Dear Husband

Dear Husband
Melihat



"Selamat datang kembali dokter Sofia. Kapan anda sampai kemari?" tanya dokter Edward sambil mengulurkan tangannya. Sofia segera menjabat tangan rekan sejawatnya itu dengan hangat. Keduanya tersenyum lebar.


"Saya kesini jam 8 malam dokter." jawab Sofia amat sangat ramah. Senyum lebar selau terukir dibibirnya.


"Hmmm syukurlah. Bagaimana keadaan disana?stabil?"


"Alhamdulilah mulai kondusif dok. Sebenarnya saya juga akan menunggu jadwal pulang jika...."


"ehm..ehmmm!!" Sofia menghentikan percakapan singkat mereka setelah mendengarkan deheman Nando yang membuatnya tidak nyaman. Begitupun Edward yang langsung meminta maaf dan memeriksa Elle. Bagaimanapun, dia udah bersikap tidak profesional hari itu. Apalagi yang dia hadapi sekarang adalah putra pemilik tempatnya bekerja. CEO sekaligus pewaris tunggal Hutama crop karena sang kakak lebih memilih tinggal diluar negeri untuk mengikuti suaminya.


l"Bagaimana keadaan putri saya dok? apa perbannya sudah bisa dibuka?" Sofia yang penasaran segera menghampiri Edward yang masih memeriksanya. Namun tiba-tiba Nando mengenggam tangan kanannya, membuat Sofia berhenti diujung ranjang dengan wajah salah tingkah. Nando mencengkeram tangannya kuat dan menariknya kebelakang tubuhnya. Sofia hanya menurut tanpa tau apa maunya suami dinginnya. Kini tubuh athletis itu sudah berdiri berhadapan dengan Edward yang berada disamping Elle.


"Bagaimana keadaan Elle?" Suara bariton itu membuat Edward menoleh setelah beberapa lama meneliti Elle yang terduduk diranjangnya. Dokter itu menegakkan tubuhnya,


"Sepertinya kita sudah bisa membukanya dan melihat hasilnya tuan muda."


"Bagus, lakukan." tegas Nando tidak sabar.


"Mama kau dimana? aku takut....mamaaaa..." pekik Elle tiba-tiba. Bayangan ketakutan akan kegagalan operasi membuatnya seperti sekarang. Dia tidak ingin buta selamanya. Dia tidak ingin terus berada dalam gelap. Elle ketakutan hingga tubuhnya bergetar. Dia butuh Sofia. Hanya bersama Sofia hatinya merasa tenang.


Sofia yang tidak tega melihat putri sambungnya beralih memutari ranjang dan berada disisi kiri Elle yang masih terlihat sangat takut. Digenggamnya tangan Elle lembut.


" Jangan takut. Ada mama dan papa disini El. Kau harus jadi anak mama yang pemberani. Kita berdoa sama-sama ya sayang." bisik Sofia pelan. Elle menganguk samar. gamang, masih dengan tubuh gemetar.


" Silahkan dimulai dokter." Edward segera memanggil perawat untuk menemaninya membuka perban yang melingkar dikepalanya.


Satu persatu perban itu dibuka. Edward menggulung sisanya dengan telaten hingga sampai pada helaian terakhir. Sofia maupun Nando sama-sama menahan nafas. Ketegangan begitu terlihat dari raut wajah keduanya.


"Bismilahirohmanirohim....buka matanya Ell..." perintah dokter Edward saat semua perban sudah terlepas. Pelan-pelan, Elle membuka matanya. Hal pertama yang dia tangkap adalah silau. Semua terlihat samar-samar dan asing.


" Apa kau bisa melihatku nak?" tanya dokter Edward memecah suasana. Tak ada jawaban dari bibir mungik Elle. Edward segera mengeluarkan senter kecil dari saku jas nya. Dia memeriksa Elle sekali lagi hingga sang nona kecil memincingkan matanya. Pertanda baik.


"Papa!!!" pekik Elle tertahan. Nando lah orang yang pertama dia lihat walau dalam mode kabur.


"Alhamdulilaah...." seru semua orang hampir bersamaan. Semua terlihat lega. Nando berlari memeluk putri kesayangannya erat.


