
Sofia mondar-mandir di depan pintu rumahnya tak tenang. Beberapa menit lalu mertua dan adik iparnya sudah menelepon jika mereka sudah sampai di bandara. Fransiscalah yang melarangnya menjemput di bandara karena tak ingin Sofia yang baru pulang dari rumah sakit kelelahan.
Senyum lebar mengembang dibibir sang dokter saat sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah beraksen minimalis yang dia tempati. Sofia segera turun ke halaman untuk menyambut tamunya.
Fransicalah yang pertama kali turun disusul Bella yang langsung memeluknya. Sofia segera mencium tangan Fransisca dan memeluka wanita paruh baya itu penuh kerinduan.
"Sana, hampiri putramu..dia merindukanmu sofia." bisik sang momy membuat Sofia menghambur ke dalam mobil. Matanya dibuat nyalang melihat keadaan anaknya. Bocah tampan itu terlihat kurus dengan selang infus menancap ditangan kirinya. Netra kecoklatan itu berkaca. Sontak diraihnya sang putra yang berada dipangkuan Maria kedalam pelukannya.
"Ya Allah nak...apa yang terjadi padamu?" Lirih Sofia sambil memeluk El yang tertawa bahagia, memperlihatkan deretan gigi susunya yang baru tumbuh. Maria membantu membawakan cairan infus itu mengikuti langkah Sofia memasuki rumah.
"Apa yang terjadi pada Rafa ma?" Fransisca menarik nafasnya panjang sebelum duduk di sofa.
"Rafa keracunan." Mata Sofia melotot tak percaya. Bagaimana bisa putranya sampai keracunan? Pengawasan dan pola asuh dikediaman Fernando sangatlah ketat dan ramah balita.
"Kenapa bisa begitu ma, saya sudah mengatakan pada Maria agar memperhatikan makanan yang masuk ke perut Rafa." Sofia segera memeriksa keadaan Rafa yang terlihat lesu walau sama sekali tak menghilangkan senyum diwajah polosnya.
"Momy...." katanya membuat Sofia memelukanya kembali, menghujani putra tersayangnya dengan ciuman tanpa henti.
"Momy kangen kamu sayang." bisiknya. Tangan kecil Rafa menghapus air mata yang luruh ke pipi momynya.
"Jangan angis momy." katanya dengan bahasa cadel khas anak dua tahunan.
"Momy tidak menangis sayang. Apa Rafa masih merasa sakit?" bocah itu menggeleng kuat. Naluri anak-anaknya yang senang bermain segera tergerak ketika melihat mainan berbetuk bus yang dibelikan Sofia.
"Tayo momy." katanya seraya menunjuk benda itu. Sofia segera mengambilkannya dan memberikannya pada Rafa.
"Kapan Rafa terakhir kali muntah atau diare ma?" Fransisca melirik Maria, begitupun Bella. Hanya Maria yang tau karena dialah yang merawat Rafa dua hari ini. Baik Fransisca maupun Bella hanya menemaninya saja. Bagaimanapun Fransisca sedang fokus pada urusan putranya.
"Tiga jam lalu sebelum berangkat ke bandara nyonya muda." jawab Maria tegas. Sofia segera mengambilkan susu hangat untuk putranya, menyuruhnya minum lalu menyuapinya dengan nasi dan sup ayam yang dia masak tadi. Rafa makan begitu lahap hingga grandma dan auntynya terkejut. Dia seperti anak kelaparan yang baru menemukan makanan.
Sofia menyudahi suapannya setelah Rafa bersendawa. Dia menepuk punggung Rafa lembut sebelum mengambil peralatan medisnya dan mencopot infus ditangan anaknya.
''Tangan Lafa ada dalahnya." Tentu saja Sofia segera menenangkan putranya yang ketakutan melihat darahnya sendiri.
"Rafa sudah baikan ma, percayalah padaku." fransisca sedikit lega mendengar perkataan menantunya. Sofia bukan dokter kemarin sore yang akan bertindak ceroboh pada keselamatan putranya sendiri. Pun bocah lucu itu segera bermain diatas karpet tebal yang dibentangkan diruang keluarga dikelilingi orang-orang tercintanya. Rafa terlihat amat bahagia.
"Ma, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Sofia hati-hati. Nalurinya mengatakan ada yang tidak beres terjadi disana hingga Fernando dengan rela hati mau melepaskan putrnya.
"Kak Nando sedang menunggui bocah itu di rumah sakit." jelas Bella setelah lama mereka terdiam. Fransisca juga tampak enggan menjawab, dia memilih bermain dengan Rafa.
"Elle maksudmu?"
"Siapa lagi? anak itu bahkan sudah berani memasukkan racun tikus ke dalam susu Rafa. Keterlaluan." ujar Bella geram. Sofia yang mendengarnya juga ikut berang.
"Apa mas Nando tak mengetahuinya? kenapa dia malah sibuk memperhatikan anak orang lain dan mengabaikan darah dagingnya sendiri? ahh ya Tuhan...keterlaluan kamu mas!!" pekik Sofia diujung kemarahan. Sungguh emosinyan dibuat naik karena laporan Bella.
"Kak Nando sedang sibuk di kantor saat itu. Maria juga dibuat lengah karena bocah itu dengan cerdik menjatuhkan mainan Rafa hingga putramu menangis dan Maria turun untuk mengambilnya. kakak tau..bocah itu bahkan masih bisa tertawa keras saat Rafa hampir pingsan meregang nyawa. Benar-benar calon psikopat."
"Dia calon pembunuh berdarah dingin Bel." timpal momy Fransisca dengan nada tidak suka.
"Psikopat mom...lihat saja, dia bahkan sanggup meminum cairan pembersih lantai saat kak Nando mengetahui perbuatannya." sangkal Bella dengan nada rendah.
"Dan kakak bodohmu itu tetap menungguinya bahkan menyetujui saat Rafa kita bawa pada momynya. Dasar hilang akal." maki Fransisca geram.
"Kak Nando punya tanggung jawab yang besar pada anak itu mom." sangkal Bella. Dia cukup tau posisi kakaknya itu.
"Tapi tidak dengan mengabaikan putra kami Bel." ucap Sofia tegas. Matanya berkilat...marah.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
*Selamat malam readers..
Sesuai keinginan kalian, author update cerita lagi. Jangan pelit memberikan dukungan, komentar dan semangat kalian ya. Jangan lupa tab ❤ agar dapat pemberutahuan up, juga ikuti akun author ya... Ingat, tanpa dukungan kalian, author bukan apa-apa.
Selamat membaca🤗🤗🤗*