Dear Husband

Dear Husband
Berani



”Ma, maukah mengajakku jalan-jalan." suara kecil itu membua Sofia tertegun sejenak sebelum meletakkan spatula dan mengelap tangannya. Berlahan, dia mendekati Elle yang sudah berada di pintu dapur luas yang langsung terhubung dengan ruang makan itu. Maria yang menggonceng tangannya lalu mundur sedikit, memberi jarak pada sang nyonya yang sudah pasti akan membungkuk atau berdiri sejajar dengan putri sambungnya itu.


"Elle mau jalan-jalan kemana sayang?" tanyanya sambil merapikan tepi baju Elle yang sedikit tersingkap. Tangannya mrmbelai kepala Elle penuh kasih sayang.


"Ke mall ma. Sudah lama sekali mama tidak mengajakku keluarkan? aku ingin es krim dan kudapan ma."


"hmmmm...bagaimana kalau kita beli es krim dan kudapannya di supermarket dekat rumah sayang?"


"Apa....apa mama malu mengajakku keluar karena aku buta ma?" Sofia menggeleng kuat, meluapkan rasa bersalahnya walau dia tau, Elle tidak akan bisa melihatnya. Air mata sudah menggenang dikelopak mata sang bocah.


"Bukan itu Elle...sungguh mama tidak bermaksud begitu." Bantah Sofia penuh penyesalan.


"Kita tanya papa dulu ya? nanti kalau papa mengijinkan, sepulang kerja mama antar kamu kesana." tukas Sofia buru-buru. Sungguh dia tidak tega melihat raut nelangsa diwajah Elle.


"kerja? mama kerja apa ma? pantas saja mama jarang dirumah. Ternyata mama bekerja. Besok kalau aku bertemu Ling-ling, akan kukatakan padanya kalau mama pergi bekerja, bukan hura-hura seperti katanya. Ling-ling salah ma." Sofia tersentak, dia kelepasan bicara. Elle adalah anak yang sangat cerdas karena mewarisi kecerdasan papanya hingga membuatnya bisa mengingat dan berpikir sangat cepat.


Sofia meraup wajahnya kasar. Kenapa dia sampai kelepasan bicara seperti tadi? Sedang Elle terus berceloteh riang akan melakukan ini itu jika sudah bertemu teman-teman dan sepupunya. Lihatlah nona muda Hutama itu sangat antusias dan gembira saat tau mamanya seorang wanita karier seperti yang ada dalam bayangannya. Dia seolah akan menunjukkan pada dunia jika mamanya wanita hebat yang akan membuatnya bangga.


"Elle, mau kemana?" suara bariton itu menginterupsi celotehan sang gadis kecil. Nando berjalan mendekati mereka berdua.


"papaa.....bolehkah aku pergi ke mall bersama mama?”


" hmmmmm"


"boleh ya pa, mama bilang akan mengantarku sepulang kerja." masih dengan nada riang. Nando melirik ke arah Sofia yang terlihat salah tingkah. Berulang kali wanit yang berstatus istrinya itu meremas jemar tangannya.


"Ya boleh. Tapi nanti setelah mama pulang." jawab Nando tegas. Seketika Elle menghambur ke dalam pelukan sang papa.


"mas...."


"hmmmm."


"Elle hanya mau es krim. Bagaimana kalau belinya disupermarket dekat rumah saja." usul Sofia ragu. Semua terdiam.


"Baiklah, deal ya ma." diluar dugaan, Elle menyetujui saran Sofia. Dia mengulurkan kelingking kecilnya yang langsung disambut secara spontan oleh sang mama.


"hmmm...mama masak apa? baunya lezat sekali." Sofia terkekeh pelan. Elle begitu pintar dan ramah, sangat lain dari papanya yang dingin dan kaku.


" Kalau begitu aku mau sarapan dengan menu masakan mama ya. Ada bau ayam goreng ya ma?” pertanyaan polos itu seketika membuat Sofia tertawa berderai. Dia sangat tau jika Elle adalah penggemar olahan ayam. Dari baunya saja dia bisa tau.


"Ya, beri waktu mama menyiapkannya ya?"


