
Sofia begitu menikmati pijatan sang suami yang terasa membuatnya nyaman dan menghilangkan pegal-pegal ditubuhnya.
"Sudah mas." katanya singkat saat menyadari dirinya hampir tertidur karenanya sedang Nando masih memijitnya dengan telaten.
"Hmmm ..kau yakin."
"Ya. Kau juga pasti capek. Seharian bekerja dan mengurusku."
"Aku tidak melakukan apapun. Tinggal perintah dan mereka semua mengerjakan semua sesuai keinginanku."
"Sudah. Istirahatlah! Mau kubuatkan sesuatu?" tawar Sofia. Dia tau Nando berbohong soal pekerjaannya. Dia tau pasti orang seperti apa suaminya. Sosok workaholic dan sangat disiplin. Bagaimana bisa dia hanya ongkang-ongkang kaki dikantornya. Sungguh bukan sifat seorang putra kekuarga Hutama.
"Biar pembantu saja yang melakukannya. Kau cukup disini saja menemaniku." dan lengan kekar itu sudah meraih tubuh Sofia, membawanya rebah dan mengelus perutnya penuh cinta.
"Apa kau masih sakit hati padaku?" Sofia hanya diam mendengar pertanyaan Nando. Sebenarnya dia sama sekali tidak merasa sakit hati denga perlakuan Nando dimasa lalu padanya. Dia sudah memaafkan suaminya itu jauh sebelum dia minta maaf dan bersikap aneh seperti sekarang. Tapi pria seperti Nando harus diberi pelajaran agar dia selalu ingat jika dirinya harus menghargai perasaan orang lain juga.
"Sayang?"
"hmmmm."
"Apa diammu berarti iya?"
"Aku tidak tau." balas Sofia pendek. Dia lebih suka mengendus wangi tubuh suaminya dari pada bicara hal yang menurutnya tidak penting itu.
"Sofia jangan menggodaku." bisik Nando lirih kala jemari sofia mengusap dadanya berlahan dengan kepala yang terus mendusel manja disana. Bukannya berhenti, dokter cantik itu malah kembali mengelusnya karena merasa nyaman.
"Kau..." suara parau Nando semakin menjadi. Nafasnya berubah tak teratur karenanya. Tangannya yang berada diperut Sofia berubah meremas bukit kembar istrinya lembut. Melihat istrinya yang terus meraba dadanya, Nando berinisiatif melepas kaosnya dan membuangnya asal. Kini terpampanglah dada bidang dan perut berototnya yang terlihat sangat seksi hingga Sofia kesulitan menelan ludahnya.
"Kesini!" Nando kembali menarik Sofia dalam pelukannya, membuat istrinya kembali melakukan aktivitas yang sama. Entah kenapa Sofia begitu menyukainya. Wangi tubuh suaminya, juga hangat pelukannya serasa membuatnya tenang dan nyaman. Belum lagi desakan dalam dirinya yang berubah sangat agresif saat berdekatan dengan Nando begitu membuatnya bingung.
"Apa kau pernah mencintaiku?" gumam Sofia pelan, namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Nando yang memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut istri cantiknya.
Tak ada jawaban dari bibir Fernando. Pria itu hanya membuka matanya dan meliriknya sejenak lalu kembali menutup matanya. Jemari Sofia menggantung di udara. Dadanya terasa sangat sesak. Apa begitu sulit membuat Fernando mencintainya? dia tau dan cukup tau jika semua perhatian yang Nando berikan padanya hanya bentuk kasih sayangnya pada calon anak mereka. Bukan pada dirinya. Andai tidak ada anak ini, mungkin hubungannya akan tetap jalan ditempat. Tiba-tiba hatinya merasa nelangsa.
