Dear Husband

Dear Husband
Bawel



"tunggu,aku akan ke kamar Elle dulu." Sofia jadi ingat janjinya untuk mengunjungi kamar putri sambungnya itu sebelum berangkat.


"Aku disini mama." teriak Elle girang.Digandeng oleh Maria,gadis usia tujuh tahunan itu menuruni tangga dengan tergesa.


"Sayang jangan cepat-cepat jalannya.Nanti kamu jatuh." Sofia yang khawatir jika Elle terjatuh bergegas menghampirinya.


"Ma,mau berangkat sekarang?nanti pulang jam berapa?" tangan Sofia mengelus kepala Elle lembut.Di berjongkok untuk menyesuaikan dirinya dengan tinggi badan Elle.


"iya.mama mau berangkat.Nanti jam 1 mama pulang untuk menemani Elle.Kau mau dibawakan sesuatu sayang?"


"Martabak.Elle mau martabak telur dekat tikungan yang biasanya dibawakan teman mama,tante Sonya." Dahi Sofia berkerut.Bingung mau menjawab apa lagi.Dia bahkan tidak tau tempat jualan yang dimaksud Elle.Daerah sekitar rumah saja dia belum paham betul...apa lagi diluar.


"hmmm...baiklah sayang.Nanti mama bawakan ya.Tapi Elle janji nggak boleh nakal selama mama pergi."


"oke mama." sebuah ciuman di pipinya membuat Sofia terhenyak.Ternyata begini rasanya punya anak.Hangat dan bahagia.


"mama pergi dulu ya sayang.Assalamualaikum."


"Walaikumsalam mama." sahut Elle sambil mencari-cari tangan Sofia.Dia mencium punggung tangan itu begitu Sofia mengulurkannya.Dibelakangnya,Nando juga melakukan hal yang sama pada putrinya.


"Maria,jaga Elle baik-baik." perintahnya tegas.Maria mengangguk hormat.


"Ayo!" tanpa menunggu perintah kedua,Sofia berjalan mengekori Nando.


"Aaduuhh." pekik Sofia saat kepalanya menabrak benda keras di depannya.Wanita itu mendongakkan kepalanya keatas,memastikan apa yang dia tabrak barusan.Matanya memincing kala netra hitam pekat itu bersitatap dengan bola mata blue ocean yang melihatnya dengan tatapan menghunus.Ternyata dia menabrak punggung Nando yang menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.


"ke...kenapa?"


"Sini...jalan disampingku!kau istriku Sofia.Harus berapa kali aku mengatakan itu padamu.Mulai sekarang berjalanlah disampingku,bukan dibelakangku seperti pelayan." kata Nando lugas.Sofia seperti sudah kehilangan energi untuk berdebat.Dia hanya mengangguk lali berdiri disamping Nando yang juga terlihat menyesuaikan diri dengan langkah kecil Sofia.


"Selamat pagi tuan muda...nyonya." Alex menyapa ramah,namun hanya dijawab deheman oleh sang majikan.


"Antarkan kami ke rumah sakit."


"baik tuan." Tangan Alex membuka pintu mobil dengan sigap.Sofia masuk terlebih dahulu disusul Nando yang duduk disebelahnya.


"Pulang jam berapa?" tanyanya dingin.Sofia menggidikkan bahu.


"Aku juga belum tau.Akan ada penyesuaian jadwal ditempat baru."


"Hpmu."


"apa?"


"aku bilang kemarikan ponselmu." sedikit ragu Sofia menarik ponsel dari tas kerjanya dan menyerahkannya pada Nando yang sudah menadahkan tangannya.


"kau..." mata Nando mendelik aneh ke arah Sofia membuat wanita muda kebingungan.Rasanya dia tidak melakukan kesalahan.


"Baik tuan.” hanya beberapa menit perjalanan,mereka tiba di toko ponsel besar yang baru saja buka.Nando menyerahkan ponsel Sofia pada Alex.


"Ganti dengan yang baru." katanya tegas.Alex menerimanya kemudian keluar dari mobil lalu menuju toko dengan gerakan cepat.


"ehhh tidak usah.Biarkan saja begitu.Nanti biar ku serviskan saja." larang Sofia.Nando menatapnya tajam.


