
Sofia menepuk kepalanya pelan, meruntuki dirinya yang tetap terpaku di depan pagar rumah Maya karena tetap pada mode terpesona. Hal yang disesalinya hanyalah dia tidak sempat memperhatikan wajah Yusuf karena begitu terpaku pada sepasang matanya yang cemerlang. Dia membuka pintu pagar lalu memasuki rumah.
Rumah minimalis yang bercat putih itu terlihat sangat bersih. Maya membelinya pada awal dia ditugaskan disana dengan harga murah karena pemiliknya terjerat hutang. Setelah renovasi berulang kali, jadilah rumah ini seperti sekarang. Bersih dan nyaman ditinggali.
Sofia mencari-cari kamar tamu yang letaknya paling depan dekat ruang tamu. Kamar itu satu-satunya yang bisa dia tempati karena Maya mengunci kamar utama dan dua kamar putra-putrinya. Dia memang belum sempat memindahkan barang-barang mereka. Sofia cukup paham. Dia sudah banyak bersyukur bisa diijinkan tinggal disana tanpa mengontrak atau membayar sewa.
Iia membuka pintu kamar, menarik masuk kopernya dan mendudukkan dirinya diatas bed empuk berukuran sedang. Kamar yang tak luas namun rapi dan harum. Hanya ada satu almari dan meja rias disana. Jendela yang langsung menghadap ke jalan membuat Sofia tergerak untuk membuka kordennya. Hmmm...rumah yang benar-benar nyaman dilingkungan yang tenang pula.
Pikirannya kembali mengembara pada sosok Yusuf. Pria yang memang hanya dia lihat sekilas karena dia yang sibuk dengan pikirannya sendiri juga karena keadaan yang memaksa mereka berdua sama-sama sibuk menolong korban kecelakaan tadi. Ya....kecelakaan tadi membuatnya kembali berpikir keras.
Tadi Yusuf mengaku jika dia bisa menolong karena pernah aktif di PMR sejak remaja. Tapi melihat hasil kerjanya yang rapi, cekatan dan cepat pasti membuat siapapun menduga dia seorang dokter. Pertolongan pertama yang dia lakukan bahkan tidak mungkin dilakukan oleh seorang perawat sekalipun karena melanggar kode etik. Tapi pria itu melakukannya dengan santai tanpa takut. Tunggu...dia...dari mana dia mendapat ide membuat garis-garis pada para korban tadi hingga polisi mudah melakukan tugasnya. Dia juga tak mungkin seberani dan setegas tadi jika hanya berprofesi sebagai driver taksi online. Satu lagi...saat polisi datang pria itu menarik dompet dari saku celananyanya dan menunjukkan sesuatu pada polisi tadi, tanpa menjadi saksi, tanpa dimintai keterangan apapun lagi. Siapa sebenarnya Yusuf?
Banyak memikirkan Yusuf membuat Sofia tertidur hingga adzan ashar bergema. Dia tersentak dari tidurnya, memijit pelipisnya yang berdenyut sakit lalu berajak ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket lalu sholat ashar. Perutnya yang keroncongan memaksa dirinya keluar rumah karena memang dia belum sempat belanja untuk keperluan rumah. Dia juga butuh asupan makanan saat ini.
'Sebaiknya aku beli di ujung jalan saja. Sepertinya ada penjual makanan disana.' gumamnya lalu beranjak keluar. Matanya terbelalak kaget saat mendapati mobil yang mirip dia tumpangi tadi terparkir di seberang jalan. Tepatnya di depan rumah yang berhadapan langsung dengan rumahnya. Rumah megah berlantai dua yang terlihat sepi dari luar. Pagar yang menjulang menutupi rumah itu walau tak sepenuhnya karena pilar-pilar besarnya.
'Apa aku salah lihat ya?' gumam Sofia lagi. Tangannya urung membuka pagar dan membuka aplikasi online tadi. Benar, nomer platnya sama. Berarti itu benar mobil tadi. Tapi....rumah itu terlihat paling megah dibanding sekitarnya. Tidak mungkin profesi pemiliknya hanya sopir taksi online. Atau penghuninya baru terkena PHK dan belum mendapat pekerjaan baru ya?
