
"Hayy adik ipaaaarrr...Sofia, bagaimana kabarmu??" teriak Karin kencang kala memasuki rumah besar Hutama. Sofia adalah orang terakhir yang dia sapa karena baru saja keluar dari kamarnya selepas menyusui baby Rafa. Wanita cantik tinggi semampai itu lekas memeluk iparnya kala Sofia mendekat padanya.
"Selamat yaa...wahhh keponakanku tampan sekali. Hahhh...dia sangat mirip Fernando. Dasar menyebalkan!! Padahal aku berharap dia mirip denganmu. Lihat..anak kita bule semua walau Nando sudah berusaha mencampurnya dengan ras Asia." celoteh Karin sambil mengecupi pipi Rafa yang masih memejamkan matanya dalam gendongan dadynya.
"Terang saja dia mirip aku. Dia putraku!" sarkas Nando kesal sebelum Rafa berpindah dalam gendongan Karin.
"Hhhmmm sayang..kenalkan ini kak Luis, suami Karina, dan ini Kiki putri mereka. Dan kak, dia Sofia..istriku." Nando memperkenalkan mereka sambil berjabat tangan dengan Luis yang masih memeluk punggung KiKi.
"Ohh..hay kak." sapa Sofia menjabat tangannya. Pria itu tersenyum ramah.
"Hay Sofia, senang bertemu denganmu. Kudengar kau mengambil spesialis jantung ya?" tanya Luis amat ramah. Terlihat dari penampilannya, pria ini amat menyukai kerapian dan dari kalangan atas.
"Iya kak, tapi sementara ini saya vakum dulu."
"kenapa?"
"Rafa masih terlalu kecil kak."
"Atau Nando tidak mengijinkamu??" Sofia melirik suaminya yang terasa membeku mendengarkan interaksi mereka.
"Saya sendiri yang ingin berhenti agar fokus mengurus Rafa. Kakak tau banyak soal saya rupanya?"
"Tentu saja. Shandy banyak cerita padaku." Ingatan Sofia seketika tertuju pada sepupu suaminya itu. Sedekat itukah hubungannya dengan Luis hingga menceritakan dirinya?
"Kami dekat karena dia mengambil pasca sarjana di kampus yang sama." ujar Luis seperti mengerti jalan pikiran Sofia.
"oowwhh...jadi kakak....."
"Aku juga dokter ahli jantung dinegaraku."
"Oohh..senang berjumpa denganmu kak. Suatu saat aku pasti membutuhkan arahan kakak."
"Tentu saja Sofia. Kau tau betapa bangganya aku saat mendengar Fernando menikah dengan seorang dokter? aku serasa punya rekan sejawat." ungkap Luis disertai tawa yang berderai.
"Anehnya kak Karin tidak pernah cerita jika suaminya juga seorang dokter."
"Mana dia mau cerita? Waktunya saja habis untuk mengurus perusahaan dad yang disana." obrolan mereka terus berlanjut hingga Nando mendekat sambil membawa Rafa yang mulai bergerak gelisah akan terjaga. Sebentar lagi pasti tangisnya akan pecah.
"Sayang, bawa Rafa ke kamar dulu. Pasti dia capek digendong terus." katanya sambil mengulurkan bayi mereka. Sofia lalu membawanya ke kamar dan menidurkannya.
"Kak, sebaiknya kalian istirahat dulu." tawar Bella yang jadi seksi sibuk sejak kemarin. Dia layaknya anak bungsu yang tinggal serumah dengan orang tuanya. Jadi pelayan dadakan para tamu yang note bane kakak-kakaknya yang jarang sekali berkumpul.
"Nanti saja Bel, kita masih ingin ngobrol.Kangen." teriak Karin sambil mencomot puding coklat favoritnya.
Begitulah jika keluarga Hutama sudah berkumpul. Suasana jadi amat ramai. Mereka asyik berbagi cerita dari keluarga, bisnis dan seputar kejadian yang marak dilingkungan sekitar.
"Apa kau akan datang di acara Roy Larsons?" tanya papa Teguh pada Nando yang masih asyik bercakap-cakap dengan Luis iparnya.
"Tentu saja dad, dia kolega bisnisku. Bukannya dad dan Karin diundang juga?"
"Tidak juga dad. Aku tak begitu mengenal Roy Larsons. Sepak terjangnya juga tak begitu baik di negara kita." terang Karin.
