Dear Husband

Dear Husband
Donor



Nando turun dari mobilnya dengan perasaan campur aduk. Tak tau harus bagaimana mengatakan semuanya pada Elle nantinya. Dia menarik nafas panjang lalu memasuki rumah.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam." jawab dari dalam sana berbarengan. Dua pembantu, Maria dan Elle sedang duduk manis diatas karpet tebal didepan televisi besar diruang keluarga yang terbilang sangat luas. Kelihatannya mereka semua berkumpul untuk menemani Elle menunggu kedua orang tuanya pulang.


"Mana mama Sofia pa?" Nando tau, pasti pertanyaan itu yang akan pertama kali dia dengar dari putrinya.


Semua pembantu bubar saat Nando memberi isyarat pada mereka. Demikian pula dengan Alex yang dari tadi masih setia mengekori langkah sang tuan muda sambil menenteng tas kerja dan laptopnya. Sekretaris tampan itu bergegas masuk ke ruang kerja Nando untuk meletakkan semua barangnya disana. Tinggalah Nando dan Elle yang duduk berhadapan diatas sofa ruangan itu. Nando memegang kedua tangan putrinya.


"Apa mama tidak pulang? apa mama marah padaku pa?" tanya Elle memelas. Tampaknya sang nona kecil sangat sedih begitu tau papanya pulang sendiri ke rumah.


"Elle dengarkan papa..mama Sofia tidak marah padamu. Dia sekarang ada di Kalimantan karena tugas mendadak. Nanti saat semua masalah disana teratasi, mama akan pulang kemari untuk menemuimu." jelas Nando sambil mengelus kepalanya lembut. Isakan kecil terdengar dari bibir Elle yang mau tidak mau membuat hati Nando teriris pedih. Dia sama sekali tidak ingin melihat Elle menangis.


"Mama pasti marah pada Elle." isakannya bertambah keras. Nando buru-buru memeluk bidadari kecilnya agar tenang. Tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Harusnya sekarang dia menelepon Sofia untuk meyakinkan Elle. Agar gadis itu bisa bercakap-cakap langsung dengannya dan bisa lebih tenang. Tapi ponsel Sofia masih tidak bisa dihubungi. Berulang kali dia berusaha membujuk Elle, namun tetap berakhir pada tangis dan raungan gadis kecil itu hingga membuat Nando frustasi karena kehabisan akal. Belum pernah Elle sebandel sekarang. Biasanya dia hanya menangis sebentar saja dan Nando tidaka perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menenangkannya.


"Tuan..ada telepon untuk anda." Nando menoleh ke arah Alex yang mengulurkan ponsel miliknya pada sang tuan.


"Bilang aku sedang sibuk." jawab Nando geram. Saat ini dia tidak ingin bicara pada siapapun. Fokusnya hanya Elle saja.


”Tapi ini telepon dari nyonya muda."


"Nyonya muda siapa?"


"Tuan muda, apa anda punya lebih dari satu orang istri? tentu saja ini nyonya Sofia." balas Alex tak kalah geram. Jika tadi sang tuan muda terlihat galau, sekarang dia malah terlihat linglung dan hilang ingatan. Sangat menyebalkan.


"Mama....!!!" teriak Elle berusaha menggapai ponsel dari tangan Alex, namun dia hanya meraih udara saja karena Alex bukan berada diarah yang dituju Elle. Nando bergerak cepat mengambil ponsel dari tangan Alex, memencet laudspeaker agar percakapan mereka terdengar jelas.


"Assalamualaikum." suara lembut disana terasa menyejukkan batin Nando yang resah.


"Walaikumsalam." sahutnya da Elle bersamaan.


"Mama...maafkan Elle ma." Elle kembali terisak saat menyatakan permintaan maafnya. Disana, Sofia masih terdiam.


"Mama pulanglah!" kali ini Elle benar-benar menangis keras.


"Sayang, tante belum bisa pulang sekarang ya..tante ada tugas ditempat yang jauh." suara diseberang sana terdengar bergetar. Mungkinkah Sofia juga menangis seperti Elle? tak ada yang tau pasti. Namun mendengar suaranya saja sudah tertarik kesimpulan jika wanita itu juga terharu.


