Dear Husband

Dear Husband
Orang baik



Sofia bersorak girang dan melonjak dari duduknya kala menerima berita dari dokter Maya kalau dirinya berhasil lolos PPDS. Artinya dia akan mendapat beasiswa untuk program spesialis seperti yang dia idamkan selama ini. Walau harus masuk jurusan yang tidak sesuai harapan awalnya dulu, tapi baginya tidak masalah selama dia masih bisa mengabdi untuk kemanusiaan.


Kecintaanya pada anak-anak memang membuat gadis sederhana itu awalnya hanya bercita-cita menjadi guru TK. Namun seiring berjalannya waktu, tingkat kecerdasannya yang berada diatas rata-rata dan prestasinya menjuarai beberapa kali olimpiade sains hingga mewakili propinsi membuatnya mendapat beasiswa hingga masuk ke kedokteran. Hal yang mungkin sangat jauh dari mimpinya. Sofia sadar bahwa dirinya hanya anak petani biasa, yang menggarap sawahpun juga hasil menyewa, bukan milik orang tuanya. Ibunya juga harus banyak berhemat setelah sikembar beranjak dewasa. Kedokteran adalah sekolah golongan atas yang tidak mungkin dicapainya. Tapi nasib kembali berpihak padanya.


Dulu Sofia sangat ingin masuk spesialis anak. Selain karena cinta pada anak-anak, dia juga prihatin akan banyaknya anak yang jatuh sakit dipedesaan dan hanya mampu periksa ke dokter umum atau kepuskesmas karena keterbatasan biaya periksa yang lumayan besar bagi mereka. Tapi lagi-lagi nasib menuntunnya kesana. Spesialis jantung. Sama sekali tidak buruk. Dia malah akan bisa menyelamatkan banyak nyawa dari penyakit mematikan itu.


"Ada apa dok?" tanya beberapa perawat yang membantunya memeriksa pasien dipuskesmas pagi itu. Mereka heran kenapa Sofia begitu bahagia siang itu hingga tak sadar sampai melonjak seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari orang tuanya. Namun tak urung mereka senyum-senyum juga.


"Kok diam dok?" timpal yang lain.


"Saya diterima PPDS sus." jawabnya singkat, tetap menekan ponselnya di dada dan mengucapkan tahmid tanpa henti.


"Alhamdulilaaahh...selamat ya dok." kata mereka hampir bersamaan seraya menyalami Sofia bergantian.


"Artinya dokter akan berpisah dari kami dong? padahal kita sudah mulai nyaman lho dok. Orangnya care dan friendly sih." celutuk yang lain. Bukannya menghibur, tapi kenyataanya memang begitu. Sofia bukan tipe dokter otoriter yang kaku dan mempertahankan wibawanya, tapi cenderung terbuka dan santai tanpa mengurangi kedisiplinan dan tanggung jawab pekerjaan. Semua bawahannya sangat menghormatinya juga mengagumi sifatnya yang senang berbagi. Dokter cantik itu juga tak segan mentraktir mereka jika ada rejeki lebih


"Dokter Maya juga orangnya asyik kok. Nanti kalian juga akan dekat dengannya. Dari awalnya kan saya cuma menggantikan dia untuk sementara. Yakin aja..dia baik. saya sangat mengenalnya. "


"Benarkah?"


"Iya. Dan yang terpenting, dokter Maya itu sangat humoris." Sofia mencoba mendiskripsikan siapa Maya pada mereka semua. Bagaimanapun mereka harus punya kesan positif akan diri sahabatnya itu.


"Syukurlah kalau begitu dok. Tapi apa dokter tidak ada rencana mentraktir kita?" Sofia menepuk dahinya pelan. Saking bahagianya, dia sampai lupa berbagi. Kebiasaan dirinya jika mendapat rejeki atau kebahagiaan.


"oohhh yaaa...tentu saja. Maafkan saya. Kalian mau makan apa siang ini? order saja plus minumannya, kita makan bersama setelah jam pelayanan usai." seketika seluruh ruangan riuh rendah oleh pekikan kecil mereka. Sofia hingga harus menggelengkan kepalanya dan tertawa lebar. Memang ditanggal tua seperti sekarang, mendapat taktiran makan adalah bentuk rejeki juga. Apalagi bagi para honorer yang gajinya tidak seberapa. Ternyata membuat orang lain tersenyum dengan memberikan kebahagiaan kecil terasa sebahagia ini.


