
"Seseorang? siapa?" tanya Fernando dengan raut penasarannya. Tapi sayangnya tak ada yang berniat menjawab pertanyaannya. Semua orang menyibukkan diri dengan perbincangan seru seolah mengabaikan pertanyaan sang tuan muda Hutama. Hingga pandangan Nando terfokus pada mamanya yang akan beranjak membawa Richard ke kamar utama di lantai bawah.
"Mom...tunggu!!"
"Apa?" tanya Fransisca singkat dan urung melangkahkan kakinya.
"Seseorang siapa yang momy maksud?"
"Tanya hatimu. Siapa orang yang amat peduli padamu sekarang!" ketus momy Fransisca galak. Walau tak tega melihat Nando hidup sengasara, tapi wanita paruh baya itu juga tak serta merta memaafkan putranya.
"Kalian semua peduli padaku." balas Nando yang dihadiahi delikan tajan oleh Fransisca.
"Itu karena kami saudara dan orang tuamu bodoh!" sarkasnya sambil melenggang pergi. Fernando yang sudah sangat ingin tau mengikutinya masuk kamar hingga baby Richard dimasukkan ke dalam box bayinya yang awalnya adalah milik Rafa. Nando yang bersikeras menggantinya dengan yang baru terpaksa mengalah pada sang menteri keuangan rumah tangga yang berdalih semuanya masih bagus dan harus hemat. Entah apa motif Sofia sebenarnya. Padahal uang mereka masih lebih dari cukup untuk menyambut kelahiran Richard. Mereka juga tak akan jatuh miskin hanya karena memberikan barang baru bagi si kecil. Tapu lagi dan lagi Nando dipaksa mengalah dan bertekuk lutut karena alasan klasik. Ini sudah tradisi keluarga Sofia di kampung. Adik akan memakai bekas sang kakak jika barangnya masih layak pakai.
"Lalu...apa maksud momy dia...Sofia? tapi rasanya itu tidak mungkin." Nando mulai berpikiran lain. Mana mungkin Sofia memohon pada mama dan keluarganya jika wanitanya itu selalu menekankan kemandirian. Jika benar perkataan momynya, mungkinkah Sofia akan memaafkannya mengingat sang dokter mengajukan syarat perkembangan Hutama grup atas kerja kerasnya sendiri??
"Harusnya kau tau itu." balas Fransisca cuek.
''Apa itu berati jika rumah tangga kami tak bisa dipertahankan lagi?" tanya Nando lemah. Ayah dua anak itu menyugar rambutnya, frustasi.
"Tutup mulutmu Fernando! bagaimana kau bisa berkata seperti itu saat kalian baru saja mendapatkan anggota keluarga baru."
"Sofia sendiri yang mengatakannya mom. Dia akan memaafkan aku jika aku bisa membagun kejayaan Hutama grup atas kerja kerasku sendiri. Jika dia meminta kalian membantuku bukannya itu artinya selamanya dia tak akan memaafkan aku dan pada akhirnya akan meninggalkan aku mom?" Fransisca mendekat, memegang kedua lengan putra tersayangnya.
"Kau memang pebisnis yang hebat, tapi tetap bodoh soal perasaan. Dengar Fernando, apa yang dikatakan wanita adalah sesuatu hal yang bertolak belakang dari keinginannya. Jika Sofia tak memaafkanmu dia tak akan tinggal lebih lama di rumahmu, merawatmu hingga menemanimu. Satu lagi...dia tak akan memohon pada momymu ini untuk melepaskanmu. Jadi momy minta...sayangi istri dan anakmu mulai sekarang. Jangan biarkan hal lain membuat mereka merasa dinomor duakan. Sofia wanita baik, kau hanya perlu terbuka padanya." Fernando memeluk momynya erat. Ibunya adalah tetap ibunya, tegas dan keras diluar, namun hatinya penuh kasih dan cinta.
"Terimakasih mom." bisiknya diangguki Fransisca..
"Sekarang mom akan membawa mereka semua pulang. Istrimu butuh istirahat. Dan ingat, panggil semua pekerja dan pengawalmu karena mom tak ingin keluargamu kenapa-napa. Mulai besok kurangi jam kerjamu karena anak istrimu butuh perhatian. Kau tak akan jatuh miskin hanya karena meluangkan waktu untuk mereka." lagi-lagi Nando menganggukkan kepalanya takzim.
