
"Jangan teruskan niatmu Sof." kata Arif berat.Bagaimana bisa dia menerima keinginan putrinya untuk berpisah dari suami yang bahkan belum genap seminggu menikah?apa kata warga desa dan para tetangga yang sudah terlanjur tau kalau dokter Sofia dipersunting pria kota yang kaya raya?bukan hanya itu,tapi sejujurnya Arif sudah sangat cocok dengan Fernando yang ramah,tegas,cekatan dan menantu yang kelewat layak untuknya.
"Tapi ayah,tuan Fernando sendiri yang mengatakan jika aku bukan seleranya.Lalu kenapa pernikahan ini harus dipertahankan?semua ini hanya salah paham yah.Aku juga tidak mengenal dia......"
"Kau ini bicara apa sayang?bagaimana mungkin aku berkata jika kau bukan seleraku?bahkan aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu." Sofia hampir tersedak saat suara bariton itu memotong ucapannya.Lagi-lagi pria tinggi besar itu membuat kejutan dengan memeluknya dari belakang dan menempatkan dagunya di pundak Sofia.Aroma sabun mandi yang segar menguar dari tubuh athletisnya.Tangannya refleks bergerak mengurai pelukan itu,tapi Fernando malah memeluknya makin erat hingga membuatnya sesak nafas.
"Ayah,saya rasa Sofia hanya salah paham.Ayah taukan kalau putri ayah ini cemburuan dan kelewat posesif?" ulas Fernando dengan senyum menggoda.Arif menarik nafas lega.Dia sudah sempat senam jantung dengan perkataan putrinya tadi.
"Maafkan Sofia nak,dia memang belum pernah pacaran sebelumnya.Makanya saat kalian menikah di jakarta ayah dan para tetangga sangat kaget karena memang sebelumny tidak ada tanda-tanda Sofia dekat dengan seseorang."
"Ayah!!" pekik Sofia tidak terima,namun Arif hanya terkekeh pelan
"hmmm....jadi saya pria beruntung yang mendapatkannya bukan?"
"Kalian sama-sama beruntung." jawab Arif lugas.
"Sekarang,ayo kita makan dulu.Ibumu sudah memasakkan sayur lodeh dan ayam bakar kesukaanmu." ajak Arif sambil berjalan mendahului mereka ke meja makan.
"Lepaskan pelukanmu tuan Fernando." desis Sofia geram.Nando tersenyum smirk sambil melepaskan pelukannya.Dia mengikuti langkah lebar Sofia dari belakang.
Dibawah pengawasan kedua orang tuanya,Sofia terpaksa bersikap manis dan melayani Fernando seolah dia istri terbaik di dunia.Mengambilkan nasi dalam porsi kecil sesuai permintaan Fernando,meletakkan ayam bakar yang aromanya sungguh menggoda dan banyak urap pada piring pria itu,menyerahkannya lalu fokus pada piringnya sendiri.
Sesaat dia terpana saat melirik kesamping.Melihat cara makan Fenando yang tenang dengan ritme teratur,sangat sopan dan elegan.Bahkan dia yang anak perempuan saja kalah darinya.Orang golongan atas memang beda.Dia menggerakkan sendok dan garpu dengan sangat terampil tanpa menimbulkan suara sedikitpun.Posisi tubuhnya juga tegak dan gagah laksana panglima perang dimedan laga.Sadar ada yang memperhatikannya,pria itu menoleh kesamping.Tatapan mata biru ocean itu serasa mebuat Sofia berhenti bernafas,Wajahnya berubah merah karena sudah tertangkap basah memperhatikan Nando.Bergegas Nando meletakkan sendoknya lalu meraih tissu dan membersihkan bibirnya.
"Apa kau minta disuapi sayang?" tanyannya penuh perhatian.Arif dan Karmila yang menyaksikan kemesraan keduanya hanya tersenyum simpul.
"Tidak,aku bisa makan sendiri.Ini juga hampir habis." tolak Sofia gugup lalu buru-buru menghabiskan makanannya.Arif berdiri lebih dulu dan berjalan keruang keluarga yang sangat kecil menurut Nando karena berukuran hanya separuh kamar pribadinya saja.Tapi anehnya dia merasa sangat nyaman disana.Walau kecil,ruangan itu ditata amat rapi dengan beberapa jendela besar yang membuat pencahayaan maksimal sore itu.
