Dear Husband

Dear Husband
Peraturan



Shift malam yang melelahkan saat tubuh lemas Sofia memasuki rumah besar. Ini hari minggu, hari dimana dirinya bisa bertemu dan mengunjungi Elle dirumah Bella. Dan Sofia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Menahan rindu untuk tidak bertemu Elle selama seminggu adalah siksaan kedua baginya setelah merasa sangat capek lahir batin karena perasaan resah menunggu Nando menghubunginya. Menunggu....banyak orang yang bilang jika menunggu adalah pekerjaan paling membosankan bukan? yang sebenarnya bukan membosankan, tapi menyiksa perasaan.


Apa dia terlalu berharap pada pria itu? mungkin saja iya. karena sejak Bella mengajaknya pergi belanja dan ke salon beberapa waktu lalu, pikirannya tentang nasib pernikahannya menjadi topik utama yang jadi gejolak dalam jiwanya. Berpisah bukanlah solusi terbaik. Ada satu jiwa yang harus dia pikirkan. Elle! anak itu sudah banyak menderita karena orang tua kandungnya. bahkan dia sudah berjanji pada Nando akan tetap menyayangi anak itu dan bertahan dalam pernikahan ini apapun yang terjadi.


Menarik nafas panjang, dia mendorong pintu pelan dan berjalan masuk dengan sisa tenaga yang masih di miliki. Lelah yang menderanya membulatkan satu tekad. Dia harus tidur walau sesaat sebelum bertemu dengan Elle.


"Nyonya belum pulang tuan, mungkin sebentar lagi. Ya, nyonya Sofia baik-baik saja." suara bi Mimi halus di dalam dapur. Sofia yang akan naik ke atas spontan menghentikan langkahnya kala mendengar namanya disebut. Jarak dapur dengan tangga memang tak jauh, dan itu memudahkannya mendengar percakapan asisten rumah tangga senior itu dengan entah siapa.


"Siapa bi?" tanya Sofia melonggokkan kepalanya di dapur yang tak bersekat dengan ruang makan luas disana. Seketika juga bi Mimi terlihat gugup lalu menutup teleponnya tergesa.


"Ehh...anu...tadi..itu...tuan muda yang telepon nyonya." perempuan paruh baya itu terlihat gugup dan kaget. Mungkin karena tidak menyangka Sofia ada dibelakangnya. Posisinya yang menghadap dinding memang tidak memungkinkan dia melihat pintu keluar. Lagi pula sang nyonya juga tidak membunyikan bel atau bersuara ketika memasuki rumah.


Sofia hanya mengangguk kecil. Malas rasanya menanyakan apa Nando menanyakan keberadaanya atau tidak. Dia tidak ingin terlalu berharap, takut sakit nantinya. Dia akan beranjak naik saat bik Mimi bersuara.


"Tuan menanyakan anda nyonya." Langkahnya terhenti. Tak terasa dia mencengkeram ralling tangga kuat.


"Iya saya dengar." jawab Sofia datar. Dia sudah kebal pada sikap Nando. Dua minggu lebih jauh darinya tanpa kabar berita sudah membuatnya cukup berlatih melapangkan dada. Dia cukup tau diri. Selama ini dia hanya menumpang dirumah itu. Semua bersikap hormat padanya karena dia masih berstatus sebagi menantu keluarga Hutama, tidak dari padanya. Tapi apa dia masih bisa berharap banyak setelah kata-kata Alex beberapa waktu lalu? ya, sekretaris yang juga adik iparnya itu berkata agar Sofia tidak menunggu Nando pulang karena dia akan berada di Inggris dalam waktu lama.


Tanpa ekspresi Sofia menaiki tangga. Andai saja bukan Bella yang memaksa dirinya untuk tetap tinggal, mungkin dia akan memilih mengontrak rumah kecil untuk tinggal. Setidaknya, disana dia bisa bahagia tanpa harus menjaga sikap dan menahan diri. Dia bukan wanita bodoh yang tidak tau jika Nando sedang menghukumnya.


