Dear Husband

Dear Husband
Terbongkar



"Elle mau apa sayang?" suara lembut itu membuat si kecil mengerjab seraya menyapukan tangannya dipermukaan freezer merk ice cream terkenal di supermarkat besar itu. Meski tau tidak dapat melihat apa-apa, namun Elle seperti sangat menikmati sensasi berada di tempat ramai. Hal yang sudah lama tidak bisa dia lakukan karena sang papa yang selalu bersikap overprotective padanya sejak tragedi itu.


Sebenarnya Nando bukannya melarang Elle melihat dunia luar. Tapi nalurinya sebagai seorang ayah selalu menuntunnya pada suatu rasa takut kalau Elle belum siap menerima ejekan atau perlakuan orang asing disekitarnya. Dia hanya seorang ayah yang sangat menginginkan kebahagiaan dan hal-hal terbaik bagi Elle. Tapi pagi ini, entah kenapa dia memberi ijin dengan sangat mudah dan mempercayakan Elle pada sang ibu sambung. Tak hanya itu,dia juga menyerahkan kartu kredit unlimitednya pada sang istri.


"Aku mau ice cream rasa coklat vanilla ma." jawabnya. Dia mengeratkan pegangan tangannya pada Sofia.


"hmmm tentu.Sebentar mama ambilkan ya." Sofia bergerak cepat mengambil beberapa kotak es krim yang dimaksud Elle lalu memasukannya ke dalam keranjang. Es krim adalah tujuan terakhir sebelum mereka tiba dikasir.


Hanya ada snack dan barang-barang permintaan Elle yang berada dikeranjang belanjaan mereka. Tujuan belanja kali ini memang fokus pada Elle saja. Bukanya Sofia tidak menginginkan apapun, namun dia merasa tidak enak hati karena harus memakai kartu kredit unlimited yang diberikan Fernando tadi pagi setelah Elle merengek minta pergi ke mall untuk makan es krim di salah satu kios terkenal disana, bukannya membeli es krim box seperti sekarang. Namun Sofia selalu bisa meyakinkan Elle untuk menurut padanya.


"owhhh dokter Sofia, senang bertemu anda disini. Dan...Elle, bagaimana kabarmu sayang? apa kau sudah baikan?” hampir saja Sofia terjatuh karena kaget namanya disebut secara lengkap di depan Elle. Pelan, dia menoleh kesamping untuk memastikan siapa oranngnya.


" Le...Lena ohh..ehhh..." Wanita itu, Lena. Datang dari arah tak terduga lalu menyapanya. Sofia bisa merasakan genggaman tangan Elle yang mengendur ditangannya. Mata sang dokter masih melebar karena terkejut dan salah tingkah menjadi satu.


"Hai Lena, aku baik." balas Elle dengan wajah datar. Tampang tak biasa. Biasanya dia akan selalu bersikap manis pada siapa saja yang dia kenal. Satu lagi, dia mulai pada kebiasaan lamanya dengan memanggil orang yang lebih tua hanya dengan menyebut namanya saja. Mengabaikan ajaran sofia yang sudah beberapa hari ini dia taati.


"Kau tentu sangat bahagia dengan mama barumukan? dokter, terimakasih sudah menjaga Elle hingga seperti sekarang." Bagaimana Sofia bisa memperingatkan Lena saat wanita baik itu terlihat sangat menyayangi Elle. Bagaimana bisa juga dia menyalahkan Lena yang secara tidak sengaja sudah membuat sandiwaranya terbongkar? wanita itu bahkan tidak tau apa-apa dan hanya menampakkan ketulusan dan rasa simpatinya. Sofia meremas ujung kaosnya. Kedua netranya tak lepas dari wajah Elle dan bibir gadis itu yang tertutup rapat. Dia hanya jadi pendengar jawaban pendek Sofia saat membalas basa-basi Lena yang kemudian segera berpamitan pada keduanya.


"Elle....mama bisa jelaskan semuanya. Sekarang kita pulang ya." ajak Sofia sambil menyentuh lengan Elle lembut. Gadis kecil itu tetap diam walau tak menolak tuntunannya keluar dari supermarket menuju mobil mereka.


