
"berarti kau tidak mencintaiku. Begitu maksudmu?"
"cinta? sejak kapan kita bicara tentang cinta?" balas Sofia jengah. Berdekatan dengan Nando terlalu lama malah semakin membuatnya tidak baik-baik saja.
"sejak saat ini." pungkas Nando pendek. Pria itu kembali memangkas jarak diantara mereka. Melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir sang dokter tanpa sempat menghindar. Wajah itu kembali merona.
"hey..kenapa wajahmu semerah ini?" bisik Nando sambil mencubit pipi Sofia gemas.
"aku...tentu saja aku begitu. Kau laki-laki pertama yang menciumku. Kau mungkin sudah mencium ratusan wanita dengan bibir jelekmu itu." Sorot mata Nando tajam melihat Sofia yang bergidik dihadapannya.
"Apa aku sebrengsek itu?"
"mana kutahu."
"kalau begitu jangan menuduh." sentak Nando kesal. Sang tuan muda bahkan memasang wajah keruhnya.
"kau mau kemana?"
"bukan urusanmu." ketusnya lagi. Namun Sofia segera merentangkan tangannya mengahalangi pintu membuat Nando menghentikan langkahnya.
"Minggir!"
"tidak!" sarkas sofia balik berteriak. Nando mengeram kesal. Tangan kekarnya mencengkeram lengan Sofia dan menyingkirkan tubuhnya ketepi. Bergegas pria itu membuka pintu,namun sekali lagi.langkahnya terhenti. Lengan Sofia sudah melingkar erat memeluk pinggangnya dari belakang. Bahkan sang dokter sudah menempelkan tubunnya lekat dipunggung tuan muda Hutama itu.
"Jangan pergi. Tetaplah disini." bisik wanita muda itu lemah. Tubuh Nando menegang. Dutariknya nafas panjang lalu menyentuh lengan Sofia lembut.
"Tidak ada alasan aku tetap disini."
" Dokter Sam bilang kau dehidrasi. Panasmu juga barusan turun. Tetaplah disini karena ini juga kamarmu."
"Aku bisa tidur dimanapun."
"Baik. Aku akan ikuti kemanapun kau pergi." terdengar tawa sumbang dari bibir Fernando.
"Itu karena aku masih kaya raya dan punya segalanya." sindiran keras yang menohok kedalaman hati Sofia. Bagaimanapun jiwanya memberontak. Dia bukan wanita materialistis seperti tuduhan Nando.
"Ya. Aku cukup tau jika bertahan hidup diluar sana sangat berat. Jika ada kesempatan emas, bagaimana mungkin aku menolaknya. Aku tinggal menunggu waktu dan mencari cara agar semua yang jadi milikmu akan menjadi milikku pula." jawab Sofia acuh.
"wanita...dimanapun dia sama." entah sejak kapan amarah menguasai dada Fernando. Tanpa terasa tangan sang tuan muda sudah terkepal erat disaping tubuhnya.
"Jadi ...apa kau setuju menceraikan aku?"
"Tidak!!!" kali ini teriakan Fernando menggema diseluruh kamar. Sofia sampai berjingkat kaget karenanya. Tak hanya berhenti sampai disitu, tubuhnya bergetar saat melihat darah mengucur dipunggung tangan Nando. Pria itu dengan kemarahan hebat memukul kaca almari sekuat tenaga hingga hancur berantakan. Beberapa pecahan kaca bahkan masih menancap disana, namun dia seperti tak merasakannya.
"maaaasss!" pekik Sofia tertahan. Bergegas dia memburu Nando yang masih berdiri kaku dikuasai emosi disana. Sang dokter meraih tangan kanannya dan mencabut pecahan kaca yang menancap disana.
"Apa yang kau lakukan mas?" panik, wanita itu berlari menuju kotak obat dipojok ruangan.
"Kau mau apa?"
"mengobatimu."
"Jangan keras kepala. Lihat, lukanya sangat dalam."
"diam! tak usah pedulikan aku!"
"Bagaimana bisa? aku seorang dokter. Aku tidak mungkin membirkanmu begini."
"Aku akan panggil Sam." Nando kembali melangkah, namun lengannya ditarik Sofia kuat. Sang dokter memeluk tubuhnya hingga tak bisa bergerak, menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu setengah memaksa, merasakan detak jantung tak beraturan disana.
"Kau lupa aku juga istrimu." bisik Sofia lirih.
"Lepas kataku!" Bukannya melepaskan pelukannya, Sofia malah spontan meraih wajah Nando dan melabukan ciuman pada bibir penuhnya dengan sepenuh hati. Setetes air mata jatuh dari ujung matanya, membasahi pipi Nando juga. Menyadari sang istri menangis membuat pria keras kepala itu terkesiap. Yang dia lakukan selanjutnya hanya membalas ciuman itu tak kalah lembut seakan berkata jika semuanya akan baik-baik saja.
