Dear Husband

Dear Husband
Pasien Manja



Sebulan berlalu, namun tak juga ada kabar dari Fernando. Sofia sudah berusaha mencari tau ke kantor lama suaminya, namun semua pegawai disana bungkam. Bahkan resepsionis yang pernah menyambut dia kapan hari sudah tidak lagi bekerja disana. Pada Bella? nyaris setiap hari dia bertanya kabar suaminya, namun sepupu iparnya itu juga tidak tau kemana perginya sang kakak.


Dalam kesedihan dan rasa bersalahnya, Sofia hanya menyibukkan dirinya dengan kuliah, bekerja dan pengembangan program. Diaa juga selalu menjaga jarak dari Andre, Shandy atau pria manapun. Dia tau tak ada Nando disampingnya, tapi dia tidak pernah lupa pada janjinya. Cukup sekali saja dia berbuat salah, dan dia tidak ingin ada kesalahan lain nantinya.


Shandy tentu saja tau alasan Sofia menjauhinya atau bersikap lebih formal padanya. Sang dosen juga memberikan ruang gerak yang nyaman pada dokter cantik yang ada dibawah bimbingannya itu. Suka? ya...Shandy hanya manusia biasa yang juga punya perasaan. Bohong jika dia bilang dekat dengan Sofia hanya sebatas dosen dan mahasiswi. Dia sudah tertarik pada sosok dokter baik hati itu sejak pertama kali bertemu. Tapi dia juga seorang prajurit yang di didik untuk berjiwa ksatria dan tidak merebut milik orang lain juga memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan diantara carut marut masalah rumah tangga Sofia dan Nando.


Ponselnya berdering..sebuah nomer asing meneleponnya malam-malam begini. Diangkat takut orang iseng, tidak diangkat takutnya itu adalah Nando. Ahh...membayangkan kehadiran suaminya itu saja sudah membuat hatinya berbunga. Penuh harapan dia mengangkat panggilan itu.


"Snow..kaukah itu?" deg....Andreas! dia tau pasti itu suara Andreas, juga tak ada yang memanggilnya begitu selain pria itu. Mau apa dia malam-malam begini?


"Ya. Ada apa?"


"Snow tolong...aku..aahcchhh...dadaku sakit sekali. Tolongg..." rintihan pria itu terdengar pilu dan menahan rasa sakit. Sofia berdiri dalam bimbang.


"Kau kenapa?"


"sa..sakit sekali...tolong aku..."


"Dimana kau?" tanya sofia panik. Sepertinya pria yang juga tetangganya itu benar-benar sedang sakit.


"Aku dirumah..datanglah kemari dan tolong aku." Tiba-tiba Sofia menjadi dilema. Sungguh dia tidak ingin mendekati Andre sesuai janjinya pada Nando, tapi dilain sisi dia tidak bisa mengabaikan rasa kemanusiaan saat ada orang yang menderita sakit disekitarnya. Bagaimanapun jiwa kemanusiaan sudah melekat kuat dalam jiwanya.


Tiba-tiba suatu ide muncul dikepalanya, andai ini dunia komix, pasti sudah muncul balon bersinar terang disana. Cekatan dia meraih peralatannya dan memasukkan dalam tas kerja, menutup pintu lalu menyeberang jalan. Mengetuk pintu rumah keluarga baru yang tinggal didepan rumahnya.


Wajah Reza dan Suzan muncul bersamaan di depan pintu. Tampaknya pasangan suami istri itu sedang bersantai di ruang tamu rumah mereka hingga sigap membuka pintu bahkan saat Sofia masih dua kali ketuk saja. Sebenarnya mereka pasangan yang terbilang ramah meski Reza pelit bicara. Tapi sikap santun dan senyuman selalu menghiasi wajahnya saat bertemu atas sedang berpapasan dengan Sofia. Entah apa pekerjaan dua orang itu. Yang Sofia tau, Reza bekerja freelance dan Susan adalah pedagang online. Selebihnya dia kurang tau karena sama-sama sibuk, atau lebih tepatnya Sofia jarang ada dirumah selain malam hari dan hari minggu saja. Ada dirumahpun nyonya muda Hutama itu juga tidak suka buang-buang waktu untuk mengurusi hidup orang lain, apalagi tetangga. Sofia lebih fokus pada penelitian dan program pengabdiannya.