"Ayo, mama bantu kamu naik."


"Kau bukan mamaku!" sentak Elle keras. Sofia terdiam dalam kebekuan. Dia tidak menyangka jika semua akan ketahuan secepat ini. Sejak jauh hari dia bahkan sudah memprediksi semua ini saat semua rahasia ini terungkap. Tapi kenapa harus terasa sesakit ini? sekarang dia bukan hanya menyakiti hati Elle, tapi juga hatinya sendiri.


Rasa itu semakin mengiris hatinya saat Elle sama sekali tidak mau menerima bantuannya dan menyuruh pak Mun, sopir mereka untuk membantunya duduk di depan, bukan lagi disampingnya. Hanya kebekuan yang tercipta dalam perjalanan pulang. Wajah datar Elle yang berulang kali dia tatap dari spion depan semakin menambah kepercayaannya. Gadis itu marah besar padanya.


"Maria...Maria!!" teriak Elle keras saat pak Mun sudah menuntunnya hingga ke pintu utama. Dia masih terus mengabaikan Sofia yang memilih menjaga jarak darinya. Berapa kali bahkan nona muda Hutama itu menepis tanganya.


Begitu namanya dipanggil, Maria berlari kecil kearah Sofia dan Elle lalu mengangguk hormat.


"Antar aku ke kamarku!" tegas Elle. Suara itu...kenapa sangat mirip Nando saat memerintah ke orang lain?


Mata Maria menatap pada sang nyonya seakan meminta ijin. Sofia hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Bibirnya masih kelu. Tangannya menyerahkan kantong belanjaan yang sedari tadi dipegangnya pada Rin, koki rumah itu yang sedari tadi berdiri takzim tanpa diminta ataupun dipanggil.


"Simpan baik-baik es krim Elle ya bik."


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk putri nyonya." Bik Rin mengulas senyum ramah kemudian akan beranjak ke dapur.


"Dia bukan ibuku!!" teriak Elle lebih kencang dan membuat semua orang terperanjat. Wajah itu menjadi memerah menahan amarah.


"kalian jangan coba-coba membohongiku. Dia bukan mama!" Lagi....tak ada balasan dari siapapun, juga kalimat pembelaan dari Sofia yang tampak sudah berdiri pasrah ditempatnya. Sedang Elle sudah menarik Maria yang masih dalam mode kaget untuk segera mengantarnya ke kamar.


"Sabar nyonya." hibur bik Rin. Sungguh dia ikut merasakan kesedihan dalam diri sang nyonya. Walau belum lama datang ke rumah itu, tapi semua orang yang ada disana tau jika nyonya baru mereka orang yang baik, lembut dan sangat menghormati orang lain tanpa pandang bulu. Sofia juga tak pernah lupa berbagi dengan mereka seakan menganggap mereka semua keluarga. Dia sangat berbeda dengan Emma, ibu kandung Elle yang manja, arogan dan tak pernah mau tau urusan rumah.


" iya bik." hanya jawaban pendek itu yang keluar dari bibirnya. Hatinya sedang mendung sekarang, dia tidak ingin gerimis datang tanpa diundang.


"Saya ke kamar dulu." pamitnya, menahan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya.


"nyonya tunggu!"


"ya?" Sofia menghentikan langkahnya tanpa berbalik.


"Anda orang baik nyonya, suatu saat anda pasti mendapatkan yang terbaik. Nona kecil sedang kecewa, anda jangan memasukkan kata-katanya dalam hati. Percayalah, tuan dan nona kecil juga orang yang baik." nasihat bik Rin dengan bibir bergetar.


"Saya tau bik. Terimakasih."


"Sama-sama nyonya." Sofia menepuk bahu wanita paruh baya itu lalu naik ke kamarnya. Ada yang terasa hilang disudut hatinya. Apa yang dia takutkan sudah terjadi. Elle pasti merasa dibohongi dan bisa jadi akan membencinya setengah mati.