Dear Husband

Dear Husband
Percakapan



Elle sudah terlelap beberapa menit lalu usai Sofia menamatkan cerita putri salju dan para kurcacinya. Bibir gadis itu tersenyum manis. Jemari Sofia terulur membenahi selimut di tubuh Elle. Disamping kanannya, Nando sang papa masih terjaga sambil memangku laptopnya, menyelesaikan beberapa laporan yang diinput Alex tadi siang. Seharian ini, papa muda itu memang menghabiskannya dengan bermain bersama Elle.


" Mau kubuatkan kopi?" tawar Sofia lirih karena takut Elle terbangun. Pria disampingnya itu melirik sekilas kemudian mengangguk. Sebenarnya dia bukan peminum kopi, tapi dia harus menyelesaikan pekerjaannya malam itu juga.


Sofia bergerak berlahan menuruni ranjang lalu menuju dapur, membuatkan kopi hitam untuk suaminya. Dia tau, membuatkan Nando kopi malam-malam seperti ini tidak baik untuk kesehatannya, tapi sejujurnya dia tidak tega juga melihat pria itu menguap beberapa kali namun masih mencoba bertahan.


"Mau diletakkan dimana?" tanya Sofia dengan secangkir kopi ditangannya. Sekilas dia melirik jam dinding, masih jam sembilan lewat.


"Letakkan saja di meja." Tanpa banyak kata sofia menuju meja dengan sebuah sofa panjang disana. Nando turun membawa laptopnya dan menuju kesana.


"Sebaiknya basuh muka dulu mas. Pasti lebih fresh." celutuk wanit tinggi semampai itu.


"Nanti saja."


"hmmmm"


"mau kemana?"


"tidur."


"Kau sudah mengantuk?" Mata Sofia mengerjab. Memang dia belum mengantuk saat ini. Pekerjaanya sebagai dokter membuatnya terbiasa terjaga semalaman atau tertidur diwaktu yang tak lazim.


"Aku takut menganggumu."


"kemarilah!" Nando menepuk tempat kosong disebelahnya.


"Apa tidak menganggumu?" tanya Sofia ragu. Dia tau pria seperti Nando menyukai ruangan yang tenang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Nando menggeleng, membuat Sofia berani melangkah dan duduk disebelahnya.


"Aku hanya meneliti laporan Alex, bukan mengerjakan laporan keuangan." ucapnya tenang sambil menyeruput kopinya. Lama pria itu terdiam sambil mengecap lidahnya pelan. Ada rasa berbeda dari kopi yang diminumnya.


"Kenapa?tidak enak?" Sofia yang menangkap gelagat aneh pada Nando merasa perlu bertanya. Dia tidak mau dituduh meracuni sang tuan muda, walau kadang dia ingin malakukannya karena tidak tahan dengan kata-kata pedasnya.


"Kenapa terasa lain?"


"Itu kopi buatan ibu di kampung. Kopi instan tidak baik bagimu karena kadar kafein yang tinggi. Kami membuatnya dengan banyak bahan campuran yang menurunkan kafein didalamnya. Tidak sehat-sehat amat sih, tapi lumayan mencegah kecanduan. Jangan diminum kalau tidak suka." Tangan Sofia terulur untuk mengambil cangkir ditangan Nando, tapi pria itu malah menjauhkannya dari jangkauan Sofia.


"No! aku suka aroma jahenya." tolaknya tegas.


"Syukurlah."


"Temani aku meminumnya." katanya singkat, sambil kembali melanjutkan aktivitasnya. Sofia mengangguk, dirogohnya saku baju tidurnya lalu mengeluarkan ponsel pemberian Nando. Menemani pria itu akan membutnya jenuh jika hanya berdiam diri disampingnya.


Beberapa kali Sofia membalas pesan rekan-rekannya di puskesmas dulu. Banyak cerita lucu yang mengalir dari chating mereka, membuatnya tertawa kecil walau sedikit ditahan.


"Selesai." bisik Nando sambil menutup laptopnya dan bergerak meregangkan otot-otot tubuhnya.


"secepat itu?” tanya Sofia heran. Padahal dia sempat melirik tadi. Alex bahkan mengirimkan file yang lumayan banyak pada Nando. Tapi kenapa bisa selesai secepat itu?


" Ini semacam memberi obat flu pada pasienmu. Sangat mudah."


"hmmmm."


