
Butuh waktu lama bagi Sofia untuk melepaskan pelukannya pada tubuh Karmila sang ibu.Ingin rasanya ia berlama-lama berada disana dengan segenap kenyamanan.Hari ini dia akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti suaminya.Ahh ..suami?rasanya geli hanya dengan menyebut kata itu.Bahkan sampai saat ini dia tidak tau apa alasan Fernando menikahinya dengan tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.Fernando hanya mengamati keduanya sambil berbincang dengan Arif hingga Herman mendekatinya.
"Maaf tuan muda,sepertinya sudah saatnya kita berangkat ke bandara sekarang.Saya takut terjadi kemacetan di jalan." Sofia seolah tau diri.Dilepaskannya pelukannya lalu berbalik mencium punggung tangan sang ayah takzim.Arif mengelus kepalanya berlahan.
"Baik-baik disana ya Sof,jadilah istri yang baik karena surgamu ada pada ridho suamimu.Dan nak Nando,ayah titip Sofia ya.Ayah percayakan dia padamu."
"baik ayah." jawab mereka hampir bersamaan.Arif tersenyum lebar lalu menyuruh mereka naik ke mobil.
Herman yang baru selesai memasukkan koper kecil Sofia segera menutup bagasi lalu menutup pintu penumpang.Tak lupa pula berpamitan dengan keluarga nyonya barunya lalu masuk ke belakang kemudi dan menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
Sofia membuka beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.Kebanyakan dari teman-teman kerjanya di puskesmas yang mengucapkan selamat atas pernikahan tiba-tibanya dan menanyakan kabarnya saat ini.Senyum getir mengiasi wajahnya.Bagaimana dia bisa menjawab jika dirinya baik-baik saja padahal hatinya sedang tidak berada dalam mode aman.Dia sudah kehilangan mimpinya.Impian menikah dengan pria yang mencintai juga mencintainya.Kandas sudah semuanya karena tuan muda pemaksa yang bahkan nama lengkapnya saja belum dia ingat sempurna.
Berat hati dia mengetikkan beberapa balasan dengan emoji tersenyum tanda dia sedang bahagia.Tak ada gunanya mengumbar kesedihan pada siapapun bukan?walau mereka semua rekan-rekan terbaik dan tulus padanya.Biarlah hanya dia yang tau tentang tabir pernikahan yang menjeratnya.Orang lain hanya boleh tau saat dia tersenyum bahagia,bukan terluka.Bukankah sebaik-baiknya seorang teman,dia bisa menjadi musuh utama bagi diri kita?Sofia sama sekali tidak ingin jika diri dan pernikahannya menjadi bahan gunjingan dikemudian hari.
Tak lama kemudian,mobil mewah itu memasuki bandara.Sofia segera menyudahi chattnya lalu memasukkan ponselnya ke saku.Herman membuka pintu disampingnya setelah membukakan pintu untuk Fernando lebih dahulu.
"Her,kembalilah ke kantor.Tidak usah mengantarkan kami."
"Baik tuan muda.Ini tiket anda.Selamat jalan tuan." Herman memberi hormat lalu kembali ke mobilnya.Sofia yang hendak menarik kopernya dibuat melongo karena tangan kekar Fernando telah lebih dulu menjangkaunya.Tanpa ragu tuan muda pemaksa itu juga menarik tangannya agar mengikuti langkah lebarnya.Mau tidak mau juga Sofia sedikit berlari hingga nafasnya terengah-engah.
"Lepaskan tuan Fernando! apa kau ingin membuatku kehabisan nafas?aku bisa jalan sendiri.lepaskan!" kata Sofia setengah berteriak karena kesal.Fernando hanya mendelik tajam padanya.
"Bisakah kau menutup mulutmu itu agar tidak berisik dokter?buka telingamu,kita hampir terlambat!" bentak Nando.Pria itu benar,dari pengeras suara dia bisa mendengar panggilan untuk penumpang VVIP pesawat tujuan Jakarta agar segera masuk.Seketika Sofia menutup mulutnya rapat-rapat.Dia terlalu fokus pada dirinya sendiri tanpa peduli lingkungan sekitar.