"Mama...kau mamaku. Pulanglah,ma!" teriak Elle. Rasa bersalah yang besar membuatnya panik. Dia benar-benar takut kehilangan Sofia. Mama sambung yang menggantikan peran seorang ibu melebihi ibu kandungnya sendiri. Ibu tiri yang bahkan sudah merebut seluruh hatinya dan memenuhinya dengan sejuta penyesalan yang teramat dalam karena kata-kata yang keluar dari bibirnya.


Sofia masih terdiam. Suasana hening mendominasi ruangan luas nan megah itu. Nando yang terpaku bisu merasa tenggorokannya tercekat dan tak bisa berkata-kata. Interaksi antara Elle dan Sofia membuatnya juga merasa terharu. Dalam hati dia berdoa agar Elle tidak bernasib seperti dahulu. Semoga Sofia benar-benar tulus menyayanginya agar sikap buruk Emma tidak terulang padanya.


"Sayang, maafkan mama yang benar-benar belum bisa menemuimu. Tapi mama ada berita gembira untukmu. Apa papa ada? bisakah mama bicara dengan papa sebentar?" kata Sofia lembut.


"Ya, aku disini." suara berat Nando kini menggantikan Elle yang masih setia di dekatnya.


"Mas...maafkan aku yang tidak pamit padamu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya kemarin, tapi kau terlihat...."


"Sudahlah, semua sudah terjadi." potong Nando tegas walau dengan suara bergetar.


"Dari mana kau dapatkan donor matanya?"


"Dia pasien sahabatku yang terkena leukimia dan dinyatakan meninggal. Orang tuanya mendonorkan bagian tubuhnya seperti permintaan almarhum. Kumohon segera temui dokter Edward ya mas."


"hmmmm."


"Mas, kau kenapa?" pertanyaan yang tepat sasaran. Harusnya Nando menjadi orang yang paling bahagia akan adanya berita itu. Berbulan-bulan mencari tapi tanpa titik temu. Bisa membuat Elle melihat lagi adalah keinginan terbesanya. Tapi kenapa dia malah tidak terlihat antusias sama sekali?


Dia teringat janji yang diucapkannya dihadapan Sofia. Mungkinkah janji itu yang membuatnya memakan buah simalakama? Artinya dia akan kehilangan Sofia setelah Elle bisa melihat lagi. Tapi bagaimana dia bisa menjelaskannya pada Elle? bocah itu sudah jatuh hati pada kelembutan dan sikap keibuan Sofia. Apa dia akan tega memisahkan Elle dari Sofia?


"Mas!!" Nando mengusap wajahnya kasar, menyadari dirinya telah tenggelam dalam lamunan tak berdasar.


"Baik,aku akan menemuinya."


"Terimakasih mas. Aku tutup dulu ya...assalamualaikum." tanpa menunggu balasan salamnya, Sofia menutup panggilannya dengan tergesa.


"Mama!!" teriak Elle lagi. Dia masih ingin bicara dengan sang mama.


"Elle...mungkin mama sedang sibuk. Kita doakan saja agar mama diberi kesehatan dan kemudahan selama disana, agar mama cepat pulang dan berkumpul kembali dengan kita ya. Besok kita temui dokter Edward. Mamamu sudah menemukan donor bagimu. Kau akan bisa melihat lagi El.."


"Sungguh?"


"Tentu saja sayang..."


"Aku bisa melihat mama dan papa lagi?"


"ya."


"Terimakasih pa..." Elle menghambur kedalam pelukan sang papa yang menyambutnya hangat.


"Berterimakasihlah pada mama El, dia yang sudah berusaha untukmu." Elle mengangguk. Kali ini wajahnya terlihat sangat ceria.


"Alex."


"Saya tuan muda."


"Ambil ponselku dan save nomer nyonya muda juga dokter Edward."


"Bukannya anda bisa menyuruh saya jika ingin menghubungi mereka tuan."


"Sofia itu istriku. Aku berhak punya nomernya. Apa jika aku ingin bermesaraan dengannya, aku harus menyuruhmu juga?"


"Bukannya tadi anda bilang begitu tuan?"


"Itu tadi, sekarang tidak lagi!" Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dasar bos aneh.ll