"kau ingin apa?servis hp?berhenti mempermalukan aku Sofia." desis Nando sedikit berat.Kilatan kemarahan kembali nampak di cahaya matanya.


Hanya beberapa menit,Alex sudah kembali dengan paperbag kecil ditangannya.


"Silahkan tuan." Nando menerimanya lalu mengeluarkan isinya.Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan harga fantastis berada di tangannya.Satu tangannya yang lain memegang ponsel lama Sofia yang layarnya terlihat retak karena jatuh saat dia sedang terburu-buru menangani pasien darurat dikampung.


Sofia bukan wanita bodoh yang tidak tau berapa harga ponsel itu.Bukan barang murah,bahkan seorang dokter pemerintah seperti dirinya baru bisa membelinya setelah beberapa bulan bekerja tanpa ikut memakan gajinya.Wajah cantiknya mencebik kesal.Ponsel lamanya juga tidk buruk-buruk amat,bahkan sudah punya ram lumayan dan cukup canggih walau memang tidak sebaik ponsel baru dari suaminya.Suami??apa pria disampingnya ini layak disebut suami?


"Pakai ini.Alex sudah memindahkan semua akun dan data penting kesana.Dan ini,kukembalikan ponsel lamamu,takutnya ada kenangan lain dengan benda ini." Sofia menerima keduanya lalu memasukannya ke dalam tas tanpa banyak berkata-kata.


"Apa kau tidak bisa mengucapkan terimakasih?" Nando memincingkan matanya,lagi-lagi terlihat kesal.


"Aku tidak minta kau melakukannyakan mas?Yang kau lakukan ini pemborosan.Aku tidak suka itu.Kau tidak lihat berapa banyak orang diluar sana yang bahkan untuk makan besok saja masih kebingungan.Kau sungguh keterlaluan mas." sungut Sofia lebih kesal.


"Itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya Sofia.Yang kulakukan juga bentuk rasa syukurku pada sang pencipta.Aku memanfaatkan semua anugerah itu untuk menyenangkan hati wanita yang sudah dia takdirkan menjadi istriku.Dari sisi mana aku melakukan kesalahan?"


"Kau selalu saja pintar berargumen mas." sungut Sofia sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela.Yang dikatakannya amatlah benar.Nando bukan tipe pria yang akan mudah menyerah.Baik benar ataupun salah,dia akan tetap ngotot pada pendiriannya.Jadi tidak ada gunanya melawan,dia akan tetap mendapatkan apa yang dia mau dengan alasan apapun.


Disisi lain,Nando memandang lekat Sofia yang menoleh kearah lain.Nafasnya tercekat.Dia panggil apa tadi?mas????dua kali bahkan.Yang pertama dia mungkin tak begitu perhatian,tapi yang kedua?ada yang berdesir nyaman di dalam dadanya.Semula dia menolak dipanggil begitu karena takut disamakan dengan mas-mas ojol atau pedagang pinggir jalan.Tapi makin kesini...panggilan itu malah membuatnya nyaman dan terasa familiar.


"Sudah aku masukkan kontakku disana.Segera angkat saat aku telepon juga balas jika aku mengirim pesan."


"ya." kenapa jawabannya pendek sekali?mana panggilan yang tadi?kenapa Sofia tidak menyebutnya?apa istrinya itu lupa?


"Sofia!" panggilnya dengan wajah serius.


"Apa lagi sih mas?aku sudah menjawab.Bisa nggak sih mas Nando membiarkan aku tenang sebentar?bawel amat!" protes Sofia seperti berondongan petasan.Tapi Nando tersenyum simpul sambil pura-pura menatap layar ponselnya.Ternyata Sofia tidak lupa.Bahkan menyebutnya berulang-ulang.Hatinya sangat bahagia,entah untuk apa.


"Jangan lupa pesanku."


"iya."


"masnya mana?" tagih Nando dengan penuh harap yang dia sembunyikan dalam ekspresi datarnya.


"apa itu harus?"


"Tentu saja.Kau bicara denganku kan?jadi jangan hanya iya saja."


"Baik mas Nando sayang." balas Sofia sangat kesal.Ingin dia mencakar wajah suami anehnya itu.Namun Nando sudah keburu senang dengan panggilan tadi.Sudah mas..ditambah sayang lagi.Ya Tuhan....bolehkan Nando bahagia???