Dear Husband

Dear Husband
Berbagi kebahagiaan



Herman, salah satu staf yang ditugaskan oleh kantor cabang Hutama grup Surabaya untuk mengantar dan mengawal sang tuan muda membantu menurunkan dua koper besar serta tas rangsel milik Maria dan membawanya masuk ke dalam, menyusul majikannya yang lebih dulu masuk ke rumah bernuansa kampung yang amat luas itu. Dibelakang sana, empat orang pengawal turun dari mobil lain sambil mengusung beberapa kardus besar berisi oleh-oleh untuk oranh tua, kerabat dan para tetangga. Kebiasaan lama yang selalu dilakukan Nando tiap berkunjung ke desa istrinya. Itulah sebabnya pasangan romantis itu menjadi amat terkenal disana. Mereka begitu dermawan dan ramah.


Pak Arif memeluk menantu dan putri sulungnya erat. Apalagi saat melihat cucunya yang lucu dalam gendongan Maria, lelaki tua itu bergegas menghampirinya lalu menggendongnya penuh rasa bangga. Anak gadisnya yang selalu dijuluki perawan tua sudah mendapatkan jodohnya, punya anak dan membanggakan orang tuanya.


"Duhh cucu kakek...lucunya...Rafaaa..." Rafa yang merasa diajak bicara menoleh berusaha mengamati pria tua didepannya. Untung saja dia tipe bocah yang pintar dan mudah beradaptasi. Anehnya dia langsung pindah ke pelukan sang kakek begitu pak Arif mengulurkan kedua tangannya. Jadilah kakek dan cucu itu mengabaikan kedua orang tuanya. Mereka lalu sibuk jalan-jalan diseputar halaman rumah yang memang ditumbuhi berbagai jenis bunga dan pepohonan berbuah.


Di dalam sana, Sofia membantu ibunya membuatkan minuman untuk para pengawal dan Nando. Marialah yang berlalu-lalang mengantarkan minuman dan berbagai kudapan itu karena para pengawal dan Herman yang duduk melingkar di gazebo samping rumah. Tempat paling ideal untuk istirahat. Bagaimanapun mereka juga manusia biasa yang butuh waktu istirahat walau tak melupakan tugasnya. Nando jugalah yang menyuruh mereka bersantai karena kondisi sekeliling yang dirasa aman-aman saja.


"Mas...ini tehnya." Sofia menyodorkan secangkir teh hangat pada suaminya yang duduk bersandar di sofa.


"Ehmm...terimakasih sayang. Eh...tapi bisakah kau membantuku meminumnya? tanganku sibuk memegang ponselku." Sofia menarik nafas panjang. Tuhkan...suaminya mulai kumat manja. Dia bahkan membawa sikap manjanya hingga ke rumah mertuanya.


"Sayang....." ucapnya merengek manja. Siapa yang mengira jika sosok ini amat ditakuti para bawahan dan pesaing bisnisnya?


"Sofia...layani suamimu dengan benar." sergah ibunya yang tanpa sepengetahuannya sudah berada dibelakangnya, membawa nampan berisi kudapan. Terpaksa Sofia mendekat, mengambil cangkir dan mendekatkannya pada bibir Nando. Pria itu menyesapnya berlahan sambil tersenyum pada ibunya yang sudah akan kembali ke dapur.


"Sini." pinta Nando lembut, menunjuk sofa yang menghadap ke pintu utama di sampingnya. Sofia mendekat dan duduk disana.


"Eh." pekiknya saat lengan kokoh suaminya sudah melingkari tubuhnya dan memaksanya merapatkan tubuh mereka.


"Kenapa pipimu masih saja memerah saat aku memanggilmu sayang hemm?? Padahal hanya ada ibu tadi. Bagaimana jika ada yang lain? kau tau...wajah malu-malumu membuatku ingin menerkammu dokter cantikku." bisik Nando sensual sambil mengigit kecil daun telinga istrinya yang kebetulan melepas jilbabnya. Nando menatap wajah cantik itu kian memerah.


