
Sofia yang terhanyut dalam ciuman lembut Fernando hanya bisa memejamkan matanya, meresapi setiap ******* dan sentuhan suami tampannya itu tanpa kata. Nando bahkan beberapa kali mengingatkan dia untuk bernafas atau membalas ciumannya, tapi Sofia serasa berada di dunia lain sekarang. Dia masih terus memejamkan matanya walau ciuman itu sudah berakhir. Nando mengecup kedua matanya yang tertutup dengan sangat lembut.
"Bolehkah aku menegok calon anakku? Sepertinya dia sangat rindu dadynya." bisiknya lembut ditelinga kiri istrinya mesra. Sofia ingin menolak, tapi sebuah rasa nyaman dan kerinduan begitu menguasai dirinya.
"Sayang..." bisik Nando kembali minta kepastian. Hanya anggukan kecil dari Sofia yang seketika membuat senyumnya terbit. Tak sia-sia dia melakukan perjalanan sejauh ini untuk dapat meluluhkan hati istrinya.
Nando menyusuri ceruk leher istrinya dan memberi beberapa kecupan disana.
Tok...tok...tok..
Aahhh ya Tuhan...siapa yang siang-siang begini menganggu kemesraannya denga Sofia? dasar pengacau! umpat Nando dalam hati. Tak urung dia melepaskan kungkungannya dari tubuh langsing Sofia dan berjalan ke arah pintu.
"Ayah?" diluar sana ayah sofia tersenyum.
"Maaf menganggu nak, ayah cuma mau memberi tau jika mbak Theresa ditelepon sama maminya nak Nando. Sekarang ingin bicara sama kamu dan Sofia, tapi mbak Theresa takut menganggu nak Nando. Makanya minta tolong ayah."
"Enggh..biar saya telepon mom pakai hp saya yah. Ahh ya Tuhan...lowbath." Nando makin kesal karena baru menyadari jika ponselnya mati. Mungkin karena itu momynya menghubungi Theresa.
"Iya yah, sebentar lagi saya dan Sofia akan kedepan."
"baiklah, ayah tinggal dulu." dan sang mertua berlalu meninggalkan Nando yang sedikit kesal karena lagi- lagi gagal menengok calon anaknya, padahal sudah menapatkan lampu hijau dari Sofia.
"Sayang..kau mau kemana?"
"Telepon mama." sahut Sofia pendek lalu berlalu menahului suaminya menuju ruang tamu dimana Theresa menunggu dengan video call yang masih tersambung karena Fransisca pasti akan marah besar jika Theresa berani mematikan teleponnya. Berlahan Sofia meraih ponsel itu lalu duduk dikursi ruang tamu. Theresa segera undur diri dari sana.
"Asalamualaikum mama, bagaimana kabarmu?" sapa Sofia ramah, diseberang sana, sang mertua tertawa bahagia melihatnya.
"Waalaikumsalam sayang, kabar mama baik. Hey, bagaimana kabar calon cucu mama? apa dia menyusahkanmu seperti dady nakalnya?"
"Tidak ma, dia baik-baik saja."
"Sayang jangan lupa minum vitamin, susu hamil, dan makanan bergizi...."
"Kau yang membuatnya begini bodoh!! Kalau saja kau tidak egois dengan permintaanmu itu tentu sekarang menantuku masih jadi dokter. Kau ini tidak tau betapa bangganya mama saat punya menantu seorang dokter? mamamu ini begitu bahagia setelah sekian lama kau permalukan dengan menikahi model sialan itu! Tapi sekarang kau buat dia...."
"Okhh..jadi jika Sofia bukan seorang dokter mama tidak akan menyayanginya?"
"Kau ini bicara apa anak bodoh! mama tetap menyayangi menantu mama."
"Tapi barusan..."
"Mama hanya tidak suka kau berbuat seenaknya. Sudah terlalu banyak yang Sofia korbankan untukmu. Jangan lagi menyakiti hatinya nak." kali ini suara Fransisca melemah. Netra birunya menatap Sofia penuh kasih sayang.
"Sofia tetap akan menjadi dokter mama. Menantu keluarga Hutama akan meraih apa yang dia inginkan." balas Nando mantap. Sofia menoleh terkejut menatap wajah tampan suaminya yang putih bersih, kontras dengan warna kulitnya yang eksotis. Tapi itulah pria bule, mereka begitu menyukai warna kulit seperti dirinya. Tanpa ragu atau malu, Nando mengecup singkat bibir sang istri hingga dihadiahi cubitan kecil dipahanya oleh Sofia. Ada ayahnya disana yang tetap tersenyum lebar meski tak paham apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Inggris yang fasih. Tapi pria paruh baya itu tau jika mereka baik-baik saja melihat interaksi anak dan menantunya dengan sang mertua yang juga terdengar sangat menyayangi putrinya.
"Mas aku...bukannya aku sudah resign?" bisik Sofia lirih, takut ayahnya mendengar. Tapi Nando malah menanggapinya dengan senyum.
"Permohonan resignmu ditolak oleh pemerintah dan kampus. Kau akan tetap bekerja, dan kuliahmu akan tetap lanjut..tapi Nanti saat anak kita sudah lahir nanti."
"Mana bisa begitu mas? aturan program itu tidak begitu." protes Sofia tertahan, menyadari ibu mertuanya masih menyimak pembicaraan mereka.
"Siapa yang bilang tidak bisa? aku bilang cuti ya cuti, tahun depan kuliah lagi.Tidak usah ikut program ini itu. Biarkan orang lain yang lebih membutuhkannya mengambil kesempatan itu. Suamimu ini lebih dari mampu untuk menguliahkan kamu dimanapun." tukas Nando sombong namun diadiahi pekikan keras dan tepuk tangan Fransisca.
"Waaoooww...putra mama yang bodoh ini menjadi sangat pintar!! Aahh nak..mama bangga padamu. Kau dengar Sofia...bantu Nando menghabiskan uangnya. Jangan hidup irit terus. Disebelahmu itu pria kaya raya yang sedang jatuh cinta." kata Fransisca riang. Nando menyeringai menatap sang mama yang berpakaian formal dengan laptop yang masih menyala didekatnya. Mamanya itu sama dengan papanya, gila kerja. Tapi Nando tau Fransisca mamanya bekerja keras juga untuk keluarga mereka. Papanya, Teguh Hutama juga pasti akan kuwalahan mengurusi pekerjaannya tanpa dibantu sang istri yang merangkap menjadi sekretarisnya itu. Sungguh, pasangan romantis.
"Jadi kapan mama pulang?" kali ini Sofia kembali membuat calon nenek paling gaul seantariksa itu kembali tertawa senang.
"Nanti jika kau akan lahiran nak, mama dan papa pasti akan pulang dan mengurus cucu kami." Percakapan terus berlangsung hingga Fransisca pamit akan pulang. Sofia segera mengembalikan ponsel itu pada Theresa yang bersantai ditemani segelas kopi dan camilan disamping rumah bersama kakaknya.
"Sayang..ayo kesana." ajak Nando ke dangau kecil dekat kolam lele milik ayahnya dibelakang rumah yang juga berbatasan dengan hamparan sawah yang menghijau. Nando tiduran berbantalkan paha Sofia menatap pemandangan lepas. Diarahkannya telapak tangan sofia untuk membelai kepalanya.
"Apa yang kau katakan pada mama itu benar?" Sofia bertanya sepelan mungkin. Nando meraih tangannya dan mengecupnya lembut.
"Apa suamimu ini pernah berbohong??"