
"Besok dokter Edward menyuruhku masuk ruang perawatan ma, lusa katanya aku dioperasi." cerita Elle penuh semangat. Disana, Sofia tersenyum lebar melihat putri sambungnya itu terlihat ceria.
"Selamat ya sayang, mama hanya bisa mendoakan segalanya berjalan lancar dan kamu bisa melihat lagi."
"Ma, bisakah kau pulang?" tanya Elle penuh harap. Sofia masih termenung ditempatnya. Sejujurnya dia ingin pulang, tapi sudah terlanjur ada disana. Tugas kemanusiaan yang diembannya lebih penting dari urusan pribadinya. Banyak nyawa yang harus dia selamatkan meski sesungguhnya hidup dan mati itu ada ditangan sang Khalik. Tapi dia sudah digariskan menjadi perantara kesembuhan orang-orang itu. Dia tau Elle membutuhkannya, tapi Elle juga masih punya papa, oma,opa dan saudara yang menyayanginya. Artinya Elle tidak benar-benar sendirian saat ini.
"El, mama sedang bertugas. Ada papa disini nak, papa yang akan menemanimu." Nando berusaha menghibur putrinya yang terlihat sedih.
"Elle, besok masih hari ke 4 mama disini sayang. Keadaan juga belum stabil. Tapi mama akan segera pulang saat musibah ini teratasi. El yang sabar ya...." runtuh sudah pertahanan Elle. Gadis kecil itu menangis terisak karena sangat sedih. Betapa dia ingin tangan lembut Sofia menggengamnya saat dia takut. Ya...sejujurnya Elle sangat takut menghadapi operasi itu sendirian. Papanya mungkin menyayanginya, tapi Elle butuh seorang ibu yang akan menguatkan dia.
"Tapi mama janji ya, akan telepon aku sebelum operasi. Elle takut ma...." rengek sikecil penuh kesedihan.
"Elle dengarkan mama. Kau anak yang kuat dan tegar. Segala kesembuhan itu datangnya dari Allah. Berdoalah padanya nak. DIA sebaik-baiknya pelindung dan pengabul semua doa. Percaya saja pada NYA karena tidak ada satu halpun di dunia ini yang terjadi karena kehendak NYA. Berdoa ya nak...percayalah, Allah itu maha mendengar, pengasih dan penyayang." Sofia menasihati putri sambungnya dengan dada bergemuruh. Dia sangat tau Elle membutuhkannya. Gadis itu masih terlalu kecil untuk menghadapi semuanya. Tapi dia sudah memilih jalan ini. Dia harus segera membuat jarak dari keluarga itu begitu Elle bisa melihat lagi. Bukankah hanya itu perjanjiannya? Sofia tidak ingin terluka. Sudah cukup dia menghadapi sikap dingin papanya atau perilakunya yang kadang menyakitkan. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membesarkan hati Elle agar gadis kecil itu mau menjalani oprasinya lalu menghilang dari kehidupan mereka.
"Tapi Elle ingin mama." Diam-diam Sofia membenarkan persamaan yang kuat dari ayah dan anak itu. Sama-sama tidak suka dibantah. Semua keinginannya harus terlaksana. Dasar keras kepala.
"Sayang, mama akan menelepon kamu setiap ada waktu luang nak. Tolong mengerti keadaan mama ya. Walau mama tak ada di dekatmu...doa mama akan selalu tertuju padamu. Mama sayang Elle." sungguh, yang dikatakan Sofia saat ini bukanlah kebohongan untuk membesarkan hati Elle, tapi kejujuran. Sofia sangat menyayangi Elle sejak pertama kali bertemu.
Mobil sudah sampai dipekarangan rumah bertepatan dengan panggilan seorang tenaga medis pada Sofia. Mendengar nada paniknya, pasti ada kondisi darurat yang terjadi disana. Benar, terlihat beberapa orang mendorong brankar memasuki ruangan, disusul brankar lain yang didorong tergesa.
"Elle, mama tutup dulu ya. Jangan lupa pesan mama.Assalamualaikum." sama seperti kemarin, Sofia menutup panggilannya tanpa mendengarkan jawaban dari seberang sana. Wanita itu bergegas menuju sumber suara. Benar saja, ada pasien kritis yang dilarikan kesana.