"Selamat malam mbak Susan, maaf saya datang ingin minta tolong." dahi pasutri itu berkerut penuh tanda tanya.


"Ada apa ya bu dokter?" tanya Reza hormat, membuat Sofia rikuh dengan panggilan itu. Memang Reza pernah bertemu dengannya di rumah sakit saat pria itu mengantri di apotik dalam. Dari sana dia tau jika Sofia adalah seorang dokter.


"Waduh pak Reza, panggil nama saja ya. Saya jadi merasa tidak enak. Saya kemari ingin minta tolong mbak Susan untuk menemani saya ke rumah pak Andre."


"Pak Andre? memangnya ada apa bu?" Susan tiba-tiba sudah ada di depan suaminya dengan wajah ingin tau. Tiba-tiba saja jiwa emak-emaknya meronta-ronta, apalagi soal urusan tetangga. Walau mereka tak punya tetangga dekat lainnya, tapi lumayan juga untuk bahan gosip di grup.


"Hmmmm....baiklah. Mari bu." dan tanpa berpamitan lagi dengan suaminya Susan langsung mengajak Sofia menuju rumah Andre, sedang Reza kembali menutup pintu rumah mereka.


Pintu dalam posisi tidak terkunci saat Sofia masuk bersama Susan. Mereka menemukan Andre terbaring diatas tempat tidurnya, menatap Sofia dengan mata berbinar. Tapi sekejap kemudia binar itu menghilang begitu tau jika ada Susan dibelakang dokter cantik itu.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Sofia saat memeriksa tubuh Andre.


"Perutku ..ahh...perutku sakit sekali." katanya seraya meringis dan memegangi perutnya. Kali ini Sofia mengrenyit bingung.


"Perut? bukannya tadi di telepon kau bilang dadamu yang sakit tuan Andre?" Sontak Andre merintih memegangi dadanya membuat baik Susan atau Sofia kembali keheranan.


"Aku sudah sakit sejak kemarin Snow. Perutku sama sekali tidak terisi dan menjadi sakit juga." katanya mencari alasan.


Tak banyak bicara, Sofia segera memeriksanya. Tak ada hal janggal pada tubuh Andre, semua normal. Namun Sofia berusaha berpikir positif.


"Tuan Andre, saya hanya bisa memberi anda obat pereda nyeri sementara karena saya tidak mungkin memberi resep dan menyuruh anda ke apotik. Besok segeralah memeriksakannya kerumah sakit agar tau penyakit anda secara detail." Sofia segera mengeluarkan dua jenis obat dari tasnya dan meletakannya di nakas.


"Snow, bisa bantuku membuatkan teh hangat? tubuh ini terasa sangat berat." Susan dan Sofia saling pandang.


"Biar saya saja." Susan yang sedari tadi diam menyela juga. Pasien aneh malam itu benar-benar menguras emosinya karena bersikap terlalu manja.


"Aku ingin Snow yang membuatnya." kata Andre keras, nyaris tak pantas disebut sakit. Menyadari dia mengagetkan dua wanita itu, Andre kembali melemahkan suaranya.


"Maaf, maksudku aku ingin dokter Sofia yang membuatkannya."


"Bukannya sama saja? teh aku atau dia yang buat juga jadinya tetap teh hangat." sindir Susan tidak suka.


"Sudah..biar saya buatkan sebentar dibelakang. Mbak Susan tolong jaga sebentar ya." Lalu Sofia segera menuju dapur dan menjerang air.


"Jangan terlalu ikut campur masalah kami." desis Andre tidak suka. Susan tertawa sumbang.


"Caramu menarik perhatiannya begitu kampungan tuan Andreas Marseden."