" Semua hal akan terlihat sulit jika dikerjakan oleh orang yang tidak berada dibidangnya dokter." bisik Nando, lalu kembali menikmati kopinya yang muli hangat.


"Aku tau itu." sambung Sofia.


" Apa kau mencintai pekerjaanmu?" Sofia berpaling ke arah Nando.


"kenapa?"


"kau ingin tau?"


"jika kau tidak keberatan." Sofia melepaskan nafas panjang.


"Karena aku hanya anak petani yang untuk lulus SMA saja kesulitan. Saat anak lain menikmati masa remajanya, aku malah sibuk bekerja agar tidak merepotkan ayah dan ibu."


"Lanjutkan." titah Nando.


"Untuk apa? hanya kisah sedih, biarkan aku saja yang mengingatnya." balas Sofia dengan tawa sumbang. Dia tidak ingin dicap mencari simpati dengan mengarang cerita palsu yang didramatisir.


"Tapi aku juga berhak tau karena aku suamimu Sofia. Jangan lupa itu."


"hmmmmmm"


"lanjutkan!"


" Aku bekerja diwarung makan untuk membantu mencuci piring dan bersih-bersih disana sepulang sekolah. Untunglah Pemiliknya baik hati. Selain memberikanku bayaran, dia juga memberiku makan setiap hari hingga aku lulus SMA. Aku nekat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran dan diterima di Surabaya. Ayah dan ibu sempat bingung dengan biaya kuliahku saat itu, namun aku sudah nekat bekerja paruh waktu apa saja walau kadang tidak cukup. Tuhan maha baik, DIA mempertemukan aku dengan sahabat yang baik, dan jadi alasanku pergi ke Jakarta. Aku ingin menghadiri pernikahannya." tutur Sofia dengan mata menerawang. Semua saat-saat tersulit yang pernah dilaluinya seperti rekaman film yang diputar ulang dibenaknya. Seorang mahasiswa kedokteran yang bahkan sama sekali tidak pernah merasakan indahnya kampus dan pacaran karena terlalu sibuk bertahan hidup.


"Dan Tuhan juga maha baik padaku. DIA pula yang mempertemukan kita agar bisa membuat Elle bahagia walau sesaat." sela Nando lirih. Pria itu menyugar rambutnya kasar.


"Apa kau sudah mendapatkan donor mata untuk Elle?" kali ini Nando menggeleng lemah. Tak semudah itu mendapatkan donor yang cocok walau dia punya kekuasaan dan uang yang tak terhingga. Semua anak buah dan koneksinya sudah dikerahkan, namun belum juga membuahkan hasil. Tak terbayang bagaimana trenyuh dalam kalbunya saat melihat putrinya hanya berdiam diri dirumah saat semua anak seusianya tertawa bahagia dan bermain bersama teman-temannya di sekolah.


"Apa kau ada koneksi donor mata?"


"aku akan mencoba menghubungi teman-temanku." balas Sofia. Meski baru beberapa hari menjadi ibu sambung bagi Elle, jiwa keibuannya tidak bisa dipungkiri. Dia sangat menyayangi Elle yang manis, pintar dan penurut.


"Dokter...jika nanti Elle bisa melihat dan mau menerimamu sebagai Sofia, maukah kau berjanji padaku untuk selalu bersamanya?"


"jika tidak?" Sofia menatap manik blue ocean disampingnya penuh tanya.


"Berjanjilah kau akan berusaha membuat dia menerimamu."


"kenapa begitu?"


"Karena tidak ada perceraian dalam hidupku, kecuali maut yang memisahkan." Nando balas menatap netra coklat Sofia dengan tatapan tak terbaca.


"Lalu janjimu padaku?" pertanyaan yang nyaris seperti keluhan.


"Jika kau mau pergi silahkan, tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu..sampai kapanpun!" keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Kau mempertahankan pernikahan ini hanya demi Elle bukan?"


"ya." ada yang berdenyut nyeri dalam rongga dada Sofia.


"Tapi itu dulu." lanjut Nando sambil menyandarkan kepalanya di sofa.


"lalu sekarang?"


"Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Meski aku belum punya alasan untuk mempertahankanmu, tapi pernikahan tetap hal sakral yang harus kita perjuangkan Sofia. Sekarang bukan hanya aku, kau juga orang tua Elle bukan?"


"itu benar."


"maukah kau tetap bertahan hingga maut memisahkan kita?”