Dear Husband

Dear Husband
Berita si kembar



Sofia memang tidak buka praktik di hari minggu. Dia juga tidak pergi ke puskesmas sesuai jadwal. Jadilah hari itu dia bersantai dirumah. Menunggui Elle dan menghabiskan waktu dirumah setelah melakukan tes darah pada Elle tadi. Sedang Nando? pria itu menikmati liburannya di depan televisi, menonton acara bola kesukaannya.


Tak ada pembicaraan serius baik dari dirinya atau Sofia. Orang awam yang melihat pasti mengira mereka keluarga bahagia. Apalagi berkali-kali terdengar tawa Elle yang memang sudah baikan.


Ponsel Nando berdering. Pria itu bangkit dari rebahannya dan berjalan ke belakang rumah untuk mengangkat panggilan itu. Yah, dibelakang rumah dinas itu memang dimanfaatkan untuk berkebun dan menjemur pakaian. Nando duduk dikursi kosong disana.


"Hallo sayang, aku sedang di bandara sekarang. Mana orang yang akan menjemputku?" suara riang wanita diseberang sana membuka percakapan. Wajah cantiknya terpampang di layar ponsel Nando.


"Mungkin Alex masih dijalan Cla, tunggulah beberapa menit lagi." balas Nando. Wanita itu cemberut dan menggerutu kesal.


"Pokoknya aku tidak mau tau. Segera jemput aku atau aku akan langsung menemuimu darling."


"Aku tidak berada di Jakarta sekarang. Putriku sakit dan dia sedang diobati oleh seorang dokter disini."


"Nando, segera temui aku sebelum makan siang dirumahmu ok? jika tidak maka kau akan tau akibatnya."


"Kau ini benar-benar keras kepala Cla."


"Itu karena aku merindukanmu."


"Baiklah, tunggu aku dirumah. Aku akan segera pulang." Nando menutup panggilannya. Dia segera menghubungi orang-orangnya untuk menjemput tanpa menyadari seseorang berlalu dari balik pintu dengan raut wajah tak terbaca.


"Aku akan kembali ke Jakarta." kata Nando saat memasuki rumah. Sofia baru keluar dari pintu penghubung kliniknya. Wajah wanita muda itu terlihat datar.


"hmmmm."


"Sofia..."


"Aku akan melepas infus Elle. Dia sudah baikan hanya perlu makan makanan yang lembut dan sehat." Tangan wanita itu dengan cekatan melepas selang infus lalu menempelkan plaster agar tidak keluar darah dari bekas tusukannya. Seketika Elle memeluknya.


"Tapi mama janji ya..akan mengunjungi Elle nanti?" tanya sibocah sambil terisak.


"Mama janji El. Jika nanti mama tidak bisa datang ke sana, kau bisa minta bantuan aunty Bella untuk mengantar kesini. Nanti mama akan menelepon dia." wajah Elle kembali sumringah.


"Aku akan pulang sendiri. Elle akan tetap disini hingga pulih nanti." kata Nando tegas. Pria itu berdiri diambang pintu sambil menyilangkan tangannya.


"Elle sudah baikan. Aku juga membawakannya obat agar diminum secara rutin hingga sembuh. Lagipula tidak ada yang akan merawatnya disini."


"Kau mamanya...jika kau lupa. Kewajibanmu adalah merawatnya." Nando memburu Sofia yang kembali masuk ke ruang kerjanya untuk mengembalikan peralatannya.


"Aku akan membayar berapapun yang kau minta Sofia. Asal kau merawat Elle hingga sembuh. Berapa yang kau dapat dari pekerjaamu? aku akan membayarnya 10 kali lipat!" Seketika Sofia membalikkan tubuhnya dan hampir menabrak tubuh Fernando yang tepat berada dibelakangnya. Tatapan matanya setajam silet.


"Ohh ya...saya juga ingin mengingatkan anda satu hal tuan muda. Saya bukan ibu kandung Elle. Tidak ada kewajiban bagi saya merawatnya bukan? jadi saya minta anda segera membawa putri anda pulang karena saya sudah tidak tertarik lagi menjadi mamanya." Dan Sofia berlalu meninggalkan Nando yang masih berdiri dengan beragam tanda tanya dalam benaknya. Suara bel menghentikan Lamunannya.


"Silahkan masuk pak. Tuan Nando ada di dalam."


