
Maria berjalan mengikuti sang nyonya muda sambil menggendong Rafa yang tertidur pulas. Dibelakang mereka dua bodyguard Fransisca berjalan tegap dengan kewaspadaan tinggi. Tugas berat tengah mereka emban. Menjaga keselamatan menantu keluarga Hutama juga cucu mereka. Pasti masih terlintas dalam ingatan mereka saat Nando mengancam akan menghabisi mereka jika terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Mereka amat tau jika sang tuan muda tak pernah main-main dengan perkataannya.
Fernando memalingkan kepalanya, menghalau air mata yang menggenang di kelopak matanya. Bisa saja air mata itu terjatuh tanpa sengaja. Baru hendak berpisah sebentar dengan istri dan anaknya saja sudah membuatnya sesedih ini. Padahal Sofia sama sekali tak melarangnya untuk datang atau menyiratkan rasa marah dari perkataannya. Tapi entah kenapa semuanya malah membuatnya makin terpuruk? Seolah dia akan selamanya kehilangan istri dan anak-anaknya.
"Sekarang kau boleh pergi." kata fransisca datar. Sorot dingin masih terlukis disana. Fernando yang baru tersadar dari perasaannya meluruskan pandangannya.
"Sebenarnya apa maksud momy melakukan semua ini? Ini tidak akan terjadi jika momy tak membuat pilihan gila yang menyudutkan kami. Sofia selalu menerima Elle ditengah kami dan menganggap Elle adalah anaknya mom. Tapi mom sudah merusak semuanya hanya dalam hitungan jam saja." pekik Nando frustasi. Hilang sudah rasa hormat yang dia pendam pada sang ibu yang dia lakukan di depan Sofia. Tuan muda Hutama itu sudah kembali pada sikap awalnya, sombong dan arogan. Yang dia inginkan, itu yang akan terjadi. Andai tidak ada Sofia disampingnya, pasti sejak tadi dia sudah berteriak atau murka pada mamanya yang sudah menekan perasaannya.
"Apa yang kulakukan? Yang kulakukan adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu pada anak-anaknya." seolah sudah terbiasa dan hafal dengan sikap anaknya, Fransisca memilih tetap bersikap keras.
"Ibu macam apa yang sudah menghancurkan keluarga anaknya? mom sudah sangat keterlaluan!" tangan Nando hingga harus mengepal kuat karenanya. Emosinya sudah benar-benar di ubun-ubun. Sofia pergi tanpa berkata apapun padanya. Lebih baik wanitanya itu marah dan memakinya asal tidak pergi darinya. Dipukulipun dia tak akan melawan, tapi kenapa dia malah memilih pergi dalam kebisuan??
"Kau akan lebih hancur dimasa depan. Bell, tunjukkan padanya apa yang seharusnya dia tau." Bella segera berdiri dan masuk ke kamar Elle. Sedang Nando hanya mengikuti gerakan Bella dengan ekor matanya.
Bella berjalan mendekati ibu dan anak yang terus bersitegang itu, meletakkan selembar foto dan lukisan anak kecil dihadapan Fernando yang langsung menerimanya.
"Perhatikan apa yang sudah anak itu lakukan." sinis Fransisca tanpa mau menjelaskan. Nando menunduk, mengamati sebuah foto keluarganya yang dia buat setahun lalu, saat Rafa baru bisa duduk tegap. Ada dia, Sofia, Elle, dan Rafa di pangkuannya. Tapi anehnya...ada tanda silang dengan spidol merah pada wajah Sofia dan Rafa disana. Dahi Fernando berkerut. Cepat dia menggantikannya dengan lembar berikutnya. Sebuah gambar tangan sederhana versi anak kecil yang menggambarkan dirinya dan Elle duduk berdua dengan lambang cinta yang mengelilingi mereka. Mata Nando hampir melompat keluar saat membaca tulisan yang terpampang disana.
............'My dady is my husband........
