Dear Husband

Dear Husband
Penangkapan



"Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah mencelakai suamiku Mimi!!" tatapan tajam Sofia juga penekanan dalam tiap kata yang dia ucapkan membuat semua orang merinding dibuatnya. Sesuatu yang bahkan tak pernah dilakukan nyonya muda keluarga Hutama itu terjadi hari ini. Marah, berkata kasar dan memanggil seseorang langsung pada namanya. Mimi menunduk dalam.


"Apa yang kau inginkan dari semua ini Mimi?" suara rendah Sofia bahkan bisa membuat semua mata menatap pada satu titik di depan mereka. Wanita paruh baya berseragam maid yang berdiri sambil menundukkan kepalanya. Wanita yang sudah dua belas tahun lebih mengabdi di kediaman Fernando.


"Apa salahku juga mas Nando padamu?" lirih Sofia penuh penekanan.


"Apa maksud anda nyonya?" kali ini Mimi mendongak, menatap nyalang pada Sofia yang juga terlihat garang di depannya. Sofia tersenyum sinis.


"Masih saja pura-pura tidak tahu? Mimi, lihat...racun ini, kau membelinya selama tiga kali berturut-turut dari orang yang sama." Sofia menunjukkan botol tadi ke hadapan Mimi.


"Anda tidak bisa asal menuduh nyonya muda." bantah Mimi datar. Ingin rasanya Sofia meremas mulutnya yang sudah pintar menjawab. Dia tak seperti bi Mimi yang biasanya penurut dan patuh.


"Asal menuduh? lihat ini. Baca dengan baik! ada namamu yang tertera sebagai pembelinya. Dan ya, tentu saja masih ada sidik jarimu di botol itu bukan?"


"Saya tidak mengerti maksud anda nyonya. Saya sama sekali tak tau apa isi botol itu." Tentu saja Sofia dibuat meradang karenan sikap Mimi yang tetap saja pura-pura tidak tau dengan kejadian keracunan yang dialami Fernando.


"Kau tidak tau? ah...bibi Mimi yang terhormat, menurut data ini kau pernah bersekolah di akademi farmasi pada jamanmu. Mustahil jika kau tak tau."


"Saya bahkan tak sampai lulus nyonya. Hanya sampai semester tiga saja." kilah Mimi yang mulai terlihat berani melawan dengan menjawab semua tuduhan Sofia padanya.


"Hmmm baiklah. Bagaimana dengan ini." Sofia menghadapkan layar laptop yang memutar rekaman cctv yang mereka tonton tadi. Disana terlihat jelas saat seorang kurir menyerahkan paket kecil yang diterima langsung oleh Mimi. Wanita itu segera memasuki rumah setelah memastikan semuanya aman. Pada scene lain, tampak Mimi yang meneteskan racun itu pada minuman yang disuguhkan pada Fernando. Tak hanya sekali, tapi sudah tiga kali Mimi mencampurkan.


"Apa yang bisa kau jelaskan soal ini bibi Mimi?" Kali ini Mimi terdiam. Dia menatap semua yang ada di ruangan itu satu persatu. Tapi mereka semua sama, juga balik menatapnya penuh tanda tanya.


"Jangan kau kira aku tidak tau jika kau yang sudah memanfaatkan Elle untuk menyalah gunakan kasih sayang yang aku maupun mas Nando berikan. Kau bahkan menceritakan hal yang tak seharusnya anak malang itu dengar tentang kisah orang tuanya. Kau juga yang sudah menanamkan obsesi untuk mencintai Fernando di hati bocah yang bahkan belum waktunya mengenal cinta. Bi Mimi dengar...kaulah yang paling bersalah atas meninggalnya Elle. Dan satu hal lagi...racun ini, racun yang sama yang ingin kau gunakan untuk meracuni putraku melalui tangan Elle. sekarang kutanyakan padamu ....apa yang kau inginkan dari semua ini??"


