Dear Husband

Dear Husband
Kembali ke Jakarta



"Kak, aku dan Alex sudah mengatur jadwal penerbanganmu dan mengirimkan tiketnya padamu. Kau bisa langsung ke hotel di dekat kampus untuk kemudahanmu menjangkaunya." ucap Bella diseberang sana dengan nada riang. Betapa tidak, setelah enam bulan berlalu dia baru akan bertemu ipar dan keponakannya. Ya, enam bulan sejak kejadian pertengkarannya dengan Fernando Sofia sudah berusaha melupakan kesedihannya. Dia terlihat bahagia walau harus dibawah tekanan menyelesaikan tesisnya hingga dinyatakan lulus spesialis dengan nilai memuaskan. Shandylah yang berada dibalik keberhasilannya. Entah bagaimana Sofia bisa berterimakasih padanya. Tanpa dosen sekaligus iparnya itu dia mungkin sudah putus asa untuk meneruskan program studinya. Adalah Fransisca, mertua terbaik di dunia yang dianugerahkan Tuhan padanya. Tanpa mama mertuanya yang tegas dan penuh prinsip itu dia juga tak akan sekuat sekarang.


''Besok pagi-pagi sekali aku akan ke bandara agar tak telat." balas Sofia ikut ceria. Tangannya tak berhenti mengelus perutnya yang membuncit. Rejeki memang datang tak terduga. Bulan ini dia wisuda, bulan ini juga perkiraan kelahiran anak keduanya. Lihatlah si kecil Rafa yang terlihat menggemaskan disampingnya. Bocah berusia tiga tahun itu begitu antusias menonton film kartun kesayangannya sambil rebahan disisinya.


Mereka terus bercengkarama ala pasangan sahabat hingga melakukan video call bersama dengan Karin dan keluarganya di Prancis. Saudara ipar yang serasa saudara kandung. Kadang Sofia merasa banyak mensyukuri hidupnya. Dia punya mertua yang super baik, juga saudara ipar yang amat mendukungnya. Tak ada satupun pembicaraan mereka yang menyinggung seorang Fernando. Mereka semua menjaga perasaan Sofia dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa pada keluarga saudarinya itu. Mereka lebih memilih topik ringan seputar kelahiran.


"Mom, apa besok aku bisa bertemu dady?" Sofia terhenyak dalam diam. Baru saja mematikan telepon pada saudara dadynya, putranya malah bertanya soal pria itu. Sekilas dia melirik acara kartun yang ditonton anaknya. Sama sekali tak menyinggung soal ayah. Lalu kenapa tiba-tiba Rafa ingat dadynya?


"Mom...." lanjut si kecil bersikukuh ingin tau. Sofia mengerjabkan matanya, berusaha mencari alasan yang tepat dan masuk akal agar Rafa tak lagi banyak bertanya.


"Dady sedang sangat sibuk sayang. Pekerjaan dady banyak. Lain kali pasti dady mengunjungimu kesini. Besok kita bertemu tante dan om. Ohh ada juga kak Aling disana." terang Sofia. Rafa hanya mengangguk mengerti. Sesaat Sofia bisa bernafas lega. Untungnya Rafa bukan tipe anak yang krits hingga tak begitu ingin tau.


Esoknya, tepat pukul enam pagi datanglah mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Hena dan Maria memasukkan koper sang nyonya juga rangsel milik mereka dengan wajah cerianya. Kapan lagi bisa liburan ke Jakarta? Sejujurnya mereka rindu kampung halaman. Namun tugas pekerjaan membuat mereka menahannya.


Hanya kurang dari dua jam mereka telah sampai ke Jakarta. Sofia berjalan hati-hati saat turun dari pesawat. Tentu saja semua tak luput dari kesiagaan Hena. Pengawal cantik itu tak pernah melepaskan pandangannya dari sang nyonya. Dia bahkan tak segan mengamit lengan majiannya itu.


"Selamat siang kak." Sapa Alex dengan senyum terkembang menyambut Sofia. Sekretaris tampan itu mengulurkan tangannya, menjabat tangan Sofia.


"Siang juga. Bagaimana kabarmu Lex?" tanya Sofia. Alex kembali tersenyum.


"Dia sangat sehat. Lihatlah, dia terus saja menendang perutku. Mungkin dia rindu Jakarta." tutur Sofia dengan nada riang.


"Dia tau dimana dadynya berada."


"Apa maksudmu?" Sofia selalu saja sensitif jika ada orang yang membahas Fernando di hadapannya.


"Hmmm tidak. Mungkin si kecil turut bahagia karena besok momynya wisuda." Alex cukup tau bagaimana perasaan Sofia saat itu. Dalam usia kehamilan yang sudah memasuki masa-masa persalinan dia hadapi tanpa kehadiran suami yang harusnya siaga menemaninya 24 jam. Tapi siapa yang harus disalahkan? hidup Fernandopun dalam masa sulit sekarang.


Siapa yang tau jika dalam kurun enam bulan ini Fransisca dan Teguh Hutama benar-benar mencabut seluruh invesatasi mereka hingga Hutama grup yang dipimpin tuan mudanya benar-benar diambang kehancuran. Fernando harus pontang-panting mencari investor baru yang semuanya bahkan sudah dihalau pasangan suami istri itu hingga tak ada seorang pengusahapun yang mau bekerja sama dengan perusahaan mereka. Menghibapun tak ada gunanya. Fransisca yang keras tetap bertahan dalam kebenarannya sendiri. Sedang Teguh hutama? pria itu bahkan mencintai istrinya melebihi apapun dan pastinya akan mengabulkan seluruh keinginannya. Nando amat tau jika kedua orang tuanya menghukumnya dengan cara seperti itu. Dia tak berusaha melawan, yang dia lakukan hanya berusaha bertahan. Mengerahkan seluruh kemampuan dan modal yang tersisa karena kehidupan ribuan karyawannya diseluruh pelosok negeri dipertaruhkan. Nando tak ingin menyerah.


Alex dan Sofia terus bercakap-cakap hingga mobil yang dikemudikan Alex tiba di hotel tempat Sofia dan rombongannya tinggal.


"Kakaakk...." Bella langsung menghambur memeluk Sofia. Sekejab kemudian dia beralih pada Rafa yang juga terlihat bahagia dengan kehadiran bibinya.


"Kalian istirahatlah. Kamar kalian berada di kamar kakak." perintah Bella pada Hena dan Maria. Kasihan juga keduanya jika disuruh terus berjaga. Mumpung dia menemani Sofia, keduanya dia perintahkan beristirahat.


"Kami permisi nyonya." pamit keduanya lalu menuju kamar masing-masing. Sementara Bella yang menggendong Rafa segera mengajak Sofia masuk ke kamarnya agar bumil itu segera beristirahat.