Fernando baru melepaskan tangannya saat mereka sudah duduk dikursi penumpang.Pria itu menyandarkan kepalanya disandaran kursi sambil sesekali mengoleskan lotion pelembab kulit pada telapak tangannya yang terlihat sedikit memerah.Dalam hati Sofi tersenyum mengejek.Siapa suruh dia membantu ayah dikebun?menggunakan sabit,cangkul kecil juga telapak tangannya tanpa pengaman.Padahal orang seperti dia pasti seumur-umur baru pertama kali melakukannya.
Sofia meraih tas kecilnya lalu mengeluarkan salep kecil dari sana.
"Berikan tanganmu!" Fernando menoleh sekilas.Tapi kembali acuh dan fokus pada tangannya.Sofia yang geram segera meraihnya,membuat pria tampan tingkat dewa itu terkesiap.Dengan sigap dokter cantik itu menyemprotkan cairan pembersih,mengelapnya dengan tissu kecil agar kulit tangan Fernando kembali bersih lalu mengoleskan salep itu bergantian pada kedua telapak tangannya.Hanya dalam hatinya dia harus memuji jika telapak tangan Fernando selembut marsmellow,sehalus sutra dan sangat putih.Dia saja yang notebane wanita harus minder dengan tangan itu.Tuan muda keluarga kaya memang beda.
"Mulai sekarang jangan sok-sokan berkebun atau melakukan apapun yang bisa merusakkan keindahan tangan anda tuan Fernando." sindirnya telak.Nando tersenyum miring seraya memindahkan tangannya ke pangkuannya sendiri.
"Apa kau sedang mengakui jika tanganku indah dokter?setidaknya lebih bagus dari pada tanganmu."
"Tapi tangan yang kau anggap jelek ini sudah menyelamatkan banyak nyawa." balas Sofia sengit.Dimasukkannya kembali salep dan peralatannya ke tas lalu memiringkan tubuhnya,berusaha melihat awan yang berarak laksana ribuan kapas yang indah pagi itu.Baru saja menikmati suasana angkasa raya,lengan Fernando menyenggol lengannya.Sedikit malas dia menoleh.
"Aku ingin minum kopi."
"Cangkir kopinya ada disitu.Kenapa harus memanggilku?"
"Kau ini pikun atau pura-pura tidak tau dokter?tanganku penuh salep darimu,apa kau ingin aku keracunan dan mati karena meminum formula salep dalam kopi?"
"Salep itu tidak akan membunuhmu walau langsung di telan sekalipun tuan pemaksa!"
"Tapi siapa yang menjamin jika aku tidak alergi pada jenis obat tertentu?bagaimana jika aku meninggal?siapa yang akan mengurus putriku?"
"putri??" tanya Sofia membeo.
"ya,dia Helena putriku.Setelah sampai di bandara kita akan menjemputnya." jawab Fernando santai,berbanding terbalik dengan Sofia yang terlihat terkejut setengah mati.
"putri?jadi kau sudah menikah?"
"ya"
"Ahhh ya Tuhan...jangan katakan aku adalah perebut suami orang.Atau istri kedua,atau...."
"Kau terlalu banyak bicara dokter Sofia."
"Tapi aku ingin tau bagaimana nasibku kelak."
"nasib?nasib yang bagaimana yang ingin kau ketahui?orang tuamu sudah mempercayakan kau padaku.Itu artinya,nasibmu adalah disampingku dokter Sofia "
"Kau sangat menyebalkan tuan pemaksa!!" pekik Sofia memancing beberapa pasang mata melirik padanya.
"Jangan berteriak dihadapanku,atau aku akan menyuruh orang-orangku melemparkan tubuh kerempengmu itu keluar dari pesawat." seketika Sofia diam,meremas ujung bajunya dengan gemas.Entah terbuat dari apa hati orang di depannya ini.
"Aku mau minum kopi dokter!" perintah Nando lagi.Dengan wajah malas,Sofia meraih cup kopi dan mendekatkannya ke bibir pria disampingnya itu.Bibir itu.....kenapa begitu padat dan menggemaskan?tiba-tiba ingatannya berpusar pada kisah romantis di drakor favoritnya.Bagaimana rasanya jika bibir seksi itu menciumnya?
"Buang pikiran kotor itu dari otakmu dokter.Sudah kutegaskan berulang kali jika kau bukan seleraku.Jangan terlalu berharap mendapatkan ciuman panas dari pria setampan aku.Kau tidak berarti apa-apa pada hidupku." Seketika wajah Sofia memerah.Bukan karena malu,tapi tersinggung berat.