Diluar sana banyak orang meninggalkan pasangan yang mencintai dirinya untuk mengejar harta dan kemewahan dunia, bahkan menceraikan atau menduakan mereka dengan alasan yang sama tanpa mereka tau kehidupan mereka nantinya. Yang mereka kejar adalah ruang hampa tanpa cahaya. Gemerlap yang sama sekali tak bersuara. Senyap. Karena cinta adalah cahaya, suara dan sumber kehidupan. Apalah arti kemewahan yang mereka dapatkan tanpa sesuatu yang bernama cinta???
"Tidak. Tiba-tiba aku ingin minum teh hangat." Nando menarik lembut tangan Sofia yang akan turun dari ranjangnya, lalu mendekap tubuh berbalut baby doll lengan pendek itu dari belakang. Dikecupnya leher dan telinga Sofia sekilas.
"Biar bibik yang membuatkannya." bisiknya lembut ditelinga kanan Sofia yang mau tidak mau membuat bulu disekitar leher dan tangannya meremang.
"Mas, lepas...aku ingin membuatnya sendiri." kilah Sofia. Bukan membuat teh hangat sendiri yang dia lakukan nanti. Tapi sekedar menyeka buliran air mata yang akan jatuh dari matanya atau sekedar menarik nafas untuk menata hatinya yang kembali porak-poranda karena tingkat percaya dirinya yang kuat pada perasaan Nando padanya.
"Kubilang jangan." Nando mengeratkan pelukannya kala tangannya meraih telepon rumah. Dia menghubungi Sarla untuk membuatkan teh hangat dan beberapa desert lalu membawanya ke kamar Sofia.
"Sayang ..sini." Nando memaksa Sofia menghadap padanya. Satu tangannya menyentuh dagu istrinya dan membuatnya mendongak.
"Tatap aku Sofia." Berlahan Sofia menatap Nando, mempertahankan sudut matanya yang berair agar tidak jatuh menjadi air mata. Kembali dia mengembangkan senyum terpaksa.
"Apa pentingnya cinta bagimu?"
"Tidak ada. Aku hanya iseng bertanya tadi. Maafkan aku." Ingin rasanya melepaskan diri dari Fernando dan masuk saja ke kamar mandi, tapi cengkeraman suaminya begitu kuat walau tak menyakitinya.
"Sofia, apa kau mencintaiku?" kali ini suara Nando melemah. Rona wajahnya juga terlihat sayu. Tak ada jawaban dari bibir Sofia. Sama seperti dirinya tadi. Nando menarik nafas panjang.
"Kau juga diam bukan?" Sofia hanya mencoba menundukkan kepalanya walau tak bisa karena terhalang tangan Nando yang menengadahkan kepalanya keatas.
"Kau tau aku pria seperti apa bukan? Aku tidak pernah bisa bicara lembut pada wanita, tapi aku mencoba melakukannya lewat tidakan. Apa kau sama sekali tak merasakan semua yang kulakukan padamu? kau bahkan tidak merasa jika kaulah prioritas hidupku saat ini hemm??? aku bahkan tak mengijinkan siapapu menyentuh tubuhku selain dirimu. Apa itu tidak cukup bagimu?" tanya sang pria penuh keseriusan.
"Mas..aku ...ehh sudahlah."
"Jangan mengalihkan pembicaraan Sofia." sergah Nando kesal.
"Bukan. Kau salah paham."
"Salah paham apanya? Kau bahkan hampir menangis karenanya." Kembali Sofia terdiam, tak menyangka suaminya sedetail itu memindai dirinya.
"Itu...aku...ini mungkin hanya hormon kehamilan saja." kilahnya cepat. Dia tidak ingin Nando terus bertanya dan memperpanjang masalahnya.
"Kau tidak pernah tau seberapa besar aku mencintaimu Sofia. Bahkan aku tidak pernah merasa mencintai seseorang sedalam ini. Hanya padamu...aku mencintaimu nona muda Hutama, dengan seluruh hatiku. Aku mencintaimu." dan Sofia hanya tertegun mendengarnya. Apa ini nyata? Apa dia tidak sedang bermimpi? Bolehkah dia sedikit egois untuk saat ini saja????