
Hari yang ditentukan tiba. Maya datang ke puskesmas bersamaan dengan Sofia untuk acara pisah kenal. Ada acara khusus yang disiapkan para staf yang tentu saja dengan campur tangan Sofia yang ingin memberi kejutan untuk Maya. Maya yang mengira ini hanya acara formalitas biasa tentu saja sangat terkejut dan bahagia mendapatkan sambutan yang hangat ditempat barunya. Bahkan imej baik yang ditanamkan Sofia pada para staf disana seakan memberi mereka gambaran siapa kepala puskesmas mereka yang baru. Sesuai harapan, acara pisah kenal itu terlihat hangat dan semarak.
"May, kutinggal dulu ya. Kapan-kapan aku pasti kemari untuk inspeksi mendadak. Aku ingin tau kinerja dokter Maya dikampung halamannya." canda Sofia yang dihadiahi cubitan kecil dilengannya.
"Aku juga akan kesana untuk meneliti rumahku. Apa calon dokter spesialis jantung ini bisa menjaga rumahku dengan baik atau tidak." balas Maya. Tawanya berderai. Mereka saling berpelukan erat saat taksi online yang dipesan Sofia tiba di pelataran rumah dinasnya. Nantinya rumah itu akan kembali sepi karena Maya akan tinggal dirumah pribadinya, 1 km dari puskesmas.
"Fia, hati-hati dijalan. Kabari aku begitu kamu sampai." pesan Maya diangguki Sofia. Sopir taksi membantu Sofia menaikkan kopernya ke bagasi lalu menutupnya lagi.
"Terimakasih untuk semuanya May. Aku pergi dulu. Asalamualaikum."
"Walaikumsalam." dan Sofia bergegas memasuki taksinya.
Mobil avanza hitam itu membelah jalanan yang sepi karena masih jam kerja. Kota kecil ini bahkan sudah hampir membuatnya kerasan jika Maya tak menyadarkannya jika waktu pindah sudah tiba. Beberapa minggu disana saja sudah membuatnya hafal jalanan dan tempat-tempat tertentu. Dia pasti akan merindukan tempat ini nantinya. Sofia mengernyitkan dahinya saat merasakan mobil berjalan pelan, tak seperti biasanya. Padahal ini baru 6 km mereka berjalan.
"Ada apa pak?" tanya Sofia penasaran. Kepalanya melongok kedepan. Disana ada kerumunan banyak orang yang otomatis menghambat jalannya lalu lintas.
"Ada kecelakaan bu." jawab si sopir.
"Berhenti pak!" seru Sofia keras.
"Mau apa bu? Apa tidak sebaiknya kita jalan saja.”
" Kita harus menolong mereka." tegas Sofia lalu melompat keluar tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti. Sang sopir hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memarkirkan kendaraanya agar tak mengganggu laju kendaraan yang lain. Dia lalu melangkah lebar menyusul Sofia.
Sofia menyibak keramaian, berteriak agar diberi jalan. Beberapa orang menyingkir memberi ruang pada dirinya. Disana, Dua orang terluka parah dengan tubuh berlumuran darah dan seorang lagi sama sekali tak bergerak. Sofia memeriksa nadinya dan memastikan korban sudah meninggal. Mereka korban tabrakan sepeda motor yang entah bagaimana kronologinya bisa separah itu.
"To....tolong.." kata pria yang berkaos hitam lemah. Lukanya terbilang parah. Apalagi kakinya mengalami patah tulang dengan beberapa robekan disana sini.
"Kenapa tidak telepon ambulans. Mereka butuh pertolongan. Kenapa kalian hanya sibuk bikin foto dan video? mana hati nurani kalian? sekarang cepat bawa mereka ke tepi. Saya akan tolong sebisanya sambil menunggu ambulans.” Teriak Sofia geram. Manusia jaman sekarang mungkin memang sudah kehilangan sisi kemanusiaan dalam dirinya. Yang ada dalam pikiran mereka hanya mempublikasikan sesuatu agar jadi viral tanpa mau berpikir bagaimana jika mereka berada dalam posisi sebagai korban yang hanya jadi tontonan tanpa mendapat pertolongan.
" Kami takut terjadi sesuatu. Kita tunggu polisi saja." celutuk seorang pria yang berdiri di dekatnya. Hampir saja Sofia berteriak saking kesalnya jika ekor matanya tak melihat seorang pria berkemeja putih datang membawa sesuatu ditangannya dan langsung menggambar bentuk seperti posisi korban, sepedanya juga yang sudah meninggal lalu berdiri tegak dan berteriak lantang.
