Nando ditelinganya yang terbungkus jilbab coklat muda, senada dengan seragamnya hari itu. Sontak Sofia membelalakkan matanya. Apa suaminya ini sudah gila? Untuk apa pakai obat kuat segala? tanpa obat itu juga Nando sudah perkasa dan membuatnya kewalahan karena keinginannya yang menggebu dan tidak ada habisnya.


Belum sempat mengeluarkan kata-kata, Nando sudah melabuhkan ciuman hangat di bibirnya. Sofia mencoba berontak, tapi Nando memeluknya sangat erat dan memperdalam ciumannya hingga sang dokter terbuai dan membalas ciumannya malu-malu.


Nando melepaskan pagutannya, membiarkan istri cantiknya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jemari tangannya mengusap tepi bibir Sofia yang terluka penuh perasaan.


"Maafkan aku karena terlambat datang sayang. Tapi setelah ini kupastikan tak ada siapapun yang bisa menyentuhmu, apalagi melukaimu." Ujarnya diatas bibir Sofia lalu kembali mengecupnya. Entah kemana saja Alex mengedarkan pandangannya kala dua insan itu melepas kerinduan. Semoga saja dia tidak kehilangan konsentrasi saat menyetir mobilnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kediaman Nando. Pria gagah itu segera membimbing Sofia masuk setelah Alex meninggalkan rumah.


"Sayang." panggilnya saat Sofia akan berjalan ke kamarnya. Tatapan pria tampan itu berubah sendu.


"Sampai kapan kita akan pisah kamar?"


"Aku tidak tau." balas Sofia pendek, membuat Nando dihinggapi rasa kecewa. Dia kira Sofia akan naik ke kamarnya, tidak taunya..malah memilih kembali ke kamarnya. Kalau begini caranya, kapan dia akan menengok bayi mereka? Padahal sudah beberapa minggu mereka tidak melakukannya. Tampaknya Sofia belum memaafkannya.


"Sayang, jangan pisahkan aku dengan calon anakku." desahnya penuh harap. Tanpa sadar dia memegang erat jemari Sofia dan membawanya ke bibirnya, melabuhkan sebuah ciuman hangat disana. Hati Sofia menghangat.


"Sayang...." ucap Nando tertahan kala Sofia melepaskan tangannya dan membuka pintu kamarnya. Nando berubah kecewa. Pria itu menarik nafas panjang.


"Cepat masuk dan bersihkan dirimu. Akan kuambilkan pakaianmu dikamarmu." Seketika Nando menegakkan kepalanya. Apa tadi? Sofia menyuruhnya masuk ke kamarnya dan mandi disana? Hatinya langsung bersorak girang dengan mata berbinar. Ingin rasanya berjingkrak gembira karenanya. Tak masalah jika Sofia masih tidak mau ke kamar mereka. Yang jelas dia bisa tidur di dekat istri dan calon anak mereka. Itu saja sudah cukup.


"Kau...tidak mau mandi sekalian?" Sofia menggeleng pelan dan memilih menyiapkan handuk dan peralatan mandi untuk sang suami.


"Nanti saja mas. Aku mau berendam dulu, tubuhku sangat lelah."


"haahh?"


"kenapa? Kubilang aku akan memijitmu. Apa ada yang salah?" tukas Nando memincingkan matanya.


"Ti...tidak." jawab Sofia tergagap.


"Lalu?"


" Mandilah dulu, nanti aku menyusul."


"hmmm baiklah nyonya muda." Dan sebentar kemudian Nando sudah mengguyur tubuhnya dibawah shower. Dia ingin mandi cepat agar bisa segera memijit istrinya.


"Lho...cepat sekali mandinya?" tepat saat Sofia membuka pintu kamar dan membawa baju santai suaminya kedalam, Nando menyelesaikan mandinya. Hal yang tak biasa bagi seorang tuan muda yang biasanya mandi lama seperti anak perawan.


"Hmmm...cepat mandi. Aku menunggumu." ujarnya sambil mengerling genit, membuat Sofia merona lalu memilih mandi secepatnya.


"Sayang sini..." Nando yang sudah duduk manis diranjang queen size itu melambaikan tangannya. Kaos putih yang mencetak jelas bentuk tubuhnya itu sudah membuat pikiran Sofia travelling kemana-mana. Tampaknya dia salah memilih kaos untuk Nando tadi hingga dia jadi tergoda karenanya. Jangan lupakan rambut basah yang membuatnya terlihat......tampan!


Berlahan Sofia mendekat dan naik ke ranjangnya.


"Sini rebahan."


"Mau apa mas?" tanya Sofia panik. Dia seperti kesulitan menelan ludahnya.


"Bukannya tadi aku bilang akan memijitmu?"


"Mas serius?"


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Bukan..tapi maksudku.."


"Sudah, berbaring dan nikmati saja." Tangan kekar itu menarik Sofia hingga berbaring lalu memijit kakinya lembut. Pijatan yang nyaman dan lembut. Mata Sofia terpejam menikmati setiap pijatannya. Dari mana tuan muda ini belajar memijat? Aneh, dia seperti tukang pijat profesional.


"Apa mas pernah belajar pijat?"


"Tidak juga."


"Tapi rasanya sangat nyaman."


"Itu karena aku memijatmu dengan sepenuh cinta."


Deg


Deg


deg.......sepenuh cinta?????