Beberapa jam tertidur membuat tubuhnya sedikit segar. Sofia bangkit dari tidurnya lalu menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya langsung dibawah shower. Merasa puas dengan acara mandinya, wanita muda itu segera berganti pakaian, memoleskan lipstik tipis dan beranjak ke bawah. Sejak mengikuti kursus kilat merias diri dari Bella, dia memang mengalami banyak kemajuan.


"Nyonya..."


"hmmm ya bik?"


"Anda mau kemana?"


"ohh...saya mau kerumah nyonya Bella, menjenguk Elle."


"Maaf, bisakah anda makan dulu? anda sudah melewatkan sarapan pagi anda nyonya." bik MiMi tau pasti sang majikan belum makan. Tadi saat datang dia terlihat sangat lelah dan langsung istirahat dikamarnya.


"Nanti saja bik, saya belum lapar."


"Tapi tuan menyuruh saya mengingatkan anda agar tidak telat makan." Sofia menatap jengah.


" Bilang saja saya sudah makan."


"Bik, saya tidak akan bilang apa-apa pada tuan Nando. Apa selama ini bibi melihat saya ini tipe wanita pengadu?" bi Mimi menggelengkan kepalanya. Sang nyonya baru memang orang yang dewasa, mandiri dan sibuk. Dia juga ramah dan baik hati. Dia juga sangat peduli pada orang lain. Jika ada pelayan atau pengawal yang tidak enak badan, dia akan senang hati memeriksa mereka dan memberi pengobatan gratis, tentunya tanpa sepengetahuan Nando.


" Tapi saya juga melakukannya karena keinginan pribadi nyonya. Saya tidak ingin nyonya sakit."


"hmmm...baiklah." putus Sofia kemudian. Dia tidak ingin mengecewakan wanita yang terlihat sangat tulus padanya itu. Sofia menarik kursi dan duduk disana.


"Anda mau makan apa nyonya. Saya akan membuatkannya."


"Hmmm...tidak usah bik. Saya bisa makan apa saja yang sudah siap."


"Tapi....." tiba-tiba bi Mimi bingung. Yang tersisa hanya menu tadi pagi. Sama seperti yang dimakan para pelayan. Jam makan siang masih lama, dia juga baru menyiapkan bahanya saja. Biasanya jika Nando maupun Emma yang ada dirumah, mereka tidak akan segan menyuruh membuatkan menu yang mereka inginkan. Tapi Sofia? dia wanita yang berbeda.


"Kenapa?"


" Hanya....hanya ada telur kecap dan sayur lodeh menu kami tadi pagi nyonya." jawab bik Mimi sedikit tidak enak hati. Bukan apa-apa, dalam peraturan keluarga Hutama, menu majikan dan pembantu memang kadang berbeda. Baru jika makanan itu tidak dimakan, para pelayan boleh memakanya. Ini malah terbalik, istri sang majikan malah makan belakangan.


"Itu saja bik. Tolong bawa kemari."


"Tapi nyonya...apa anda tidak keberatan?" Sofia tertawa pelan.


"Tidak bik. Apa tuan Nando menganggarkan dana yang cukup untuk urusan dapur?"


"iya....sangat cukup nyonya."


"lalu kenapa menu makanan dibuat berbeda?"


"Itu ...itu karena peraturan rumah ini..."


"Lupakan peraturan itu. Mulai hari ini semua yang kami makan juga kalian makan."


"Tapi nyonya itu....tuan..."


"Saya istri tuan Nando bukan? dia juga menyerahkan urusan rumah ini pada saya. Jadi selama saya masih menjadi istri tuan Nando, peraturan dirumah ini akan sesuai dengan keinginan saya. Tidak ada yang berbeda dirumah ini." tegas Sofia. Bi Mimi tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Sang nyonya ternyata lebih peka dari siapapun dirumah ini.


"Bik, sini. Duduk sini, temani saya makan." Sofia menunjuk kursi disampingnya. Awalnya bi Mimi menolak dan tidak enak hati tapi Sofia mengancam tidak mau makan jika tidak ditemani. Mau tidak mau, wanita itu menurut dan duduk disana.