
Sofia masih merasakan hangatnya sentuhan Fernando diatas perutnya saat pria itu menatapnya teduh dan penuh cinta. Entahlah, Sofia takut untuk menyimpulkan prilaku suaminya. Pria yang barusan bahkan hanya diam saja saat Emily bergelayut manja dilengan kokohnya. Sesuatu yang membuat Sofia muak karenanya. Suaminya...orang yang sangat dia jaga kehormatan dan wibawanya malah dibuat malu saat dibuka masa lalunya di depan semua rekan kerjanya di ICU tapi malah bersikap lunak dan rela-rela saja tanpa penolakan.
Pun saat Sean berkata menceraikan Emily, baik wanita tak tau malu itu taupun suaminya sama sekali tidak terkejut akan pengakuan itu. Hal memalukan bagi sofia.
Sesaat kemudian tatapan teduh itu berubah tajam saat dia membalikkan badan menghadap brankar Emily. Wajah dingin yang bengis bak tuan muda tak tersentuh. Emily tentu saja terperangah karenanya. Berangsur-angsur wajah wanita kebulean itu memucat.
"Kak Nando..."
"diam!!" hardik Nando pelan tapi penuh penekanan.
"kita jadi menikah bukan? Kita akan merawat Elle bersama." Nando menyeringai.
"Tidak akan ada kita Emily. Yang ada hanya aku dan Sofia. Tak ada kau diantaranya. Kau jangan terlalu banyak bermimpi." balasnya dingin.
"Kau mencintai Emma...."
"Lalu? Kau terus mengulangnya seolah kau tau persaanku Emily. Tau apa kau tentang Fernando? Kau hanya tau sebagian kecil sisi diriku."
"Jika kau masih mencintai Emma, itu sama sekali bukan masalah buatku kak. Aku bisa menjadi dirinya. Aku akan melakukan apapun untukmu."
"Itu tidak perlu. Sudah ada wanita lain dihatiku . Baik sekarang, besok atau selamanya aku tidak butuh Emma, bayanganya, kau atau keluarga Marseden lainnya. Kalian semua....menjijikkan!" Kata-kata dingin dengan ekspresi jijik itu sungguh menyayat hati Emily. Tangan wanita itu terkepal kuat.
"Kau milikku Nando. Hanya aku!" lagi, teriakan kencangnya menarik perhatian banyak orang.
"Mereka sudah datang tuan muda." lapor Alex patuh. Nando kembali menyeringai.
"Suruh masuk."
"baik."
Dan suara sepatu masuk diikuti munculnya dua pria berbadan kekar berseragam polisi.
"Tangkap wanita ini. Aku melaporkannya atas tuduhan mencemarkan nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan penipun."
"Tidak!! Apa yang kulakukan padamu Fernando sialan??" maki Emily kesal sambil menepis tangan polisi yang akan menangkapnya. Tapi gagal karena dua polisi itu sudah bergerak lebih cepat dan menyeretnya keluar ruangan dan menaikkannya keatas mobil.
"Pak polisi lepaskan saya. Itu semua tidak benar!" teriak Emily hingga mengundang kerumunan banyak orang yang berada disekitar sana. Banyak desas desus yang sampai ketelinganya hingga membuatnya semakin marah saja.
"Nanti anda jelaskan dikantor." jeda polisi tadi lalu membawanya pergi.
Nando mendudukkan Sofia di kursi tugasnya diikuti bubarnya paramedis yang bertugas disana. Semua sudah tau jika tuan muda Hutama yang tampan dan berkelas itu adalah suami dokter cantik yang sederhana dan bersahaja itu hingga dengan senang hati memberi ruang untuk keduanya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Nando sambil berjongkok di depannya, membuat Sofia risih dan menyuruhnya berdiri. Tapi bukannya berdiri, tuan muda Hutama itu malah menyusupkan kepalanya diantara perut Sofia dan menciumnya.
"Hallo jagoan..bagaimana kabarmu sayang? Untung dady datang tepat waktu untukmu." bisiknya sambil mengelusnya pelan.
Wajah Sofia tentu saja memerah. Rekannya berlalu lalang disekitar mereka dan tersenyun menggoda. Dalam hati dia mencerca Nando yang sama sekali tidak tau tempat.
"Mas...sudah.." desisnya pelan. Nando tersenyum dan mengangkat kepalanya.
"Lagian siapa yang memberitaumu hingga kau datang kemari?" tanya Sofia penasaran. Fernando adalah sosok sibuk yang tidak hanya mengurusi dirinya saja. Pasti ada yang memberitaunya hingga pria itu turun tangan langsung dan meninggalkan pekerjaannya.
"Semua rekan kerjamu tau nomer Alex." jawabnya singkat.
"Bukan memata-matai, tapi ikut menjagamu." Mata Sofia membola saat melihat Alex yang membagikan amplop pada seluruh rekan kerjanya dan disambut wajah-wajah cerah teman-temannya yang juga mengatupkan kedua tangan di dada tanda terimakasih padanya dari kejauhan.
"Mas, ini tidak benar. Kau bisa dituduh...."
"Apa? Aku tidak melakukan suap. Aku hanya menjaga istri dan calon bayiku." sangat tenang tanpa rasa berdosa membuat Sofia jengah karenanya.
"Sekarang pulanglah. Kau harus kerja mas." usir Sofia halus.
"Tidak. Aku mau tetap disini."
"Tapi aku kerja mas. Ini jam kerja."
"Aku akan tunggu diluar." tolak Fernando kukuh pada pendiriannya.
"Sayang kau harus kerja." kini suara Sofia melunak. Tak ada gunanya bersikap keras pada Nando. Nanti yang ada bukannya dia menurut, malah akan makin keras kepala.
"Mau dikasi makan apa anak kita jika kau hanya menunggui ibunya bekerja?"
"Ahh sayang ..apa kau lupa siapa aku? hartaku tidak habis dimakan tujuh turunan." bisiknya pelan dengan pupy eyes yang lucu dan membuat Sofia terbahak karenanya.
"Kau terlalu sombong tuan muda."
"Hanya padamu nyonya muda. Agar kau tau..suamimu ini bukan pria sembarangan."
"Aku percaya itu. Ada wanita yang bahkan nekat ingin merebutmu dariku. Bahkan di depan kedua mataku."
"Apa kau cemburu hemm?"
"Mungkin." Sofia membuang pandangannya ke arah lain saat menjawabnya. Nandon tersenyum lebar dan memegang kedua pipinya, memaksa wanitanya menatap netra birunya.
"Yang kucintai adalah kau. Bukan orang lain."
Deg...deg...deg....
Apa tadi Fernando benar-benar mengutarakan perasaannya? Apa ...dia.....
"Sudah pergilah." kata Sofia sambil mendorong lembut bahunya. Makin lama pria ini akan membuatnya baper. Takutnya dia keGRan dan sakit hati ujung-ujungnya.
"Sssstt...berjanjilah dulu." bisik Nando serius.
"hmmm...apa?"
"Kau ijinkan aku menengok bayiku malam ini."
"Besok saja kita USG di poli kandungan." seketika wajah Nando tertekuk sempurna. Istrinya ini benar-benar terlalu polos.
"Bukan itu maksudku..tapi...ahhh sudahlah." gerutunya kesal sambil berdiri dan mencium pelipis sang istri.
"Aku pergi dulu sayang." bisiknya lagi diangguki Sofia yang sudah mencium punggung tangannya.