Dear Husband

Dear Husband
Untuk apa?



Sofia terpaksa menuruti perintah Nando yang bersikeras menyuruhnya pergi diantar sopir. Sangat aneh rasanya. Dia yang terbiasa mandiri sejak SMA, kuliah, jadi koas hingga bertugas harus dikawal kemana-mana hingga pergipun harus bersama sopir. Andai dia wanita dari kelas atas yang manja dan suka bergantung pada orang lain, mungkin perlakuan Nando yang seperti sekarang malah membuat suatu keberuntungan tersendiri. Andai juga dia wanita boros, mungkin sekarang dia akan sangat bahagia dengan kartu kredit unlimited yang sekarang berada ditangannya. Tapi Sofia bukan wanita seperti itu. Dia hanya gadis sederhana dengan kecerdasan diatas rata-rata hingga mendapatkan beasiswa dikedokteran. Dia juga wanita biasa yang tau artinya selembar uang dan bagaimana cara mendapatkannya dengan cucuran keringat dan kerja keras.


Hampir dua bulan memegang kartu, fasilitas dan kemewahan yang disodorkan padanya, belum pernah dokter cantik itu menggunakannya. Dia hidup dari gajinya sebagai abdi negara. Lagipula dia hanya berbelanja kebutuhan pribadinya karena seluruh kebutuhan makan minumnya sudah dipenuhi oleh Nando.


Ingatannya kembali berputar pada kejadian tadi. Wajah Nando yang manatap penuh amarah, nada ketus dari bibirnya dan makian yang entah sengaja atau tidak yang keluar dari bibirnya membuat keputusannya menjadi bulat. Dia ingin meminta cerai. Berpisah sejak dini lebih baik dari pada dia sakit dikemudian hari karena sudah terjerat pesona Nando seperti yang ada dalam novel-novel koleksinya.


"Kita sudah sampai nyonya."


"oh..ehh iya pak. Terimakasih, tinggal saja pak.Saya turun dulu!"


"Tapi tuan menyuruh saya menunggu anda nyonya." kata sang sopir bersikeras. Dia tidak ingin mendapatkan amarah dari majikan laki-lakinya jika dia tak menuruti perintahnya. Apalagi Sofia juga baru dikota itu. Tentu saja dia merasa khawatir.


"Pak, percaya sama saya. Saya tau jalan pulang. Lagian kalau kemaleman nanti saya telepon mas Nando biar dijemput." Sofia berusaha meyakinkan sang sopir merangkap bodyguard suaminya itu. Lama termenung, pemuda itu akhirnya setuju setelah menelepon sekretaris Alex dan mendapat ijin untuk meninggalkan Sofia sendirian.


Langkah cepat Sofia memasuki ruang IGD. Dia baru saja akan membuka pintu saat beberapa brankar di dorong ke arahnya. Diatasnya, para korban kecelakaan kereta dalam kondisi mengenaskan diusung. Tangannya dengan cekatan membuka pintu lalu ikut masuk ke dalam. Benar...disana dokter Lukman sendirian mengatasi pasien dibantu banyak perawat. Sofia segera memberikan pertolongan pertama dengam sigap.


Entah siapa lagi dokter jaga yang datang membantu mereka. Keadaan panik dan darurat membuat mereka tak bisa menyapa satu sama lain. Kesibukan begitu terasa diruangan itu hingga koridor juga dipenuhi para korban. Para tenaga medis bahkan tak menghiraukan perpindahan shift. Mereka tetap bahu membahu dan saling bantu hingga lupa makan karena hanya berhenti sejenak untuk beribadah. Selepas itu mereka kembali berkutat dengan penyelamatan para korban.


Menit demi menit berlalu, jam demi jam saling berburu. Para tenaga medis itu baru bisa bernafas lega begitu para korban sudah dinyatakan selamat walau tak semua. Beberapa dari mereka yang mendapatkan luka parah bahkan sudah menghembuskan nafas tanpa sempat mendapatkan pertolongan. Tidak akan ada yang tau sampai mana umur manusia bukan? walau sekeras apapun usaha pertolongan dan penyelamatan bagi mereka jika Allah sudah berkehendak, maka manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.


Sofia melepas sarung tangan dan maskernya. Rasanya lelah setelah seharian berjuang tanpa henti disana. Disampingnya, kawan-kawannya sesama dokter juga melakukan hal yang sama. Beberapa kali keluar candaan dari bibir mereka untuk sekedar melepas lelah yang mendera.