Ponsel berdering. Ada nama Maya disana. Sofia kembali sumringah. Pasti sahabatnya itu ingin berbagi kebahagiaan pula dengannya setelah tadi hanya sempat mengirim pesan pengumuman.


"Fia, selamat ya..rasanya aku senang sekali kamu ketrima. Kok serasa aku yang lulus tes. Andai saja aku masih lajang kayak kamu...pasti aku juga pengen sekolah lagi. Tapi dua jagoanku dan bodyguardku benar-benar butuh perhatianku." Ini entah kebahagiaan atau keluhan. Tapi cerocosan Maya sudah kembali membuat Sofia tertawa lebar.


"Hey...kau ini bukannya menyemangati aku, ini malah ngajak curhat. Lagian siapa yang lajang sih May, aku ini juga punya bodyguard dirumah."


"ha...ha...aku sampai lupa jika kau nyonya muda Hutama. Lain kali aku akan minta bantuanmu kalau adik bungsuku lulus kedoktera nanti."


"Minta tolong apa?"


"Melobi suamimu agar dia bisa bekerja dirumah sakit keluargamu yang mewah itu. Owwh Sofiaaa.....masuk disana mengalahkan test pegawai sipil seperti kita. Gajinya juga masih diatas kita. Keluarga barumu memang hebat. Nanti alau adikku bisa bekerja disana, pastinya kebanggan tersendiri dong..." Sofia terdiam. Dia memang pernah mendengar soal rumah sakit keluarga Hutama, tapi tidak menyangka jika rumah sakit itu begitu berkesan bagi banyak orang. Memang..rumah sakit milik keluarga Nando yang cabangnya sampai seluruh Indonesia itu memiliki fasilitas kelas satu juga dokter spesialis terlengkap yang kadang tak dimiliki rumah sakit lain, tapi Sofia baru menyadari semuanya dari seorang Maya.


"Kenapa kau diam? jangan bilang kau tidak ingin membantuku lagi." Diamny Sofia membuat Maya penasaran.


"May....sesungguhnya aku memang tidak bisa membantumu. Tapi...jangan salah paham dulu. Aku sama sekali tidak punya posisi dikeluarga itu. Maafkan aku ya May. Sebenarnya aku juga sangat ingin membantumu." Maya terdiam. Padahal dia cuma bercanda masalah lobi melobi, tapi Sofia bersikap terlalu serius. Keluarga Maya bahkan bukan jenis orang yang suka main belakang. Kalaupun mau bekerja disana pasti adiknya akan melakukan tes sesuai prosedur.


"hmmmm....hari ini aku akan mentraktir teman-teman disini. Kau mau ikut?" tawar Sofia.


"Kau kira tempatmu tidak jauh dari sini. Dua jam perjalanan nyonya. Kau bahkan sudah membuang bungkus makananmu begitu aku tiba disana."


"ha...ha....kau benar May. Ohh ya, kapan kau akan datang?"


"Lusa. Minggu depan aku sudah harus disitu menggantikanmu, Ini juga lagi siap-siap packing barang."


"Syukurlah."


"Kau juga harus siap-siap lho. Pergi saja ke salon dulu agar fresh dan tampil beda saat ketemu tuan Fernando yang gantengnya astaghfirullah itu." canda Maya lagi.


"May..."


"hmmmm"


"boleh minta tolong?"


"Apalagi? kok serius amat? aku jadi takut ini."


"Apa....rumahmu yang disitu kau kontrakkan?"


"Maksudmu?" Sofia beranjak berjalan keruangannya dan menutup pintu. Tak enak rasanya bicara hal pribadi di depan para stafnya.


"Aku butuh tempat tinggal sementara."


"kau...."


"Banyak yang tidak kau tau May. Nanti aku akan menceritakan padamu jika aku sudah siap. Jadi bisakah aku minta tolong untuk bisa tinggal sementara dirumahmu hingga aku mendapat kontrakan?"


"Ahh ya Tuhan Sofia...tinggalah disini semaumu. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Awalnya aku dan mas Feri memang ingin mengontrakannya. Tapi sampai saat ini belum ada yang sepakat harga. Mungkin memang jodohny sama kamu."


"Aku akan membayar kontraknya.”


" Hey..kau sama sekali tidak menghargai aku jika kau melakukannya sayang. mas Feri juga pasti tidak keberatan. Tinggalah. Barang-barangku juga masih disini mungkin nanti anak sulungku akan kuliah disini. Aku juga lebih tega jika rumah ini kau tinggali." Air mata Sofia berlinang. Masih ada orang baik didunia ini.


"Terimakasih May..."