"Akhirnya kau bisa melihat lagi sayang." Berulan kali Nando mengucap syukur. Perjuangannya tidak sia-sia. Impiannya untuk membuat putrinya bisa melihat lagi sudah terkabul. Semuanya membuat dadanya terasa sesak hingga hendak meneteskan air mata. Nando melepaskan pelukannya, memberi ruang pada Elle.


"Mama Sofia ..kaukah itu?" tanya Elle begitu dia menengok ke samping. Sofia mengangguk seraya tersenyum haru.


"iya sayang...ini mama." Sofia juga refleks memeluk Elle yang terlihat sangat bahagia hari itu.


"Maaf tuan muda..Elle harus tetap tinggal disini hingga besok. Masih ada beberapa pemeriksaan dan observasi agar nona kecil benar-benar dinyatakan normal dan bisa dibawa pulang." Nando hanya mengangguk. Pria itu tetap merasa sangat terharu.


"Tidak masalah dokter. Lakukan apapun untuk kesembuhan Elle."


"Satu lagi, nona tidak boleh terlalu capek dan memaksakan diri dalam melihat sesuatu, apalagi ditempat terang. Korea matanya masih butuh adaptasi lagi. Beberapa jam kedepan kami akan menyuntikkan obat penenang agar dia bisa istirahat."


"Sama-sama tuan muda. Saya permisi dulu." Dokter Edward segera melangkah pergi diikuti seorang perawat dibelakangnya.


"Mama...."


"iya sayang.'"


"kau sangat cantik." puji Elle yang masih terus menatap wajah Sofia yang kini sudah duduk disampingnya seraya mengenggam tangannya erat.


"Apa kau sedang menggoda mama hemmm??"


"Tidak ma, sungguh kau sangat cantik."


"wah..wah...mama jadi tersanjung ini. Terimakasih atas pujiannya ya sayang." balas Sofia seraya menjawil hidung mancung Elle gemas.


"Kau orang pertama yang mengatakan kalau mamamu ini cantik." lanjutnya masih dengan senyum lebar.


"Sungguh?"


"ya."


"Berarti aku adalah pengagum pertamamu ma."


"ya...begitulah."


"Lalu papa..apa papa tidak pernah bilang jika mama cantik?" Sofian hanya tersenyum masam. Jangankan memberi pujian, suaminya itu malah hanya bicara seperlunya saja padanya. Bahkan tak pernah ada manis-manisnya.


"Bukanya mama Emma jauh lebih cantik Elle? mama kandungmu wanita sempurna. Tidak akan ada yang bisa menandinginya, siapapun dia." suara berat itu menyela percakapan mereka. Tak ada lagi sahutan. Semua diam. Suasana berubah canggung dan sepi. Sofia bahkan membuang pandangannya kearah lain. Kalau saja mereka tidak sedang berada disisi Elle yang baru sembuh dan butuh penyemangat, ingin rasanya Sofia membalas perkataan pedas pria tadi.


"Papa jangan bilang begitu."


"Bukannya kenyataannya begitu El? mamamu...."


" Tapi mama sudah meninggal pa. Yang ada sekarang hanya mama Sofia. Dia juga mamaku pa." protes Elle terlihat tidak suka.


"Bagiku dia tetap hidup selamanya El." ucap Nando sendu. Ada berjuta kesedihan disana. Bayangan Emma kembali berkelabat dimatanya.


"Terserah papa. Tapi aku maunya sama mama Sofia." cetus Elle ngeyel.


"Elle, sudah ya. Kamu baru sembuh sayang. Jangan berantem sama papa ya." interupsi Sofia dengan dada sesak. Lain Nando, lain pula dirinya. Jika Nando tenggelam dalam bayangan masa lalu bersama Emma, Sofia malah memikirkan masa depan. Matanya menerawang.


Pria yang berstatus suaminya itu sama sekali tidak berubah. Dia masih pria yang sama saat pertama mereka berjumpa. Pria yang tidak bisa lepas dari bayangan masa lalunya. Bukankah pria yang seperti itu sama sekali tidak ada kemauan untuk menatap masa depan? membuka hati dan menatap kehidupannya nanti? Dan Sofia? dia bukan orang yang suka berada dibawah bayangan orang lain. Dia wanita cerdas yang terbiasa hidup merdeka walau tetap mematuhi norma.


Lamat dia menyadari jika tugasnya sebagai istri dibawah kertas akan segera usai. Tak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan pura-pura ini. Semua sudah harus diakhiri.