"Terimakasih sudah membantu saya dok." ucap dokter Lukman seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. Dia juga mengucapkan hal yang sama pada dokter lain yang tidak satu shift dengannya namun masih berkenan membantunya tanpa memandang jam kerja.


"Sama-sama dok." balas mereka hampir bersamaan. Wajah-wajah lelah dengan senyum tulus.


Sofia baru duduk dikursinya saat seorang perawat menghampirinya.


"Permisi dok, anda ditunggu suami anda di lobi." Sofia menegakkan tubuhnya, sedikit kaget.


"Suami?"


"Iya, dia bilang dia suami anda." Nando? mau apa dia kesini? bukan tipenya mengantar jemput dirinya. Jika dia Emma, mungkin hal itu bisa terjadi karena Nando sangat mencintainya. Tapi dia Sofia....apa Nando tidak salah? atau mungkin yang menunggunya adalah sopir tadi atau Alex? ahh...Sofia tidak ingin menebak-nebak.


"Ohh ya...terimakasih sus." jawabnya seraya tersenyum ramah.


"Ciee...cieee....yang dijemput suami." goda para dokter yang ada disana seraya tertawa lebar. Sofia hanya tersenyum membalas godaan itu. Dia menyalami rekan-rekannya satu persatu lalu pamit pulang duluan.


"Wah..wah...padahal hari ini ada acara makan bersama di lantai atas dok. Kepala rumah sakit yang nraktir kita." kata dokter Lukman seraya menjabat tangannya sambil tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih.


Jawaban serempak yang penuh keramahan membuat senyum Sofia terbit. Dia tidak tau sejak kapan merasa sangat kerasan bekerja disana karena sikap rekan-rekan yang ramah dan baik padanya seperti keluarga. Mungkin faktor sesama bukan orang asli daerah itu yang membuat solidaritas mereka begitu kentara. Sofia juga serasa dikampung halamannya sendiri saat ada ditengah-tengah mereka.


Sampai dilobi, sesosok pria tinggi dengan ketampanan diatas rata-rata duduk manis dikursi tunggu. Mata elangnya menatap lurus kedepan dengan tangan bersedekap di dada. Mau dilihat dari sisi manapun pria itu tetaplah tampan. Sofia bergegas menghampirinya.


"Sudah lama mas?" sapa Sofia seraya mencium punggung tangannya. Pria itu bergeming dan bangkit dari duduknya.


"Ayo!"


"kemana?"


"pulang." katanya datar sambil mendahului langkah Sofia. Tidak ada adegan romantis juga memeluk pinggangnya seperti dalam cerita. Yang ada Sofia hanya berjalan dibelakangnya seperti seorang pelayan yang mengikuti tuannya.


" kenapa menjemputku? aku bisa pulang sendiri." protes Sofia dengan nafas sedikit memburu karena mengejar langkah suaminya. Ada rasa kesal yang membuncah didalam dadanya.


"Lihat jam berapa sekarang?." Sofia hampir berteriak tak percaya saat melirik jam dipergelangan tangannya. Jam 10 malam. Itu artinya dia sudah menghabiskan hampir dua belas jam dirumah sakit tanpa terasa. Andai tidak dijemput Nando mungkin dia akan disana hingga larut malam.


"Maaf." hanya itu kata yang bisa dia ucapkan. Sungguh dia merasa bersalah karena meninggalkan rumah selama itu, padahal besok dia harus berangkat pagi-pagi untuk piket.


Tak ada sahutan dari bibir Nando. Pria itu tetap fokus pada jalanan hingga sampai dirumah.


"Turun. Segera ke kamar!"


Sofia yang merasa bersalah hanya diam dan menuruti perintah suaminya. Dia mengabaikan rasa lapar dan haus yang sejak tadi dia tahan. Mungkin Nanti dia akan turun kedapur untuk makan malam.


" Dimana Elle mas?" Nando yang ada dibelakangnya mau tak mau menjawab.


"Dikamarnya dengan Maria."


"Kenapa tidak tidur disini bersama kita?"


"Dia sudah dewasa."


"Baiklah. Anggap saja latihan. Setelah kita berpisah nanti...."


"Tutup mulutmu dokter!! hentikan semua omong kosong ini karena aku tidak akan pernah menceraikanmu!" sentak Nando dengan mata berkilat marah.


" Untuk apa kita bertahan jika kita akan saling menyakiti mas?"