
Ada yang berbeda pagi itu. Kediaman Fernando terlihat hidup karena suara-suara riuh yang tak lazim disana. Fernando adalah pria dari golongan atas yang pastinya menyukai ketenangan. Tidak pernah ada suara keras atau berisik seperti pagi ini disana.
Elle bergelayut manja dipinggang Sofia yang asyik menggoreng ayam dan membuat sup untuk makan paginya. Dia hanya memasak dalam panci kecil karena tau jika hanya dia yang akan makan pagi dengan menu itu. Badan meriangnya memang membutuhkan makanan hangat untuk sarapan. Selesai berkutat dengan masakannya, wanita muda itu menata sarapannnya diatas meja lalu melepaskan celemek dan mencuci tangannya.
"El, mama ganti baju dulu ya." pamit Sofia pada Elle yang menguntit dibelakangnya.
"Tapi mama beneran akan mengantarku kesekolah pagi ini bukan?"
"El, papa kan sudah bilang kamu belum boleh sekolah. Turuti papa ya sayang. Semua demi kebaikanmu."
"hmmm baiklah. Tapi mama harus membawakan aku...."
"Martabak ditempat kemarinkan?"tebak Sofia enteng. Dia sangat tau apa makanan kesukaan Elle. Gadis kecilnya selalu girang bila dibelikan martabak karena Nando hanya memperbolehkan dia memakannya seminggu sekali.
" Mama tau aja."
"Sudah ya..mama keatas dulu."
Sofia baru akan kelantai dua saat Nando turun dengan setelan kerja yang pagi tadi dia pilihkan. Suaminya yang tampan itu terlihat berlipat-lipat lebih tampan karena postur tinggi gagah itu dibalut pakaian yang serasi dengan dirinya. Langkah panjangnya mendominasi gerak-geriknya. Pria itu menarik kursinya lalu melirik jus yang dibuatkan juru masak. Biasanya dia akan segera meminumnya, tapi kali ini perhatiannya beralih kemeja diseberangnya dimana tiap hari Sofia menikmati sarapannya. Aroma sup yang lezat menyapa indera penciumannya. Sup itu juga terlihat cantik dengan tampilannya dan mengugah air liur.
"Wah....mama cantik sekali." teriak Elle yang menatap takjub pada Sofia yang berjalan mendekat kearah mereka. Mau tidak mau Nando ikut melirik kearah Sofia. Disana, wanitanya sudah berdiri dengan seragam khas dan....mengenakan jilbab senada dengan motif garis asimetris yang membuatnya terlihat manis. Ada yang lain....hari itu istrinya masuk kerja dengan tampilan baru. Seragam panjang dan islami pula.
"Mama benar-benar cantik." puji Elle sekali lagi hingga membuat Sofia tersipu.
"Kau juga sangat cantik sayang." pujinya balik sambil mengelus kepala Elle lembut. Bocah itu segera membenamkan kepalanya diperut Sofia sambil melingkarkan tangannya disana.
"Elle makan dulu ya. Setelah itu ikut mama kerumah sakit agar diperiksa om dokter. Kalau nanti hasilnya baik, maka besok kamu boleh pergi ke sekolah. Iya kan mas?" Sofia mengalihkan tatapannya pada Nando yang tiba-tiba terlihat salah tingkah karena tertangkap basah sudah mengamatinya. Pria itu berdehem lirih untuk menguasai keadaan.
"hmmm ya." jawabnya singkat. Elle langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukannya.
"Terimakasih papa." ujarnya sambil mencium pipi kiri Nando. Sang papa membalasnya dengan hangat. Sofia berdiri disamping mereka, memperhatikan interaksi dua insan beda generasi itu dengan senyum terkembang. Nando...pria itu terlihat sangat terharu. Meski Elle bukan putri kandungnya, tapi pria itu bahkan menyayanginya melebihi apapun.
"Ayo makan dulu. Takut kesiangan." Elle segera turun dari pangkuan Nando dan kembali ke kursinya, disamping Sofia.
"Tunggu." Sofia mengerutkan keningnya saat Nando menahan tangannya yang akan mengoleskan selai coklat pada rotinya dan Elle.
"Mas butuh sesuatu?"