"Kami menunggu disini saja nyonya." Nando muncul diruang tamu, sedang Sofia masuk ke kamarnya. Dia mengelap tubuh Elle dengan tissu basah , mengganti bajunya juga memakaikan jaket dan kaos kaki panjang padanya. Dia juga beberapa kali mencium pipi sang bocah sebelum menuntunnya keluar.


Lagi-lagi ponsel Nando berdering. Dia pergi kehalaman untuk mengangkatnya.


"Iya ..iya...aku akan segera pulang honey." meski lirih Sofia bisa mendengarnya dengan baik karena sudah didekat pintu mobil. Dia hanya pura-pura tidak tau. Elle masuk ke mobil sedang Sofia kembali masuk ke rumah, mengambil paper bag berisi pakaian Nando yang belum kering karena dia cuci tadi pagi.


"Aku pergi dulu." Sofia mundur beberapa langkah saat Nando menghampirinya.


"Selamat jalan tuan." Hanya itu yang terucap dari bibirnya sebelum mengalihkan pandangan pada kaca mobil tempat Elle melambaikan tangannya. Sofia membalasnya sambil tersenyum lebar. Tanpa kata Nando memasuki mobilnya yang kemudian melaju pelan meninggalkan halaman itu.


Tinggalah Sofia yang termenung disana. Dia berjalan mengunci pagar lalu masuk ke rumahnya.Dia menarik selimut, seprei dan handuk yang bekas dipakai Nando ataupun Elle lalu mencucinya. Dia tidak ingin kenangan akan mereka tertinggal. Cukup sudah dia bermimpi semalam. Hari ini dia harus bangun dan menerima kenyataan. Mungkin Tuhan hanya memberi sedikit hiburan padanya agar tidak terlalu lelah.


Lama berpikir, Sofia berinisiatif menelepon sikembar dikampung halamannya. Rasanya sudah lama dia tidak menelepon rumah. Dia hanya chatting dengan adik- adiknya itu.


Adalah Aldi yang kemudian mengangkat panggilannya. Adik keduanya itu memang pemuda rumahan yang jarang keluar rumah. Dia lebih banyak belajar dan membantu sang ayah. Lain dengan Aldo sang adik yang lebih banyak menghabiskan waktu berorganisasi diluar atau melakukan kegiatan sosial atau mengikuti berbagai pertandingan bola hingga sibuk dan jarang dirumah.


"Kak...bagaimana kabarmu?" tanyanya terdengar riang. Lama mereka berbincang sambil menunggu orang tua mereka pulang dari sawah.


"Di..kakak akan bicara sesuatu padamu."


"Sama. Aku juga mau bicara pada kakak. Tapi kakak duluan saja. Lady firstkan?" canda Aldi seperti biasa. Sofia menarik nafas panjang merasa memikul beban berat. Tapi mau tak mau keputusan ini harus diambil.


"Besok kakak mau kau tutup rekening yang biasa dipakai mas Nando mengirim uang ke rumah." lama tak ada sahutan dari sana hingga Sofia memanggil nama Aldi berulang kali.


"Kak...apa kau tidak bahagia disana?” hanya isakan kecil yang menjadi jawaban Sofia. Dari dulu Aldi memang sangat peka dan pengertian.


" Kak...jangan memaksakan dirimu..."


"Tidak Di, kakak baik-baik saja. Kalian juga akan tetap kuliah sesuai janji kakak. Jangan khawatirkan kakakmu ini." Sungguh, Sofia tidak ingin memupuskan harapan adik-adiknya. Bagaimanapun dia akan terus berusaha agar mereka tetap bisa kuliah


"Baiklah, besok aku akan datang ke bank untuk menutupnya. Kurasa kita memang sudah tidak begitu membutuhkan bantuan kak Nando lagi." jawab Aldi Enteng.


"Maksudmu?"


"Kak...aku diterima di akademi kepolisian. Aku akan mengikuti pelatihan dan kakak tidak usah memikirkan kuliahku. Aku sudah memutuskan jadi polisi saja. Dan Aldo...dia sudah direkrut club bola dan baru saja tanda tangan kontraknya. Mulai sekarang kakak tidak perlu mengkhawatirkan kami." hampir saja Sofia bersorak gembira. Tuhan memang maha adil. DIA maha diatas segala-galanya.