Dear Husband

Dear Husband
Untuk Elle



" Asalamualaikum sayang..." ucap Sofia diambang pintu ketika akan memasuki rumah besar nan megah dengan pilar-pilar tinggi yang menyangganya. Elle yang ada di ruang tamu bersama Maria mencoba menoleh kesumber suara.


"Walaikumsalam mama. Kok cepat banget pulangnya ma?" tak menjawab pertanyaan Elle, Sofia berjalan mendekatinya. Seperti biasa, dia berjongkok di depan Elle agar sama tinggi.


"Mama bawakan martabak pesanan kamu. Ada es capucino juga. Elle mau makan sekarang?" gadis kecil itu mengangguk senang.


"Elle mau disuapin papa?" kata Nando seraya menuju meja makan duluan.


"eh, papa ikut pulang juga?" Elle kembali bertanya degan rasa ingin tau yang besar. Gadis itu tau papanya tidak pernah pulang sebelum jam kantor usai.


"Papa ingin makan siang bareng kalian."


"sungguh?" wajah Elle ceria. Baru kali ini juga papanya punya waktu untuk makan siang bersama. Mamanya juga sangat perhatian dan tidak melupakan pesanannya. Bukan seperti hari-hari dulu saat mereka berdua sibuk diluaran dengan aktivitas masing-masing. Bahkan sepanjang hari dia hanya ditemani Maria. Hanya dikediaman tante Bella saja dia merasakan perhatian ekstra karena adik papanya itu murni ingin menjadi ibu rumah tangga tanpa terlibat bisnis keluarga Hutama. Tante Bella juga begitu menyayangi dan memanjakannya dari dulu. Ternyata banyak yang berubah di rumah ini sejak dia menjadi buta. Bukanya dia harus bersyukur karena doa-doanya sudah didengar dan dikabulkan Tuhan walau sekarang dia tak lagi bisa melihat seisi dunia?


Maria segera ke dapur untuk mengambil piring dan gelas. Seorang pembantu dan juru masak juga menyiapkan makan siang dengan tergesa karena ini pertama kalinya tuan dan nyonya mereka pulang dan berkumpul untuk menemani Elle makan. Jika ditanya soal bahagia...ini adalah kebahagiaan mereka juga. Menyaksikan Elle yang menangis karena diabaikan mama dan papanya sangat membuat mereka iba. Putri keluarga konglomerat yang harusnya bahagia malah bernasib menyedihkan. Kasih sayang memang tidak bisa dibeli dengan uang.


Sekretaris Alex datang membawa tiga kotak besar masuk ke rumah. Martabak yang tadi dipesan sang nyonya dalam porsi jumbo, bukan hanya satu,tapi hingga 6 porsi. Majikannya memang tidak akan miskin hanya dengan membeli martabak itu, dalam ukuran jumbo sekalipun. Tapi ini adalah pertama kalinya dalam sejarah keluarga Hutama punya nyonya yang sangat peduli pada pelayan. Yah...Sofia menyuruh Alex memberikan satu porsi untuk penjaga, satu untuk para bodyguard, tak ketinggalan untuk para pelayan wanita dirumah. Sisanya untuk dirinya, Elle dan sang nyonya.


"Silahkan nyonya."


"Terimakasih Maria. Berkumpulah bersama teman-temanmu dan makanlah martabaknya." perintah Sofia dengan lembut.


"Tapi nyonya..."


"Pergilah Maria,ajak yang lain. Saya bisa mengurus meja makan sendiri. Terimakasih sudah bekerja keras untuk kami." Maria masih mematung ditempatnya, tidak berani beranjak dari sana. Peraturan keluarga Hutama adalah pelayan akan berdiri dibelakang kursi majikannya saat makan berlangsung dan tidak boleh pergi sebelum acara makan selesai. Itu peraturan turun-temurun yang harus dipatuhi dirumah besar ataupun dikediaman putra-putri mereka karena semua pelayan yang bekerja di rumah Nando adalah mantan pelayan orang tuanya yang dididik langsung oleh mereka.


Sofia menghela nafas begitu melihat tiga pelayan rumah dan sekretaris Alex masih mematung ditempatnya. Sesungguhnya dia merasa risih jika dituggui saat makan. Dia bukan seorang nona muda yang punya gaya hidup sendiri. Dia hanya anak petani kampung yang tidak terbiasa menutup mata pada kehadiran orang lain, walau itu pelayan.