"Sekarang Elle istirahat dulu ya, papa akan kembali ke kantor dengan om Alex ok?" Elle mengangguk setuju. Jari kecilnya meraih tangan Nando dan mencium pungung tangannya. Hal yang baru terjadi saat Sofia hadir dalam keluarga ini. Dia mengajarkan banyak hal pada Elle.
Tiba dikantor, Nando disambut tumpukan berkas yang butuh tanda tanganya. Bukan hal merepotkan baginya karena seluruh dokumen yang ada disana pasti sudah diseleksi dengan ketat oleh Alex dan stafnya. Nando tinggal membacanya sebentar lalu membubuhkan tanda tangannya. Tiba-tiba ada yang terasa hampa disudut hatinya.Ini baru hari keempat Sofia pergi bertugas.
Diraihnya ponsel disisi kiri mejanya lalu kembali memandangi foto profil Sofia, lalu beranjak membuka storynya. Pagi itu, Sofia wanita yang berstatus sebagai istrinya mengunggah fotonya tengah berada diruangan penuh pasien dengan masker medis, kaca mata dan baju khusus juga sarung tangan sedang memeriksa pasiennya. Terlihat juga dia mengacungkan jempolnya dengan kalimat 'Strong demi kemanusiaan' dan caption senyum lebar disana.
'Jangan lupa sarapan.'
Pesan sudah terkirim. Centang dua abu-abu tertera disana, pertanda Sofia belum membuka pesannya. Hal yang paling tidak disukai Nando, diabaikan dan menunggu. Andai saja Sofia disini, dipastikan dia akan menyusul untuk sekedar mengingatkan dia makan pagi.
Berulang kali Nando menengok ponselnya, takut jika dia tak mendengar notifikasi pesan dari aplikasi warna hijau itu. Apa lagi yang dia tunggu selain jawaban dari Sofia? tidak pernah pria itu segelisah ini. Nafas lega terhempas dari hidung mancungnya kala melihat centang itu berubah biru. Senyum lebar menghias bibirnya, seperti ada kebahagiaan tersendiri pada dirinya.
Menit demi menit berlalu, namun tak ada balasana dari Sofia. Nando sampai berkali-kali mendatangi jendela untuk menenangkan pikirannya. Tangannya terkepal kuat. Beraninya Sofia hanya membaca tanpa berniat membalas pesannya. Wanita itu sudah mengabaikannya. Tak mau membuang waktu, diteleponnya Sofia dengan amarah masih menguasai dadanya. Lama panggilan itu tak terjawab hingga...
"Assalamualaikum." Nyaris saja Nando berteriak kesal saat Sofia baru mengangkat panggilannya. Tapi suara lembut disana seakan meruntuhkan emosi dalam jiwanya.
"Walaikumsalam,kenapa tidak membalas pesanku hmm??"
"Mas, aku sibuk sekali."
"bukan berarti kau bisa mengabaikan aku Sofia. Aku ini suamimu." kata Nando dibuat selembut mungkin. Dia tidak ingin terlihat marah ataupun bersikap kasar padanya.
"Maaf, semua tidak akan terulang lagi."
" Sudah sarapan?" deg....hati Sofia menghangat. Hampir empat bulan tinggal bersama, baru kali ini Nando terlihat begitu perhatian padanya.
"Belum mas, aku baru mau ke kantin."
"Sofia dengar, jangan lupakan sarapanmu. Jika aku mendengar terjadi sesuatu pada dirimu maka aku akan langsung menjemputmu saat itu juga."
"Baik mas."
"hmmm ya sudah, jangan lupa telepon Elle kalau kau ada waktu."
"ya." hanya jawaban pendek-pendek yang keluar dari bibir Sofia. Nando sampai gemas mendengarnya. Apa istrinya itu tidak punya perbendaharaan kata yang lebih panjang? Dirasa cukup memberi pengertian padanya, Nando mengakhiri panggilannya. Tertinggal Sofia yang masih berdiri sambil memegangi dadanya. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang sekarang.