"Balas dendam." jawab Mimi berani. Kilat amarah bahkan bersinar di matanya.


"Karena kau...kau merebut posisi Emma. Seharusnya bukan kau, tapi Elle lah yang layak menggantikan nyonyaku." kata Mimi tegas tanpa takut seperti tadi. Dia seolah berubah menjadi wanita dengan kepribadian ganda.


"Kau...kau gila Mimi!!" sentak Sofia berang. Hampir saja tangannya melayang menampar wanita paruh baya itu, namun tangan Bella sudah lebih dulu menahannya.


Bagaimana Sofia tak marah? secara tidak langsung Mimi lah yang menghancurkan hidup Elle. Dia juga yang sudah menimbulkan kesalah pahaman antara dirinya, Fernando dan Elle. Mimi adalah musang berbulu shaund the sheep yang menyelinap tanpa disadari oleh siapapun di rumah itu.


Sofia menatap Bella tajam hingga Bella menurunkan tangannya dan memberi isyarat agar dia menoleh kebelakang. Lagi dan lagi Sofia dibuat terkejut melihat Shandy yang berjalan sambil mendorong kursi roda yang di duduki Fernando yang masih terlihat lemas. Disampingnya, seorang perawat mengikutinya sambil memegang infus ditangannya.


"Shan, kenapa membawanya kemari? Kondisinya....."


"Kak Nando bersikeras ingin pulang begitu sadar dan tau kau kembali ke rumah." potong Shandy cepat. Dia tau jika di rumah itu sedang dipenuhi ketegangan. Dia sempat mendengarnya dari balik pintu tadi.


"Aku mempertahankamu tetap bekerja di rumah ini karena aku percaya kau bisa berubah Mimi. Aku juga tau kau masih tak bisa menerima jika majikanmu telah tiada. Tapi mencelakakan anak dan cucuku adalah sebuah kejahatan besar yang tidak bisa kumaafkan." tegas Fransisca dingin.


"Saya tidak butuh maaf anda nyonya besar yang terhormat. Memangnya siapa kau hingga berani menghina nonaku? Emma bahkan lebih baik dari siapapun! Dokter ini...dia bahkan tak pantas mengantikan nona. Tak ada cantik-cantiknya sama sekali." teriak Mimi penuh emosi. Ya, dia adalah pembantu khusus yang dibawa mendiang Emma ke rumah itu untuk menjadi pelayan pribadinya. Hutang budi adalah faktor utama pembelaan yang dilakukan wanita itu atas nama kesetiaan.


.....plakkk......


Sebuah tamparan kuat mendarat diwajah Mimi hingga sudut bibirnya berdarah. Wanita itu kembali menyeringai. Fransisca berdiri angkuh dihadapannya, sama-sama menyeringai.


"Jangan berani menyamakan menantu keluarga kami dengan nonamu yang pelacur itu Mimi hitam! kau..sesuai namamu sebaiknya kau masuk saja ke dunia kartun dan menjadi penyihir jahat yang memusuhi gober bebek yang kaya raya untuk mendapatkan keping keberuntungannya. Sayangnya, di komik atau di novel kau selalu kalah." Fransisca tersenyum smirk. Nenek tergaul seantariksa itu tiba-tiba ingat kisah komix gober bebek yang sering dibacanya di masa lalu saat ingat nama Mimi.


"Lex, suruh polisi masuk dan menangkap penyihir jahat ini." dan tanpa diperintah dua kali Alex sudah membuka pintu lebar-labar agar petugas kepolisian yang sudah datang bisa masuk dan menangkap Mimi yang tetap terlihat galak, tanpa penyesalan. Tak lupa memberikan bukti kejahatan Mimi pada mereka. Fransisca dan yang lain sontak beegerak ke pintu keluar, ingin menyaksikan Mimi yang dibawa pergi dari sana.


"Sofia jangan pergi." lirih Fernando seraya memegang tangan Sofia yang hendak beranjak dari sisinya.