Dear Husband

Dear Husband
Ambil darahku



Nando maupun Sofia baru saja selesai mencium tangan orang tuanya akan berpamitan saat ponsel ditangan sang tuan muda berdering.


"Bella." gumam Nando membaca nama sang penelepon. Sofia hanya melirik suaminya sekilas dan membiarkannya menerima telepon dari iparnya itu.


"Sayang kita harus segera pulang. Elle kecelakaan." lirih Nando namun masih bisa didengar oleh mertuanya.


"Elle itu putrinya nak Nando kan? kenapa dia nak?" tanya bu Arif terkejut. Walau dia belum pernah melihat Elle tapi dari cerita putrinya dia jadi tau jika Elle adalah putri Emma, mandiang istri menantunya. Jika Sofia bisa menerima anak yang sama sekali tak punya hubungan darah dengan dirinya maupun suaminya itu sebagai anaknya, maka dia juga akan menganggap Elle adalah cucu mereka juga.


"Dia ditabrak seseorang saat menyeberang bu. Maaf kami harus segera ke bandara. Kami pamit yah, bu...asalamualaikum."


"Walaikumsala, Ohh ya Tuhan...semoga Elle cepat sembuh nak." ucap kedua orang tua Sofia itu hampir bersamaan. Nando hanya mengiyakan dan mencium tangan itu takzim lalu masuk ke mobilnya. Sofia masih melambaikan tangannya meski sudah melewati pagar rumah. Berat rasanya meninggalkan kembali orang tua dan kampung halamannya. Tapi dia tetap seorang istri yang wajib berbakti pada suami. Apalagi sekarang Elle baru saja kecelakaan. Sebagai seorang ibu dia harus ada untuk anak-anaknya.


Satu setengah jam mengarungi dirgantara dalam tubuh burung besi yang membawa mereka semua kembali ke kediaman Hutama membuat Sofia tampak kelelahan. Empat jam perjalanan darat sebelum sampai bandara tadi adalah pemicunya. Nando yang awalnya mengajak Sofia pulang dulu untuk istirahat mengurungkan niatnya karena sang istri bersikeras langsung ke rumah sakit. Jadilah mereka langsung menuju rumah sakit terbesar milik keluarga Hutama itu.


Dari lorong pertama, Sofia dan Nando bisa melihat Bella yang mondar-mandir tidak jelas karena gugup, sedang Alex memilih duduk tenang dikursinya, mengabaikan sang istri yang tak bisa tenang dari tadi.


"Bagaimana keadaan Elle, Bel?" Sofia langsung menginterogasi sang ipar saat mereka sudah dalam jarak dekat. Mereka hanya bisa menatap Elle yang terbaring tak berdaya dengan beberapa selang infus ditubuhnya.


"Kak, Elle kehilangan banyak darah. Rumah sakit sedang mengusahakan donor karena persediaan darah yang sesuai habis." jelas Bella.


"Apa sudah dicari ke rumah sakit lain?"


"Sudah, tapi hasilnya nihil." sahut Bella lirih.


"Siapa dokter yang menanganinya?" kali ini Nando bersuara juga. Kepanikan Sofia membuatnya sama sekali tidak tenang.


"Dokter Sarah." Alex juga ikut bicara karena melihat istrinya jadi blang saat panik.


''Panggil Sarah kemari Lex." perintahnya tegas, membuat Alex bergegas pergi ke arah dokter jaga yang menangani Elle. Beberapa saat kemudian pria berbadan tegap itu kembali bersama sang dokter.


"Ohh...selamat siang tuan muda, dokter Sofia." sapanya ramah. Pasangan suami istri itu mengangguk.


"Carikan donor secepatnya dokter! Ini perintah. Dapatkan bagaimanapun caranya atau kau akan diberhentikan dua puluh empat jam dari sekarang." Ancam Nando yang sudah pasti membuat wajah dokter sarah pias. Matanya mengerjab panik.


"Mas!! jangan main perintah semaumu. Kau pikir mudah mencari sekantong darah?" protes Sofia lirih namun tajam.


"Sayang, mereka digaji untuk bekerja. Bukan enak-enakan di dalam ruang ber AC." lagi-lagi Sofia mendelik kesal pada suaminya. Sebagain sesama dokter dia amat tau bagaimana rasanya berada di bawah tekanan saat ada keluarga pasien yang mengintimidasi dimasa kritis.