" Kau pikir aku melakukannya karena itu? kau salah mas. Bahkan aku tidak pernah memakai uangmu untuk keperluanku sepeserpu jika bukan Bella yang memaksaku. Aku juga tidak pernah memakai fasilitasmu jika bukan kau sendiri yang memaksaku. Apa yang kuinginkan darimu mas? rumah ini? aku tidak berminat sama sekali. Tangan dan kakiku masih genap untuk bisa hidup mandiri. Jika kau tidak mencintaiku...tolong jangan sakiti hatiku dengan tuduhan keji itu." kata Sofia tepat diatas bibir Nando yang masih setengah menempel dibibirnya. Kedua tangannya mengelus pipi Nando lamat. Air mata yang tak tau diri tiba-tiba terus meluncur dipipi mulus Sofia. Berulang kali wanita muda itu menyekanya, namun tetap saja sang air mata meluncur dari kelopaknya.
"ssssssttt...diamlah. Aku tau itu." Tangan kiri Nandon mengusap deraian air mata itu dan mengecup kedua mata Sofia yang menutup matanya, meresapi tiap perlakuan lembut sang suami.
"Tak bisakah kau mencintaiku Sofia? Tak bisakah kau mengajari aku arti cinta yang sesungguhnya hingga aku percaya apa itu cinta?"
"Kita bicrakan nanti. Darahmu semakin banyak keluar mas. Butuh penanganan." potong Sofia kembali dengan wajah resah. Wanita muda bertubuh semampai itu mengurai pelukan Nando lembut lalu mengajaknya duduk disofa. Belahan dicabutnya pecahan kaca yang menempel disana. Tak seperti menangani pasien seperti pada umumnya, kali ini tangannya gemetar dan hatinya merasakan perihnya.
Tak ada keluhan ataupun teriakan dari bibir Nando. Lelaki itu tetap diam kendati lukanya bisa dibilang dalam dengan darah yang lumayan banyak. Pun saat Sofia meneteskan obat padanya, dia hanya diam. Padahal jika itu orang lain, mungkin mereka akan berteriak. Cekatan sang dokter cantik menghentikan pendarahannya dan memasang perban.
"Apa ini sakit?" Nando hanya menggeleng tak bersemangat.
"Sekarang minum obatnya mas. Ini ditambah satu pil lagi untuk lukamu." Diulurkannya empat buah kapsul pada Nando dengan sebelah tangan memegang gelas berisi air putih.
"Nanti saja."
"sekarang saja, aku takut kau kenapa-napa. Dehidrasi dicampur keluarnya banyak darah dari tubuhmu berakibat tidak baik bagimu."
"Kau seperti sedang khawatir padaku." tangan kirinya menekan remote tv yang kemudian direbut lembut Sofia dan diletakkannya diatas meja.
"Kau suamiku mas. Istri mana yang tidak khawatir jika suaminya sakit dan terluka."
"hmmmm."
"Katakan kau mencintaiku Sofia." ujar Nando seraya menatap tajam mata Sofia yang masih sembab habis menangis tadi.
"Sofia....." tekannya lagi. Tak ada jawaban. Membuat Nando mengendurkan dudukknya dan menatap arah lain, demikian pula Sofia. Dia terlihat bimbang dan salah tingkah. Nanda yang jengah berjalan menuju balkon dan menengadahkan wajahnya kelangit. Melihat bulan yang menggantung dilangit yang hitam pekat dengan gugusan bintang yang menghiasinya. Tetap begitu hingga lagi-lagi sebuah tangan melingkar diperutnya dan kepala seseorang yang menempel dipunggungnya. Jantungnya kembali berpacu dengan tubuh menegang.
"Apa aku pantas mencintaimu tuan Fernando Satria Hutama?"
......................
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Curhat sedikit ya bunsay....☺☺
Lama tidak up dan menyapa kalian membuat author kangen berat. Pengennya up terus tapi terkendala kerusakan akut ponsel yang membuat author recehan ini kalang kabut nyiapin dana untuk beli baru saat anak-anak juga butuh dana masuk sekolah😆😆 hal yang sama saat saya masih menuntaskan novel 'Bukan cinta semusim.' yang penuh godaan sang ponsel😀 Berkat doa kalian dan semua orang, kebeli juga ponsel jadul asal bisa buat nulis judul🤣🤣 Yang penting bisa up dan menuntaskan rindu buat nulis lagi. Jangan lupa dukung terus author Nando-Sofia agar terus berkarya ya......