Dear Husband

Dear Husband
Diam



"Apa Rafa sudah tidur?" tanya Nando sambil membelai kepala putra tampannya penuh kasih sayang. Ada rasa sedikit kecewa karena Sofia membawa Rafa tidur bersama mereka. Tidak biasanya istrinya itu melakukannya. Biasanya Rafa akan tidur dikamar yang sama dengan mereka tapi berada dalam box bayinya. Tapi sekarang? istrinya itu malah menidurkan Rafa diantara mereka. Bukan tidak boleh, tapi sungguh Nando risih dan agak takut jika kebiasaannya memeluk Sofia saat tidur bisa membahayakan putra mereka. Dalam kata lain tertimpa tubuhnya. Apa itu artinya Sofia masih marah padanya?


"Sayang bisakah kau mengambilkan minyak angin untukku? tubuhku sepertinya kurang fit." pinta Nando penuh harap. Memang, sejak siang dia belum makan karena sibuk meeting. Pulang-pulang ada saja masalah dengan istri tercintanya hingga dia malas makan Akhirnya perutnya sedikit mual.


Tanpa banyak bicara Sofia mengambil kotak P3K dan mengambil minyak angin brand terkenal tanah air lalu menyerahkannya pada Nando. Tak ada penjelasan atau omelannya saat memberikan sesuatu yang ada kaitannya dengan obat-obatan seperti biasanya. Dokter cantik itu mengunci mulutnya rapat-rapat padahal dia tau betul tidak ada yang namanya masuk angin di dunia kedokteran.


"Bisa bantu aku mengoleskannya?" lagi-lagi minta bantuan. Kali ini juga Sofia melakukannya tanpa bantahan. Dia membalurkan minyak angin itu diperut hingga dada juga pada punggung hingga pinggang Fernando lalu mengembalikan minyak angin itu pada kotaknya.


"Bisa bikinkan aku jahe hangat dengan gula merah seperti biasa? mungkin perutku akan lebih baik karenanya." Pinta Nando lagi. Sebenarnya bukan itu yang sepenuhnya dia mau. Mungkin itu hanya akal-akalannya saja agar Sofia sedikit perhatian padanya. Tapi nyatanya? Nando hanya mendapatkan reaksi yang sama. Wajah datar dan persetujuan. Dia ingin Sofia yang biasanya bawel, cerewet dan perhatian. Tak apa jika harus mendengarkan dia ceramah, itu akan lebih baik dibanding saat dia diam atau lebih tepatnya mendiamkannya.


Nando masih mengelus pipi gembul Rafa saat Sofia kembali masuk ke kamar mereka. Meletakkan jahe hangat diatas meja tanpa sedikitpun mau bersuara. Wanitanya itu malah langsung mengambil tempat disamping Rafa lalu menyelimuti tubuhnya.


"Sayang apa kau mau tidur sekarang? ini masih terlalu sore untuk tidur. Mau nonton tv?" tawar Nando sambil meraih gelas minumannya lalu menyeruputnya sedikit. Rasa hangat yang mengalir ditenggorokannya sedikit membuat mualnya berkurang.


"Sayang...." saat Nando menoleh, Sofia sudah tertidur. Beberapa kali Nando memanggil lirih, namun yang terdengar hanya tarikan nafas teratur sang empunya tubuh.


"Padahal aku baru mau meminta dia memeriksaku." gerutunya kesal. Tapi dia tak cukup punya keberanian untuk membangunkannya. Wajah lelah Sofia sudah membuatnya jatuh iba. Dia tau ibu anaknya itu sedang sangat sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya yang memang padat. Nando amat paham itu. Berlahan dia membaringkan tubuhnya miring menghadap anak istrinya. Sebuah senyum manis menghiasi wajah tampan sang tuan muda Hutama. Jika ada yang bertanya apa dia bahagia? maka jawabannya adalah dia sangat bahagia. Dia yang dulu merasa sudah hancur dan tak percaya akan cinta menjadi kembali kuat, menapaki jalan kehidupan yang tak selamanya lurus dan mulus. Jalan yang kadang terdapat tanjakan dan turunan tajam. Ada kalanya terdapat onak dan duri diantaranya. Dan semua itu berkat kehadiran seorang wanita bernama Sofia dalam kehidupannya. Senyum itu terus terkembang hingga kantuk membuatnya tertidur menyelami alam mimpi.


Kicauan burung yang bertengger di dahan pohon taman buatan disekeliling kediaman keluarga Hutama membangunkan Nando dari tidurnya. Matanya mengerjab. Entah kenapa pagi ini dia merasa amat lesu dan malas terjaga. Saat menoleh, tak didapatinya Sofia atau Rafa disana. Tentu istrinya sudah memandikan dan mendandani si gembul dari tadi. Tak ada acara bangun siang dihari libur bagi sang dokter. Pada hari libur dia cenderung bangun seperti biasa, mengerjakan hobinya. Kalau tidak memasak menu baru ya berkebun, kalau tidak begitu mungkin bersih-bersih kamar pribadi mereka karena baik dirinya maupun Sofia sama sekali tak mengijinkan orang lain masuk ke sana. Semua tergantung moodnya saja.


"Apa kau melihat nyonya, Maria?" Tentu saja Maria langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik padanya.


"Nyonya sedang jalan-jalan dengan tuan kecil di sekeliling kompleks tuan." jawab Maria sopan.


"Keliling? apa taman rumah kurang luas untuk jalan-jalan? apa yang dia cari diluar?" gerutu Nando sambil bersungut kesal. Sungguh dia tidak suka jika istrinya itu bertemu orang lain, apalagi pria yang mungkin menarik hatinya. Bukan tak berdasar, kompleks itu memamg kawasan elite yang dihuni orang-orang kelas atas. Bukannya takut kalah, tapi Nando tak ingin membuat masalah dengan tetangga karena rasa posesif akut dalam dirinya.


"Panggilkan pak Mun. Suruh panaskan mobil." perintahnya sambil berlari kecil menaiki tangga kembali ke kamarnya. Dia hanya ingin ganti baju lalu menyusul Sofia.


🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎


Hai readers.....


Maafkan author yang telat update untul kalian semua ya..


Bukannya nggak kangen membuat kalian terNando-Nando, tapi authornya sedang tidak enak badan. Pengen nulis tapi kondisinya lagi drop bgt. Berkat doa kalian semua, alhamdulilah sekarang sudah berangsur mambaik.


Terus simak Novel ini dan beri dukungan kalian ya...ILOVE U all😘😘😘😘