Dear Husband

Dear Husband
Doa



Alex sudah menunggu di ruang tamu saat Nando keluar dari kamarnya diikuti Sofia yang memilih duduk di kursi rodanya. Berjalan satu-satu akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengantar suami tercintanya hingga ke pintu utama. Maria mendorong kursi roda sang nyonya yang masih menggendong putranya.


Pakaian semi formal yang dipakai Nando sungguh membuatnya terlihat muda, tampan dan fresh. Entah untuk yang keberapa kali Sofia harus mengakui dalam hati jika suaminya itu berpuluh-puluh kali lebih tampan dari sebelumnya.


"Semua sudah saya siapkan tuan muda. Silahkan." lapor Alex yang langsung mengambil alih koper kecil tuan mudanya dan mendorongnya keluar.


"Sayang, baik-baiklah dirumah. Jaga dirimu dan Rafa. Selalu ingat pesanku." Sofia hanya mengangguk paham. Lidahnya sudah tidak bisa berkata-kata. Hanya kelopak matanya yang penuh genangan air mata. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak saat ini. Seperti ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Tapi buru-buru ditepisnya perasaan itu. Mungkin dia hanya baper karena akan ditinggal keluar kota.


Sofia mencium punggung tangan suaminya dan dibalas kecupan lembut dikening dan pipinya. Nando juga menciumi Rafa yang belum juga terjaga dalam gendongan momynya. Beberapa kali bayi lucu itu menggeliat kegelian, namun tetap tertidur dengan nyamannya.


"Aku pergi. Asalamualaikum sayang." pamit Nando, pria itu berusaha menetralkan raut wajahnya. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan baik. Wajah itu tetap terlihat sendu. Berpisah dengan kedua manusia yang dicintainya pasti membuatnya bersedih seperti Sofia.


"Walaikumsalam hubby. Hati-hati disana. Jangan lupa mengabariku saat sudah sampai."


"Tentu sayang." dan pintu mobil hitam itupun tertutup. Alex melajukannya pelan meninggalkan kediaman Nando.


"Mari masuk nyonya." ajak Maria sambil memutar kursi rodanya.


"Disini saja Maria, aku ingin disini dulu." Maria menghentikan kursi roda sang majikan di teras rumah mewah itu. Pintu gerbang sudah ditutup, artinya mobil yang dikendarai Fernando sudah tak terlihat lagi. Sofia menghela nafas panjang, melafazkan doa untuk keselamatan suaminya agar pergi dan pulang dalam keadaan selamat dan diberi kelancaran dalam setiap urusannya. Untuk beberapa saat Sofia masih disana sambil membelai kepala putra tampannya. Sofia mengisyaratkan Maria agar meninggalkannya, namun gadis itu bersikukuh menunggunya dan duduk di kursi rotan tak jauh dari sana. Beberapa menit berlalu...


"Mari masuk Maria." perintah Sofia kemudian. Maria bergegas berdiri dan mendorong kursi rodanya kedalam rumah.


"Sudah sampai disini saja." dan Maria menghentikan kursinya setelah menutup pintu. Sofia segera berdiri dan berjalan ke arah sofa sambil menimang si kecil. Tak tampak ada kerepotan atau gerakan lamban dari dirinya.


"Nyonya apa anda butuh sesuatu?"


"Tidak Maria. Tuan sedang tidak dirumah untuk dua hari kedepan. Kau tak perlu menjagaku. Aku akan memanggilmu jika butuh bantuan darimu. Istirahatlah, biar Rafa aku yang mengurusnya."


"Baik nyonya..saya permisi." Maria bergegas membawa kursi roda Sofia ke kamarnya. Sang majikan memang tidak pernah membutuhkannya jika tuan muda mereka tak ada dirumah. Ya, seluruh pelayan rumah itu tau jika nyonya mereka tidak lumpuh. Sofia sehat dan tak kurang suatu apa. Entah kenapa mereka seakan tutup mata dan ikut membantu sandiwara sang nyonya.