'ahh..apa hubungannya denganku? kenapa aku jadi sekepo ini?' Sofia kembali menggerutu kesal pada dirinya yang berubah bagai emak-emak rempong yang senang mencari bahan ghibah dari tetangga untuk merasa bahwa dirinya paling baik dan benar.Wahai emak-emak di dunia...lebih baik anda baca novel saya dari pada capek ghibah dan berujung dosaππ.
Cepat dia membuka pagar lalu menutupnya kembali. Dia berjalan sesantai mungkin untuk menghemat tenaga yang sedikit terkuras karena perut yang keroncongan. Sampai di ujung gang, yang dia dapati hanya penjual sate ayam dan bakso yang berjualan secara berjajar disana. Sofia memesan satu porsi sate dan lontongnya lalu berjalan pulang.
Mau tidak kepo bagaimana jika saat dia pulang, pintu pagar rumah depannya terbuka pagarnya. Mobil hitam tadi keluar berlahan dengan dua orang pria di dalamnya, tapi Sofia yakin tak ada Yusuf diantara keduanya. Ahh..dia tak ingin berpikir macam-macam. Yang dia butuhkan cuma cepat makan, lalu menyiapkan berkas yang akan dibawa ke kantor dinas besok, juga keperluannya ke kampus baru karena dia harus datang melapor kesana.
Sofia baru akan membuka laptopnya saat ponselnya berdering. Ada nama Maria disana. Pasti Elle yang menyuruhnya karena anak itu memang sering meneleponnya dengan ponsel pengasuhnya itu.
"Mamaaaa....kapan kau pulang? Aku kangen mama." pekik sang bocah gembira.
"Elle, ucapkan salam dulu ya." Seketika Elle tersadar dan mengucap salam. Sofia membalasnya. Ibu dan anak itu mengobrol cukup lama.
"Sekarang papa sudah tidak peduli padaku." keluh Elle yang mulai berkeluh kesah dan mengatakan jika papanya menjadi sangat sibuk diluar dan pulang larut malam. Sofia membesarkan hatinya dan berulang kali menasehati Elle yang merajuk. Dia juga menghiburnya hingga moodnya membaik dan kembali riang dan menceritakan sekolah baru dan teman-teman barunya juga.
"El, boleh mama bicara sama mbak Maria sebentar?"
"Tentu saja ma. Tapi maaf,setelah ini aku harus siap-siap karena guru les pianoku akan segera datang."
"ya sayang, bersiaplah. Biar mama bicara dengan mbak Maria sebentar." Elle memanggil Maria dan segera berlari ke kamar mandi. Sebentar lagi memang guru privatnya datang.
"Malam juga Maria. Bagaimana perkembangan Elle?"
"Nona kecil sehat nyonya, tapi dia sangat kesepian."
"Kau bisa mengajaknya jalan-jalan untuk menghiburnya Maria."
"Nyonya cepatlah pulang. Disini tidak lagi seperti saat anda ada. Kami semua dalam masalah jika banyak bicara nyonya. Tolong segeralah kembali kemari." kata Maria setengah berbisik. Terlihat sekali dia ketakutan entah karena apa.
"Aku belum bisa kembali Maria. Maafkan aku. Masih banyak tugas yang harus kulakukan."
" Tapi nyonya...jika kau tidak ingin melakukannya untuk kami..tolong lakukan untuk nona kecil. Dia sangat tertekan nyonya."
"Setidaknya katakan apa alasanku untuk kembali." tegas Sofia. Dia harus tau apa yang terjadi disana hingga Maria segigih iitu menyuruhnya pulang. Selama bersamanya, tak pernah dia melihat Maria segugup dan setakut itu.
" Ini...ini karena nyonya Clara." Maria menjeda kalimatnya.
"Lanjutkan Maria."
"Nyonya Clara yang sekarang berkuasa disini. Dia melakukan apapun yang dia mau. Tuan tidak bisa menghalanginya nyonya."
"Kenapa? dia pemilik rumah."
"Itu karena....."
klik.....
sambungan terputus, meninggalkan Sofia yang dipenuhi berbagai pertanyaan dalam benaknya.
*
*
*
Mohon maaf sebelumnya ya readers..authornya sedang dalam mode slow up karena sibuk mengurus anak yang mau masuk sekolah baru. Tapi tetap berusaha up kok. Minta doanya ya....Love U allπππ