Seperti perkataannya, Fransisca segera berpamitan karena tak ingin menganggu waktu istirahat putra, menantu dan cucu-cucunya. Sofia yang masih kangen mereka harus menelan kekecewaannya karena mereka tak menginap. Tapi baik keluarga Karin, Bella maupun papa mamanya tetap berjanji akan berkunjung esok hari karena dua minggu ini mereka dalam masa liburan. Tentu saja Sofia amat senang mendengarnya. Dia jadi tak kesepian dan punya teman merawat Richard yang tentunya butuh perhatian ekstra.
"Sayang kau harus istirahat." ucap Nando saat semua tamunya sudah pergi ke kediaman utama milik dady momynya. Sofia menurut, dia berjalan berlahan dengan bergelayut dilengan sang suami yang langsung mengajaknya merebahkan diri.
"Boleh aku bertanya sesuatu sayang?" lirih Nando saat mereka berdua sudah berada di atas ranjang besarnya. Sofia menoleh, memincingkan matanya.
"Hmmm..apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kau terlalu percaya diri mas." balasnya memalingkan wajah. Nando menghela nafas beratnya.
"Sangat. Aku bahkan menganggapmu sangat mencintaiku Sofia. Kau tak bisa kehilangan aku."
"Semua tak seperti yang kau bayangkan mas."
"Apanya yang tidak sama? kau tak mungkin melakukan semua ini jika tak mencintaiku." buru Fernandon penuh penekanan. Rasa percaya dirinya seolah timbul ke permukaan karena perkataan sang mama tadi.
"Itu....itu karena aku kasihan padamu." iris blue ocean itu melebar dan dalam sekejab menatapnya amat tajam. Lembut, di pegangnya dagu istrinya itu lalu diarahkan untuk menatapnya.
"Aku tidak ingin belas kasihmu sayangku..yang kuinginkan adalah cintamu. Lagi pula kenapa kau harus tergagap saat mengatakannya? apa kau sudah mencoba membohongi dirimu?" desak Nandon membuat Sofia diam seribu bahasa. Dengan gerakan slow motion, sang tuan muda mendekatkan bibirnya pada bibir basah sang istri yang masih menatapnya hingga kedua benda kenyal itu bertemu. Tak ada penolakan hingga Nando memaksa **********. Lagi-lagi dia dibuat gemas kala melirik pipi Sofia yang memerah lengkap dengan matanya yang terpejam pasrah.
"Kau sangat cantik sayang. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, juga menjadikan aku seorang ayah dua jagoan sekaligus. Terimakasih honey." bisiknya lalu meneruskan ciuman panjangnya.
"Kenapa tak membalasnya? apa kau masih marah padaku? atau kau sudah tidak mencintaiku?"Tentu saja Nando yang merasa melakukan ciuman sepihak jadi penasaran. Sontak Sofia membuka matanya dan makin tersipu saat mereka berada dalam jarak begitu dekat.
"A...aku...ak...aku..."
"Aku akan mundur jika kau masih belum memaafkanku Sofia." Ucap Nando dengan wajah dipenuhi kesedihan. Entah kenapa Sofia secara tiba-tiba memeluk leher suaminya erat, memagut bibir seksi itu sepenuh hati lalu menjatuhkan kepalanya dalam pelukan sang lelaki, memeluk tubuhnya kuat.
"Tetaplah disini, tetaplah begini hubby. Benar, aku tak bisa hidup tanpamu. Aku..aku sangat mencintaimu hubby." Fernando mengecup pucuk kepala sang istri penuh cinta, menyeka air mata yang jatuh di pipinya dan kembali mengecupi bekasnya seolah tak ingi melihat jejak tangisan di pipi sang ratu hati.
"Aku juga tak bisa hidup tanpamu sayangku. Aku berjanji akan jadi suami dan ayah terbaik untuk kalian." Sofia makin membenamkan kepalanya, mencari ketenangan dan kehangatan disana, dijalan syurganya.
Cinta memang tak selamanya indah, mahligai rumah tangga juga tak selamanya bahagia. Akan ada riak dan badai yang mencoba menghalangi mahligainya. Hanya perlu tekat yang kuat, pribadi yang terbuka dan saling percaya. Maafkanlah selagi itu tak bertentangan dengan kata hatimu dan cintailah cinta.
💓💓💓💓💓💓💓
Hay readers....
Sampai disini dulu cerita Nando dan Sofianya ya. Author tidak akan menambah bab lagi nantinya. Sebagai pengobat rindu kalian pada pasangan ini, author sudah menyiapkan sekuelnya walau masih dalam tahap review. Selambatnya besok ceritanya sudah bisa kalian simak. Jangan lupa mengunjungi dan memberi dukungan kalian pada novel tebaru saya ya. Terimakasih dan sampai jumpaaa..😘😘😘😘😘😘😘😘