"Bisa kau suruh mereka pergi? aku risih." bisiknya pada Nando. Tapi pria itu terlihat cuek dan pura-pura tak mendemgar apa-apa. Dia malah sibuk membuka kotak martabak Elle. Sofia geram.


"Mas!!" pekiknya setegah emosi karena merasa diabaikan. Nando mendongakkan kepalanya.


"Apa?"


"Kau tidak dengar permintaanku?"


"memintalah dengan benar."


"maksudmu?"


"Sayang, bisa kau suruh mereka pergi? aku mau makan bertiga saja disini." ujarnya memelas. Nando menyeringai, menoleh pada Alex dan para pelayannya.


"Kalian dengar perkataan nyonya? sekarang pergilah! aku akan memanggil kalian jika makan siang kami selesai."


"Baik tuan muda.” jawab mereka serempak lalu bubar menuju ruang belakang. Hanya Alex yang pergi ke depan rumah, menuju gazebo besar disana.


Sepeninggal mereka, sofia memotong-motong martabaknya lalu mulai menyuapi Elle. Gadis cilik itu memakannya dengan lahap. Beberapa kali putri Nando itu berceloteh riang dan terlihat sangat bahagia.


Ada secercah senyum yang mencoba disembunyikan seorang Fernando di sudut bibirnya. Rasa itu begitu membuat dadanya berpendar penuh aura kebahagiaan. Senyuman Elle adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Berlahan rasa takut akan kehilangan Elle yang manis dan periang memudar. Gadis mungilnya tetap bisa tersenyum. Jangan bilang Nando tidak tau jika hampir setiap hari Elle menangis karena sikap kasar Emma mama kandungnya. Elle begitu ingin perhatian Emma. Apalagi sejak kedua matanya buta, Elle seperti ketakutan jika Emma akan membuangnya.


" Apa setelah ini mama akan pergi lagi?" tanya Elle polos begitu suapan terakhirnya usai.


"Tidak. Mama akan dirumah,menemani Elle. Apa kau senang princess?"


"Beneran ma?"


"iya. Hari ini mama akan mengajari Elle mengingat warna baju agar kamu bisa memilih pakaian sesuai seleramu meski tidak ada orang sayang."


"apa...apa itu berarti Elle akan buta selamanya mama?" mata bulat itu berkaca. Sofia buru-buru mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.


"Elle dengarkan mama sayang..Elle akan bisa melihat lagi seperti janji papa tempo hari. Hanya saja Elle harus bersabar ya, karena mencari donor itu sulit nak. Jadi selama Elle belum bisa melihat,kita belajar mengenal barang-barang pribadimu ya. Yakin saja Tuhan itu maha pengasih...DIA pasti akan memberikan yang terbaik untukmu." Elle mengagguk.


"Asal mama dan papa bersamaku.”


" tentu." jawab Sofia dan Nando bersamaan. Hanya spontanitas sebagai orang tua yang menjawab keinginan anaknya.


"Sekarang ke kamarmu ya. Mama tunjukkan caranya."


"Ajak papa ya ma."


"hmmmm...tanya sama papa ya, nanti jangan-jangan papa sibuk sayang." Sofia melirik Nando yang masih duduk anteng ditempatnya.


"pa...."


"Baiklah, ayo ke kamarmu sayang." putusnya kemudian. Sofia bergegas berdiri,mengajari Elle menghitung dan mengghafal berapa jumlah langkah dari ruang makan ke tangga, kemudian jumlah tangga yang harus dia naiki atau turuni, juga langkah dari tangga ke kamar. Tidak ada lagi kegusaran diwajah polosnya. Sofia sungguh membuatnya bahagia dan percaya diri.


"Nah sayang, mama sudah memasang kancing baju pada tiap pakaianmu. Itu akan membantumu menentukan warna karena tiap warna punya jumlah kancing berbeda. Kau tinggal meraba dan menghafalnya. Elle, meski ada mbak Maria atau siapapun, kau harus tetap belajar mandiri nak. Namun jika kau merasa tidak nyaman, jangan sungkan untuk minta bantuan. Mama akan ada untukmu. Selalu." bisik Sofia lirih diakhir ucapanya. Elle sangat terharu dan memeluk sang mama sambung yang dia anggap Emma itu.