"hmmm...hari ini aku dan Elle ingin sarapan dengan sup buatanmu. Iya kan sayang?" Elle yang ditanyai sang papa langsung kegirangan dan mengangukkan kepalanya. Sebenarnya sudah lama dia ingin sarapan dengan menu bikinan Sofia. Walau dia buta, penciumannya masih bisa membaui aroma lezat yang menguar dari sana. Apalagi sekarang..ahh...tampilan sup itu benar-benar menggugah selera.
"Tapi.....ini hanya masakan kampung mas. A..aku..aku juga membuat bumbunya sekenanya saja. Bagaimana kalau nanti malam saja kita makan bersama dengan menu ini. Aku akan memasaknya dengan bumbu lebih lengkap." kata Sofia terlihat tidak percaya diri. Bagaimana tidak? dia hanya meracik bumbu yang ada di dapur saja tanpa harus melengkapi seperti seharusnya. Dia juga tidak menyangka Nando dan Elle akan makan sesuai menunya. Bukanya mereka berlidah Eropa yang terbiasa makan roti dan hidangan western lainnya?
"Mas...jangan!"
"kenapa?"
"itu sambal bawang pedas. Aku takut kamu kepedasan lalu mulas." keluh Sofia. Nando terkekeh namun tetap mengambilnya lalu kembali duduk untuk makan.
"Aku ini sudah dewasa. Aku bukan Elle yang tidak tahan pedasnya sambal." katanya seraya tertawa kecil. Ahh....tertawa??sumpah, ini kali pertama dia melihat Nando tertawa walau samar. Tuhan..wajah itu...sangat...sangat dan sangat tampan dimatanya.
"Ma...kapan kau mengambilkan aku sarapan?" Sofia tersentak kaget dari rasa terpukaunya. Buru-buru dia mengambil piring dan mengambilkan nasi untuk Elle yang sudah siap memegang sendok dan garpu ditangannya. Dia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri lalu duduk ditempatnya dengan sedikit gelisah. Lamat, dia melirik kearah Nando yang sedang menikmati sarapannya di depannya. Lalu dia beralih pada Elle yang juga makan dengan tenang disisinya. Tak ada protes atau pujian dari mereka berdua. Padahal Sofia sudah menunggu reaksi mereka berdua karena ini pertama kalinya mereka memakan masakannya. Sayangnya bapak dan anak itu terlihat biasa saja. Tak ingin terlalu ambil pusing, Sofia memilih fokus pada makanannya.
"Hmmm...ini sangat enak." ujar Elle seraya meletakkan sendoknya. Tadi Sofia memang mengambilkannya dalam porsi kecil. Takut Elle tidak suka dan makanan itu akan terbuang sia-sia. Ada kelegaaan disudut hatinya melihat reaksi sang putri. Setidaknya, Sofia merasa dihargai.
"Mulai besok siapkan menu sarapan sesuai makananmu." Nando berkata dengan wajah datar, namun membuat kebahagiaan yang membuncah didada Sofia.
"Terimakasih mas."
"untuk?" tanya Nando seraya menaikkan alisnya.
"Terimakasih karena sudah menyukai masakanku."
"Aku hanya menghargaimu sebagai nyonya rumah." katanya datar. Berlahan, senyum di bibir Sofia memudar sepudar kebahagiaan yang baru beberapa detik lalu singgah dalam hatinya. Ternyata Nando tidak memujinya atau menyukai masakannya.
"Tapi aku suka masakan mama." Sofia kembali tersenyum. Setidaknya ada yang memuji dan menghargainya.
"Anak baik. Sudah sarapannya? ayo kita berangkat. Bik, tolong bereskan meja makan ya." pesannya pada seorang pelayan.
" Baik nyonya."
Elle turun dari kursinya dan mengikuti Sofia.
"kami berangkat dulu mas."
"Kita berangkat bersama."
"Apa tidak merepotkanmu? aku bisa memeriksakan Elle sendiri dan kau bisa langsung bisa ke kantor. Takutnya kamu telat mas."
"Tak akan ada yang memarahiku walau telat atau tak masuk sekalipun. Elle juga putriku bukan? aku juga berhak ikut kesana dan tau perkembangannya.”
" Baiklah. Terserah kau saja."