Suara ketukan dipintu terdengar.Arif sigap menghampiri dan membukanya.
"owhh nak Herman,mari silahkan masuk." ujar pak Arif sambil membuka lebar daun pintu.
"Apa tuan muda ada pak?"
"permisi tuan muda.Ini berkas yang anda minta.Nyonya tinggal tanda tangan dan semuanya sudah selesai." Herman menyodorkan beberapa lembar kertas pada Fernando.Pria itu mempersilahkan Herman duduk lalu membacanya.
"Sayang,kemarilah." panggilnya saat meihat bayangan Sofia melintas.Wanita muda yang sudah menjadi istrinya itu menghampirinya dengan raut gusar.Sejujurnya Sofia merasa risih saat Nando memanggilnya begitu.Di depan orang tuanya,dia masih bertoleransi...tapi jika ada orang lain,dia menjadi merasa tidak enak hati.
"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu?telingaku terasa sakit mendengarnya." bisik Sofia saat dia duduk disebelah Nando.Pria itu merengut mendengarnya.
"Baik jika itu maumu.Tanda tangani ini."
"Apa ini?"
"Surat pindahmu dinas dan kependudukanmu."
"Untuk apa pindah?aku masih ingin disini." jawab Sofia ngotot.Kenapa jadi begini?padahal dia ingin pulang agar bisa mendapat dukungan orang tuanya dan terlepas dari cengkeraman Fernando.
"Karena kau istriku.Aku tidak menyuruhmu berhenti bekerja karena permintaan ayah dan ibu walau sesungguhnya aku ingin."
"Tapi aku ingin tetap disini dan membantu warga yang membutuhkan.Sangat jarang ada dokter yang mau ditempatkan disini.Apa kau tidak berpikirir bagaimana nasib mereka kalau sedang sakit?rumah sakit terdekat juga berjarak 30km an dari sini,itu akan sangat menyulitkan mereka." bantah Sofia sarkas.Fernando menatapnya tajam penuh rasa tidak suka.Dia tidak suka dibantah oleh siapapun.
"Jelaskan padanya Her." perintahnya ketus.Herman lalu mengambil sesuatu dari dalam mapnya dan meletakkannya di meja.
"Mulai besok,ada dua orang dokter magang dan perawat juga bidan yang akan menggantikan anda dokter.Mereka warga sekitar kecamatan sini yang kebetulan juga mencari tempat praktik.Tuan Fernando merekrut mereka dengan gaji setara dengan anda dan mengikat mereka dibawah kontrak hingga dokter dari pemerintah yang menggantikan anda datang." ulas Herman dengan patuh.Sofia meraih lembaran itu.Ada foto dan biodata beberapa orang yang sebagian dia kenal memang bertempat tinggal disekitaran desanya.
"Bagaimana?apa masih ada yang kau kawatirkan?" Fernando yang kesal masih berbaik hati membuka suara.Andai saja ini dikediamannya di Jakarta,pasti dis tidak berlaku demikian.Tapi dia juga manusia yang dibesarkan penuh tata krama agar menghormati orang yang lebih tua dan berbuat sopan saat bertamu.Maka sebisa mungkin dia menahan diri di depan ayah mertuanya.
Sofia bimbang.Dia melirik ayahnya yang duduk tenang di depannya.Bagaimana dia akan berkata tidak tega meninggalkan dan membiarkan orang tuanya berjuang sendiri menyekolahkan kedua adik kembarnya secara bersamaan?
"Jika itu tentang ayah,ibu dan si kembar..aku sudah membicarakannya dengan ayah tadi.Kau tak perlu risau soal itu." pungkas Nando seolah mengerti arah pikiran Sofia.
"Ayah..."
"Kau sudah menjadi seorang istri Sofia,sudah kewajibanmu mengikuti suamimu.Kami orang tuamu hanya memiliki dirimu sebelum pernikahan,tapi jika sudah menikah,kau adalah hak suamimu sepenuhnya.Kecuali jika dia sudah tidak menginginkamu lagi." tegas Arif.Sofia menundukkan kepalanya,tidak tau lagi mesti berkata apa.