Beberapa orang yang bekerja di kediaman Nando adalah wajah-wajah lama yang sangat setia dan tau perjalanan hidup sang tuan muda. Saat tau Nando menikahi Sofia, mereka yang awalnya ragu menjadi sangat setuju. Nyonya baru mereka wanita rendah hati, sopan dan sangat menghargai keberadaan mereka. Disamping itu, fokus mereka adalah kebahagiaan seorang Fernando. Seperti diperintah, seluruh pelayan itu malah bekerja sama untuk membuat tuan muda searogan singa lapar itu menjadi kucing lucu yang menggemaskan.


"Ouhh maaf..maafkan saya tuan." ucap seorang wanita bertubuh langsing dengan blazer biru yang melekat pas ditubuhnya.


"0ohh Shitt!" gumam Alex kesal saat jasnya basah oleh cairan entah apa yang dibawa wanita tadi. Saat melirik kesamping, dia melihat sang majikan duduk sambil menutup matanya, entah karena tertidur atau sedang banyak pikiran. Tak ingin mengganggu, dia memilih berdiri dan menuju toilet untuk membersihkan pakaiannya yang basah, tanpa dia sadari. .wanita yang mengenakan blazer biru tadi dengan sigap menempati kursinya dan mengambil beberapa foto dengan leluasa lalu pergi begitu saja. Sebuah senyum aneh tersungging di bibirnya.


Hanya butuh satu jam lebih untuk sampai dikota tujuan. Alex berdiri dan mempersilahkan sang tuan muda untuk turun lebih dulu. Mereka disambut orang kepercayaan mereka untuk meninjau lokasi kejadian.


Fernando menatap nanar puing-puing perusahaan yang dia bangun dengan kerja kerasnya. Perusahaan pertama yang berhasil dia bangun setelah menggantikan posisi ayahnya, saksi kerja keras dan analisis mempuninya dalam berbisnis. Tak terasa tangannya terkepal kuat. Sakit hatinya tak sebanding dengan kekecewaan dalam hatinya. Masih banyak anak cabang perusahaan miliknya dikota lain yang pastinya lebih potensial dan membuahkan banyak pundi-pundi uang. Tapi kenapa perusahaan ini yang dihancurkan? Ibarat seorang anak, perusahaan ini seperti sosok ABG yang tengah mencari jati diri.


Ratusan karyawan yang datang kesana juga menunjukkan wajah muram penuh duka. Nando bisa melihat dengan jelas kekhawatiran yang tergurat disana. Ada rasa kasihan yang mendalam membekas dalam hatinya. Entah kemana sikap arogan dan pribadi dinginnya dimasa lalu. Sofia sudah banyak merubah hidup dan kepribadianya. Ahh...mengingat wanitanya saja sudah membuat sisi kemanusiaannya bangkit.


Dengan tegas dia mengambil mikrofon dan mengumumkan jika perusahaan itu akan segera dibangun dan dioperasikan lagi. Tak hanya itu, Nando menyuruh mereka bekerja dari rumah dan tetap membayar gaji mereka seperti biasa. Sorak sorai para karyawan itu terdengar mengelu-elukan namanya. Ribuan doa terpanjat dari bibir mereka untuk kebaikan dirinya dimasa depan. Senyum samar terukir di bibir Fernando. Ternyata begini rasanya dicintai orang lain. Meski banyak dana yang harus dikeluarkan untuk membuatnya berdiri lagi, tapi dia yakin doa para karyawan dan buruh itu di dengar oleh langit. Anggap saja dia bersedekah. Tidak akan miskin seseorang karena bersedekah melainkan akan ada diganti oleh Allah dengan rejeki yang lain suatu hari nanti.


"Pastikan orang yang melakukan semua ini mendapatkan balasan setimpal Lex." ujarnya geram. Tak sekalipun tatapan matanya beralih ke tempat lain.


"kami sedang berusaha tuan muda. Pelakunya orang yang tentu sangat mengenal anda."


"Dan aku sudah menemukan salah satu pemainnya Lex."


"Maksud anda?" Nando memberi isyarat pada seorang pengawal agar mendekat. Diambilnya selembar foto dari tangannya.


"Dia...."


"Wanita ini ingin bermain api denganku. Cari tau siapa dia dan laporkan padaku." Alex menatap foto tadi lekat. Wajah yang terasa tak asing baginya. Tapi siapa? dan dimana dia bertemu dengan wanita ini?


"Kita kembali ke hotel."


"Baik tuan."