"Kenapa kau memasak? biar pelayan dan juru masak saja yang melakukannya. Kau tinggal menyebutkan menu apa yang kau inginkan. Biar mereka yang kerjakan." ketus Nando dengan tatapan menghujam marah pada dua pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. Kedua pelayan itu ketakutan.


"Aku yang melarang mereka membantuku mas. Aku ingin memasak sendiri menu yang kuinginkan. Bukankah mas bilang aku punya hak mengatur rumah ini? tolong, aku hanya ingin hal sederhana." Nando diam. Dia tidak lupa pada janjinya semalam. Sofia lebih berhak mengatur rumah dan para pekerja rumah saat ini. Namun bukan Nando namanya jika tidak memperlihatkan arogansinya.


"Jangan biarkan nyonya terlalu capek. Kalian akan tau akibatnya nanti." ucapnya cepat dan langsung diiyakan oleh pelayannya.


"Sekarang Elle sama papa dulu." Nando menggendong putrinya dan menjauhi dapur. Dua pelayan yang tadinya berdiri mematung segera bergerak cepat membersihkan dapur, takut akan amarah tuannya.


Lepas dari urusan dapur, Sofia naik ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Diambilnya seragam kerjanya lalu memasang jilbab warna senada. Sneaker yang biasa dipakainya ke rumah sakit sekarang berganti sepatu warna hitam mengkilat dengan hak rendah yang sangat elegan di kakinya.


Pintu terbuka, Nando melangkah masuk. Ini juga waktu untuknya bersiap berangkat. Sebenarnya dia bisa berangkat siang seperti dulu, namun entah mengapa sejak menikahi Sofia kebiasaan itu berubah. Mengantar wanitanya pergi ke rumah sakit adalah jadwal wajib yang tak tertulis diagenda Alex.


"Bisa bantu aku memasang dasi?" Sofia menghentikan aktivitasnya dan segera berdiri. Diterimanya dasi dari tangan Fernando dengan wajah datar.


"Biasanya mas Nando pasang dasi sendirikan?" tangan cekatannya bergerak memasangkannya.


"Itu dulu. Sekarang aku sudah beristri."


"hmmmm....selesai." Sofia segara merapikan krah kemeja suaminya, sedikit menariknya lurus agar terlihat sempurna di dada bidangnya. Aahhh...ya Tuhan, dada itu terlihat kokoh dan hangat. Sofia meneguk ludahnya dengan susah payah.


"kenapa?jangan-jangan otakmu jadi mesum dokter?"


"eehh..apa maksudmu mas?" wajah Sofia merona. Mata Nando yang awas tau jika dia mempeehatikan dadanya. Betapa malunya Sofia kala itu.


'bodoh....bodoohhh!!!!' gerutunya dalam hati. Kenapa bisa jadi begini sih? padahal sebagai dokter dia sudah sangat terbiasa dengan anatomi manusia baik yang besar atau kecil, tua atau muda, laki-laki ataupun perempuan. Tapi kenapa di depan laki-laki ini pikirannya menjadi liar?


"Jangan coba-coba tertarik padaku Sofia, karena kau bukan tipeku." desis pria itu ditelinga kanannya. Lagi, emosinya berkobar. Ini entah untuk kali keberapa Fernando mengucapka kalimat itu didepannya. Harga dirinya sebagai perempuan serasa diinjak.


"Tapi sialnya aku adalah istrimu tuan Fernando. Terlepas dari aku seleramu atau bukan, aku tetap punya hak atas dirimu. Dan aku juga berhak menuntut nafkah batin darimu...suamiku sayang." bisik Sofia dengan berani ditelinga kirinya yang masih dekat dengannya. Tak hanya sampai disitu, Sofia berjinjit dan mencium pipi seputih pualam itu tanpa permisi hingga pemiliknya melotot tak percaya.


Fernando mematung ditempatnya.Tangannya masih meraba pipinya saat Sofia melenggang pergi dari kamar seolah ini ciuman pertamanya yang dicuri orang. Tak ada senyuman atau kemarahan disana. Wajah itu tetap datar tak terbaca. Hanya rona terkejut yang tertinggal. Fernando serasa menjadi anak perjaka yang baru belajar mengenal wanita.