Dear Husband

Dear Husband
Curiga



"Untuk apa pria itu ada disini?" desis Nando terdengar geram.Tangannya terkepal erat pertanda amarah masih menguasai dirinya.


Bertahun-tahun dia mencoba melupakan tragedi rumah tangganya dengan Emma yang berakhir tragis karena hubungan terlarang antara kakak beradik itu. Betapa cintanya pada Emma sudah membutakan matanya kala itu. Peringatan kedua orang tua juga tak pernah diindahkannya.Ternyata benar, feeling orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu ternukti benar. Emma bukan pilihan tepat, bukan juga pendamping yang baik untuknya. kini...saat dia sudah berusaha membuka hati pada seoang Sofia, seseorang dari masa lalunya datang kembali walau itu bukan Emma. Tapi yakinlah, kehadiran Andreas adalah bayangan kelam dalam hidupnya.


"Mungkin dia memang ingin disini selama liburan." Jawab Sofia, mendudukkan tubuhnya disofa.


"liburan?" sahut Nando mengulang ucapan Sofia sambil mengangkat sebelah alisnya, penasaran.


"Ya, waktu aku bertemu di taman beberapa waktu lalu, dia berkata jika sedang liburan disini. Dia juga bilang bertempat tinggal.di dekat kampus."


"Aku tidak yakin."


"Apa yang membuatmu tidak yakin?" Nando tak menyahut, pria itu memilih merebahkan diri di sofa panjang di depan televisi yang merebahkan kepalanya diatas kedua paha sang istri. Diraihnya tangan Sofia dan memberinya isyarat agar mengelus kepala Nando.


Rasa damai seketika melingkupinya. Belaian lembut Sofia sedikit membuatnya tenang. Ternyata begini rasanya punya istri. Begini rasanya disayangi. Meski tak ada kata cinta yang keluar dari bibir Sofia ataupun dirinya, tapi kasih sayang yang mereka lakukan lewat tindakan nyata sudah cukup membuktikan jika mereka saling membutuhkan saat ini.


"Aku tau siapa Andreas merseden. Dia tidak akan ada diperumahan sederhana seperti ini. Keluarga marseden adalah jajaran orang kaya di Australia dan aku tau pasti tempat seperti ini bukan seleranya."


"Lalu kau? bagaimana bisa seorang tuan muda Hutama tinggal ditempat seperti ini?"


"Itu karena...itu..." Sofia terkikik geli melihat suaminya menjadi gagap dan salah tingkah.


"Mungkin saja dia dalam masa sulit seperti kita mas. Positif thingking saja."


"Aku sangat mengenal keluarga mereka Sofia.Tidak mungkin seorang Merseden melakukan ini walau pailit sekalipun." Sofia membelai pipi suaminya lembut kala melihat Nando kembali resah. Entah apa yang ada dibenak pria itu tentang Andreas. Melihat ekspresi kaget andreas tadi, dia sudah bisa menyimpulkan jika kepindahan Andreas kesini juga hanya suatu kebetulan. Dia bahkan tidak mengira jika akan bertetangga dengan Fernando.


"Sudahlah...buang pikiran burukmu tentang dia mas. Fokus saja pada rumah tangga kita."


"Tentu saja sayang." Nando meraih telapak tangan itu dan menciumnya sangat lembut.


"Tunggu ....tadi kau bilang dia tinggal di dekat kampusmu bukan?" kali ini Nando sampai bangun dari tidurannya dan duduk di dekat Sofia. Matanya berkilat tajam.


"hmmmmm."


"Kampusmu hanya dua puluh menit dari kediaman Hutama, sama dengan jarak rumah ini ke kediaman dad. Apa mungkin....."


"Apa?" buru Sofia penuh rasa ingin tau. Gemas rasanya melihat Nando cemas tak beralasan.


"Elle...."


"Elle? kenapa dengan dia?"


"Boleh kuingatkan?"


"hmmmmm."


"Beranalisa dan berjaga-jaga itu boleh mas. Tapi jangan menuduh tanpa bukti. Salah-salah kau akan berurusan dengan polisi karena kulihat Andreas bukan pria bodoh."


"Dia tidak hanya pintar Sofia..tapi juga culas." Nando kembali mengepalkan tangannya kuat, memukul Sofa hingga Sofia kaget.


"Buang emosimu jauh-jauh mas. Kau harus berpikir jernih. Jangan biarkan orang lain mengambil keuntungan dari sisi burukmu. kecuali ....." Sofia menggantung kalimatnya, melirik sekilas pada Nando yang sudah menghadap padanya dengan tatapan serius.


"Kecuali jika kau masih belum bisa move on dari Emma." lirih Sofia seraya membuang pandangannya kearah lain. mengatakannya saja sudah membuat hatinya sakit.


"Perkataan macam apa itu?" Dokter cantik itu hanya tersenyum masam. Bahkan Nando tak ingin menjelaskan tuduhannya. Hatinya semakin dibuat sakit karenanya. Sejak awal dia memang tidak berharap Nando punya perasaan lebih padanya. Tapi kenapa sejak mereka tingga bersama perasaan sakit itu kian terasa?


"Bagaimanapun Emma tetap akan berada dihatiku Sofia. Dia wanita pertama yang membuatku. ....."


"hmmm...boleh aku ke kamar mandi sebentar?"


" tentu saja." Dan tanpa ba bi bu lagi Sofia masuk ke kamar mandi, menumpahkan tangis tak bersuara disana, menghilangkan sedikiti sakit dalan sanubarinya. Dia bukan wonder women atau Aisyah yang rela diduakan walau itu dengan bayangan Emma sekalipun.


Semua yang dia lakukan terasa tak berarti. Nando masih sangat mencintai Emma hingga harus mengatakan langsung pada dirinya. Selamanya Emma akan ada dalam hati suaminya. Lalu masihkah ada tempat untuknya?


Ketukan lembut dipintu menyadarkannya untuk segera menyusut air matanya dan membasuh wajahnya dengan air. Untung saja Adzan berkumandang dikejauhan hingga dia memutuskan langsung mengambil wudhu lalu sholat dhuhur.


"kenapa lama sekali?" protes Nando saat pintu kamar mandi terbuka.


"Wudhu sekalian mas. Cepat wudhu juga, kita sholat barengan." dan Nando menggantikan dirinya masuk ke kamar mandi. Sedang Sofia, masuk ke kamar kedua dan menunggu suaminya untuk sholat bersama.


"Sofia.." panggil Nando ketika dia akan beranjak membuka mukenanya usai sholat.


"iya mas."


"Jangan dekat-dekat dengan Andreas. Dia berbahaya." katanya memperingatkan.


"Aku tau mas. Dia bukan mahromku jadi tidak ada alasan bagiku untuk dekat dengannya. Aku juga tidak akan menerima tamu tanpa ijin darimu."


"Syukurlah jika kau tau." Sofia tersenyum kecut.Sekuat hati dia menghibur dirinya sendiri. Walau Nando tak bisa mencintainya. setidaknya pria itu masih peduli dan bertanggung jawab pada hidupnya. Suaminya itu juga menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan baik, maka dia juga harus begitu.Menjadi istri yang baik baginya. Urusan hati, dia akan pasrah pada takdir ilahi karena hanya Allahlah yang maha membolak-balik hati manusia. Saat DIA berkata 'kun' maka semua akan terjadi sesuai kehendak NYA. Hullahuallambishowab.