"Sekarang tidak ada alasan untuk tidak menolong bukan? Mari angkat dan tepikan mereka. Ini kecelakaan, bukan tontonan." Suara-suara kembali mendengung dikanan kiri, tapi pria itu tak peduli. Dia bergerak mengangkat salah satu korban kebawah pohon agasia dan menidurkannya disana. Saat menoleh, dia melihat beberapa warga membantu mengangkat korban lain kesana. Dia sedikit bernafas lega. Sofia segera memberikan pertolongan pertama pada lelaki paruh baya yang masih tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudin si pria tersadar. Sofia menghela nafas lega.
Saat dirasa kondisi orang yang ditolongnya membaik dan bisa duduk, lagi-lagi ekor matanya menangkap hal aneh. Pria berkemeja putih tadi dengan cekatan menolong korban berkaos hitam yang mengalami patah tulang dengan sangat baik. Sempurna malah. Hanya dengan peralatan seadanya dia membuat pasien tenang dan tak lagi berteriak.
"k....kau.." belum sempat rasa terkejutnya, suara sirne ambulans mendekati mereka, merubah fokusnya.
"Syukurlah anda sudah menolong mereka dokter." kata seorang perawat yang menaikkan para korban ke ambulans.
"Anda kenal saya?"
"oewhh...maafkan saya pak. Mungkin saya lupa."
"Tidak masalah dokter." Setelah berterimakasih mereka berlalu pergi tentu saja dengan laju kencang seperti ambulans pada umumnya. Sesaat kemudian mobil dengan sirine lain datang. Kali ini polisi. Pria berkemaja putih tadi menjelaskan kronologi kejadian dibantu para warga. Mata Sofia tak berkedip menatapnya.
"Mari bu." Sofia tersentak dari lamunannya.
"ehh..ohh.. iya pak." Sofia berjalan msndahului pria berkemeja putih itu menuju mobil mereka. Dia masuk lalu duduk ditempat awalnya dengan mata tetap menatap pria yang sudah mengambil duduk dibalik kemudi. Mobil kembali berjalan.
"Hmmm...maaf pak, apa anda seorang tenaga medis? dokter atau perawat misalnya? ehh ..maksud saya enggg..." Mau bertanya tapi takut salah paham. Pria tadi terkekeh geli dan menatap dalam Sofia dari kaca depan.
"Saya hanya sopir taksi biasa bu."
"Tapi anda terlihat sangat ahli tadi..."
"ahh itu karena saya aktif di PMR dari remaja bu.”
" hmmm tapi pak..."
"Anda dokter bukan?" potong pria itu cepat. Sofia mengiyakan. Jelas dia tidak bisa menyanggahnya karena tadi pria itu menjemputnya dirumah dinas.
" Pindah tugas?" tanyanya lagi. Sofia hendak protes. Tapi bibirnya terasa kelu.Dia yang bertanya kenapa pria ini malah balik menanyainya? sesaat mata mereka bertemu. Mata itu begitu bening dan teduh. Bolehkah Sofia sedikit terlena dengan bola mata itu?
"Dokter....."
"ehhh iya pak..saya...ehh...saya disana uma menggantikan teman saya tadi." dia tergagap seperti biasa.
"Lalu tugasnya?" Sofia menjawab singkat merujuk rumah sakit tempatnya bekerja. Tak terasa percakapan mereka mengalir walau dengan nada dingin dan terbilang formal. Sofia selalu menjawab ertanyaan si pria tanpa bisa menolak. Tak terasa dua jam berlalu.
"Kita sudah sampai dok." Sofia melongo kaget. Apa tadi dia benar-benar terjabak pada pesona sepasang bola mata itu hingga tidak sadar jika merekan telah sampai di depan rumah Maya? pria tadi sudah turun dan membuka bagasi mobilnya. Mau tidak mau Sofia turun.
"Ini kelebihan bu."
"Tidak apa-apa. Buat bapak saja. Anggap saja ini rizki untuk anak istri dirumah." kata Sofia pahit. Sungguh dia berharap pria itu membantah perkataannya. Dia memang melebihkan sebagai tips karena pria tadi mau menolong.
"Terimakasih dok. Sampai berjumpa lagi. ohh ya..nama saya Yusuf. Anda..."
"Saya Sofia." mereka berjabat tangan sesaat lalu Yusuf kembali ke mobilnya.
"