"Ehm...apa golongan darah Elle dok?" tanya Sofia lembut, tak ingin dokter Sarah makin panik mendengar ancaman suaminya tadi.


"B dokter." jawab dokter Sarah dengan suara bergetar. Jelas sekali dia masih schock karena Fernando.


"Tidak boleh!!" potong Nando cepat. Netra biru lautnya berkilat marah.


"Mas...tolong ijinkan aku. Elle dalam bahaya." ucap Sofia memelas. Bahkan mata wanitanya sudah berkaca. Tapi Nando sudah mengeraskan wajahnya. Sang tuan muda tidak akan merubah keputusannya.


"Kau sedang hamil Sofia. Aku tidak akan membiarkan calon anakku dalam bahaya." sarkasnya kemudian. Sekarang tak hanya Sofia yang terperangah, tapi Bella dan Alex yang terkejut mendengar kabar baik dari sang ipar. Alex menahan tangan istrinya yang hendak maju mengucapkan selamat. Sekarang adalah moment yang tidak tepat untuk berbagi kebahagiaan.


"Mas...tolong ijinkan aku...kumohon..."


"Kau tidak akan melakukannya Sofia!!" sentak sebuah suara yang tiba-tiba bergema keras disana. Seorang wanita paruh baya berjalan anggun mendekat diikuti dua orang pengawal.


"Mama...." gumam semua orang takjub. Siapa yang menyangka jika sang nyonya besar akan hadir disana tanpa pemberitahuan?


"Iya, ini aku. Jangan pernah melakukan apapun untuk anak haram itu." ujar Fransisca tegas.


"Mama!!" pekik Nando dan Sofia bersamaan. Tatapan keduanya setajam tatapan Fransisca yang berapi-api.


"Siapapun yang membantunya akan dicoret dari daftar ahli waris keluarga Hutama." lanjut sang nyonya besar lagi. Mata Sofia melebar. Sebenci itukah sang mertua pada Elle hingga mengeluarkan ancaman sejahat itu?


"Mama...Elle adalah anak kami. Sudah sepantasnya kami membantunya." lirih Sofia memecah keheningan dan aksi saling pandang ibu dan anak itu.


"Dia bukan anak kalian."


"Kalau begitu biarkan kami melakukannya demi kemanusiaan mama." Sofia sudah mulai kehabisan kata-kata. Aura kepemimpinan yang sarat ketegasan dari Fransisca sedikit banyak sudah mengintimidasi mentalnya. Sang mertua memang tak bisa dibantah. Jangankan dia, manusia searogan suaminyapun dipaksa tunduk dibawah pengaruhnya.


"Jangan berpikir kalau aku akan menurutimu karena kau adalah ibu Rafael. Aku bahkan tak akan segan mencoret namamu dari kartu keluarga Fernando jika kau nekat melakukannya."


......degh....


Darah Sofia tersirap karena perkataan sang mama mertua. Hidup tak selamanya melulu soal harta bukan? dengan mengatakan akan mencoret namanya dari kartu keluarga berati sama dengan dia akan dipisahkan dari Fernando. Sisi kemanusiaan Sofia menjelma. Tak ada gunanya memohon pada manusia yang tidak punya hati.


"Jika mama mau memisahkan kami, pisahkan saja. Dari awal saya tidak mempermasalahkan kekayaan keluarga Hutama mama. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada keluarga ini tentunya. Untuk apa punya segalanya jika kita tak bisa menolong sesama? maaf, saya tidak bisa ma, Tapi jika mama akan memisahkan kami, bukan seorang istri yang akan berpisah dari dari suaminya, tapi juga seorang bayi tak berdosa dari ayahnya sebelum dia dilahirkan kedunia. Apa mama tega?" tanya Sofia penuh tekanan. Fransisca menatapnya tajam.


"Bayi? kau hamil?" tanyanya memastikan. Sofia hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari sang mertua.


"Katakan apa golongan darah anak itu dokter?" tanya Fransisca pada dokter Sarah yang sedari tadi hanya sibuk menelepon mencari bantuan kesana kemari.


"Maaf..maafkan saya nyonya. Golongan darahnya B." sahutnya terbata. Tatapan tajam Fransisca adalah pukulan kedua baginya.


"Ambil darahku." katanya sambil menarik tangan dokter Sarah yang kebingungan.