"Mas...jaga sikapmu. Kita tidak sedang dirumah." protes Sofia yang bersiap menjaga jarak. Bukannya menjauh, Nando malah bergerak cepat merebahkan dirinya dan menjadikan paha istrinya sebagai bantalan. Sofia membelai kepala lelakinya lembut, menyurai rambut hitamnya penuh perasaan hingga Nando merasa amat nyaman. Tangannya melingkar posesif diperut sang istri.


"Begini saja aku sudah bahagia, iyakan baby?" gumamnya seraya mengelus perut rata Sofia. Dikecupnya perut itu mesra.


"Semoga dia perempuan." ujar Sofia tersenyum kecil.


"Apapun dia...dadynya ini akan selalu menyayanginya."


"Saat dia lahir nanti, semoga tesisku juga sudah selesai agar aku punya banyak waktu untuknya." gumam Sofia seperti pada dirinya sendiri.


"Trus aku kapan lulusnya kalau begini terus mas? kau sudah menghabiskan banyak uang untuk kuliahku." ada nada sesal dari gaya bicara Sofia. Dia merasa tidak enak hati karena terus membebani suaminya dengan uang kuliah yang fantastis bagi keluarga miskin sepertinya. Andai saja bukan Nando suaminya, mungkin dia akan berpikir ulang untuk mengambil spesialis karena biayanya yang mahal. Tapi pria itu selalu optimis dan mendukungnya secara mental dan material.


"Apa yang kau katakan Sofia?" Nando bangkit dari tidurannya, menangkup pipi mulus sang belahan jiwa.


"Memangnya aku pernah mengeluh? Aku bekerja siang malam untukmu, untuk anak-anak kita nanti. Kau bisa meminta dan menghabiskan berapapun yang kau mau. Tapi jangan pernah membagi cintamu. Lagipula suamimu ini terlalu kaya jika hanya menyekolahkanmu saja." sombong Nando membuat Sofia mendelik kesal. Nando mengecup bibir manyun istrinya sekilas.


"Kumat lagi sombongnya." hardik Sofia tak merespon ciuman suaminya.


"Aku sombong tapi ada buktinyakan sayang? aku berusaha mengabulkan apapun yang kau minta." kata Nando membela diri.


"Nak..lihat...dadymu amat sombong dan narsis." Sofia mengelus perutnya seakan mengajak janinnya bicara.


"Sofia..apa kau..hamil lagi nak?" keduanya menoleh bersamaan, mendapati sang ibu yang entah kapan sudah berdiri didekat mereka.


"Iya bu, Sofia hamil anak kedua kami. Itulah alasan kami kemari. Agar ibu dan bapak tau kalau akan menambah cucu." jelas Nando dengan mata berbinar.


"Alhamdulilah...ibu akan beritau bapakmu. Sekalian kita syukuran kecil besok. Ibu bahagia sekali ini." dan tanpa babibu lagi, bu Arif melesat keluar mencari suaminya untuk berbagi kebahagiaan. Baik Nando dan Sofia hanya tersenyum lebar melihat kegirangan sang ibu.


"Mas...lihat." Nando mengikuti arah jemari istrinya yang menunjuk pagar depan yang berjarak lumayan jauh dari rumah. Disana Maria sedang tersenyum kikuk karena tangannya tak juga terlepas dari gengaman Aldi yang terus menatapnya tak berkedip.


"Sudah kubilang Aldi tertarik padanya. Maria juga terlihat sama saja."


"Tapi mas...."


"Kenapa? kau tak menyukai itu? Sofia jangan memandang orang dari....."


"ssstt...kau ini bicara apa mas? aku tak berpikir begitu."


"Syukurlah. Aku tau istriku ini sangat bijak Jadi biarkan mereka berbagi kebahagiaan juga sayang."