"Dia juga beberapa kali terlibat kasus barang ilegal, tapi selalu lepas tanpa bisa dibuktikan." timpal Bella dibenarkan oleh Alex. Rupanya pasangan sekretaris dan mantan pengacara andal itu sedikit fokus pada kehidupan Roy Larsons yang secara besar-besaran menggelar undangan untuk setiap kolega juga musuh bisnisnya untuk pembukaan perusahaan barunya.
"Ada sesuatu yang direncanakan Roy." timpal Teguh Hutama.
"Kurasa juga begitu dad." balas Nando sambil mengelus ujung hidungnya.
"Bagaimana kerja samamu dengannya?"
"Sepanjang ini tidak ada masalah berarti."
"Kau dan Alex mesti memeriksa data dan pergerakan mereka. Jika dia berani mengundang keluarga kita yang jelas-jelas terpisah, aku yakin dia punya rencana lain son."
"Apa kalian semua akan datang?" kali ini Nando balik bertanya dalam gamang. Reaksi dadynya yang gusar sudah membuatnya dalam kebimbangan. Dia tau benar masalah apa yang melatar belakangi panasnya hubungan orang tuanya dengan keluarga Larsons, namun sebagai orang yang dididik profesional Nando mencoba menepisnya dan menerima program kerja sama yang ditawarkan pihak Larsons padanya.
"Pantang bagi keluarga Hutama menolak undangan keluarga Larsons. Pasti mereka mengira kita seperti yang mereka tuduhkan selama ini." putus Karin setelah sekian lama terdiam. Alex dan Bella masih mengutak atik laptopnya mencari informasi seputar Larsons.
"Orang yang paling bahagia saat hadir disana adalah dady kalian." semua mata beralih menatap Fransisca yang tetap memasang wajah datar. Senyum getir menghiasi sudut bibirnya.
"Apa yang kau bicarakan sayang." desis Teguh Hutama dengan mata tajamnya.
"Bukannya dengan begitu kau bisa bertemu dengan Alisa? Cinta pertamamu?" sindir Fransisca berubah ketus.
"Aku jadi merasa bernasib sama seperti Sofia. Jadi istri manusia yang tidak bisa move on dari masa lalunya. Bedanya hanyalah Alisa masih hidup, dan Emma sudah tiada."
"Fransisca...apa yang kulakukan selama ini tetap tak berarti bagimu?" lirih Teguh. Tidak tau kenapa mood istrinya akan langsung buruk saat mendengar nama Alisia. Padahal itu hanya masa lalu yang bahkan sudah dihapus dari ingatannya.
"Mom juga tak berhak menyamakan diri dengan Sofia. Aku mencintai istriku mom." protes Nando sengit. Kesal karena istrinya dibawa-bawa, dirinya juga. Seolah dia pria dzalim yang menyakiti istrinya.
"Apa kau kira dadymu ini tidak mencintai momymu?? wanita kalau sedang cemburu memang tidak pakai logika." dengus Teguh keras. Harus bagaimana lagi dia membuat Frasisca percaya. Bertahun-tahun berlalu tapi istrinya itu tetap cemburuan. Padahal mereka sudah punya anak dan cucu.
"Hey, kanapa kalian malah ribut soal cinta mencintai? Wooiii...sadar wooiii...!! Ejek Karin kesal. Bukannya diskusi yang benar ...ayah anak itu malah ribut sendiri.
"Mom yang mulai!!" teriak dua pria tampan beda generasi itu bersamaan, membuat Fransisca bergidik ngeri.
"Dad sudah terlalu tua untuk bermain api mom. Apa dia setampan Song jongki hingga membuatmu cemburuan?" ejek Nando dengan wajah kesal, membuat Sisca melorot karenanya. Putranya itu memang selalu arogan dan tak punya filter saat bicara.
"Hey bocah tengil, jangan asal bicara! dadymu ini bahkan lebih mirip Lee min hoo saat masih muda dulu. Kau jangan menghina suamiku!" tukas Sisca tak terima.
"Dia juga dadyku mom!"
"Heyy cukup!! kalian berdua membuatku pusing!!" pungkas Teguh hutama lalu berjalan ke kamarnya.
"Sayang tunggu!!" Semua menggelengkan kepala melihat tingkah momynya yang berubah kekanakan. Wanita paruh baya itu bukan hanya menyusul suaminya, tapi juga bergelayut manja di lengannya.
"Tampaknya momy sudah lupa umur." keluh Bella dan Karin setelahnya.