"Ini pasti salah paham." desis Nando tak percaya. Baik Fransisca, Bella atau Alex hanya menatap reaksi pria tampan itu. Secepat kilat Fernando keluar dari rumah orang tuanya menuju mobil dan membawanya pergi.
"Apa saya perlu mengikuti kak Nando mom?" tanya Alex dengan nada rendah. Sejak tadi memang dia hanya memilih diam karena kapasitasnya sebagai menantu disana.
"Apa kita tak bertindak terlalu dini mom?" Bella merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, dia adalah orang yang memberitahukan penyimpangan yang dialami Elle pada sang mama angkat. Bukan apa-apa, tapi naluri pengacaranya menyuruh agar dia bertindak lebih awal. Gayung bersambut, Fransisca yang amat menyayangi anak dan menantunya tentu saja dibuat meradang karenanya. Wanita paruh baya itu juga langsung mengambil tindakan cepat sebelum semuanya terlambat.
"Tidak. Anak usia sepuluh tahun yang sudah punya pemikiran seperti itu tidak harus dibiarkan tumbuh dikeluarga ini Bel. Sofia sudah terlalu baik padanya. Mom tidak ingin suatu saat anak itu berulah dan malah akan menghancurkan keluarga Fernando." kata Fransisca dengan nada rendah. Hilang sudah sikap angkuh dan berkuasa pada dirinya. Bagaimanapun dia tetap seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan anak-anaknya.
"Apa mom mau kubikinkan sesuatu?"
"Tidak. Aku akan menunggu Sofia sampai di apartemen dulu, baru aku akan meneleponnya." Bella mengangguk setuju. Dia juga ingin tau keadaan sang kakak ipar yang membuat keputusan tiba-tiba itu. Walau tak terlihat marah atau cemburu, tapi sebagai sesama wanita Bella cukup tau jika Sofia sangat kecewa pada perkataan suaminya. Hanya kesopanan yang dia pegang teguh. Siapapun pasti mengakui jika penguasaan diri wanita itu amat bagus. Kontro emosinya juga stabil. Bella seperti melihat Fransisca dalam dirinya.
Yang mereka pikirkan malah sudah sampai ke apartemen lebih dulu karena melalui jalan pintas. Maria segera ke kamar sang majikan dan meletakkan tuan kecilnya ke atas ranjang king size dikamar utama itu. Selanjutnya dia membantu nyonya mudanya yang barusan menerima dua koper dari kediaman Fernando atas perintahnya. Maria juga harus berbenah karena Sarla juga sudah membawakannya baju ganti di dalam tas besar miliknya. Benar-benar sahabat setia.
"Nyonya...apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Maria hati-hati. Diamnya Sofia sudah menunjukkan jika sang nyonya memendam masalah besar. Sofia menoleh padanya.
"Tidak Maria. Istirahatlah." jawabnya lugas, tersenyum getir pada sang baby sitter.
"Jika nyonya membutuhkan apa-apa, saya siap dipanggil. Selamat malam nyonya." Maria segera menutup pintu kamar majikannya lalu memasuki kamarnya sendiri di dekat dapur.
Sofia menjatuhkan dirinya disamping Rafa. Menciumi anak lelakinya yang hampir menginjak dua tahun. Tidurnya amat pulas hingga sama sekali tak terganggu oleh ciuman sang momy. Sebulir air mata lolos dari kelopak mata sang dokter. Ditahanpun percuma, malah akan semakin menyesakkan dadanya.
"Kita harus belajar hidup tanpa dadymu nak." bisiknya sambil kembali menciumi pipi putranya. Sebelah tangannya menekan dadanya yang terasa nyeri. Menangis...ya, dia butuh menangis malam itu, jika perlu berteriak sekencang mungkin hingga beban dalam dadanya menghilang. Ternyata begini rasanya di duakan walau dengan orang yang sudah meninggal. Mana janji Fernando untuk lebih memilihnya dari pada Emma. Sofia sama sekali tak bisa membayangkan andai kata wanita itu benar-benar masih hidup seperti kejadian dalam mimpinya. Sudah tiadapun dia masih harus hidup dibawah bayang-bayang wanita itu.