Dear Husband

Dear Husband
Memohon



Sofia melepas kepergian suaminya dengan wajah berbinar bahagia. Berulang kali dia mewanti-wanti Alex untuk menjaga suaminya hingga sekretaris sekaligus iparnya itu hafal diluar kepala tentang kata-katanya. Sofia memang harus mengalah pada Nando. Dia tak tega melihat semangat yang terukir di wajah tampannya. Alex saja dibuat heran dengan bosnya yang sangat berbeda pagi itu.


Sebuah mobil hitam yang memasuki gerbang kediamannya menyurutkan langkah Sofia memasuki rumah. Dia tau Fransisca yang datang. Pasti mertuanya itu ingin tau kondisi putranya setelah tadi malam harus rela pulang atas permintaan Nando sendiri.


"Asalamualaikum sayang...." Sofia segera menjawab salam ibun mertuanya yang baru turun dari mobilnya. Menerima plastik berlogo resto terkenal juga sebuah paper bag entah apa isinya lalu mengajaknya masuk.


"Dimana Rafa, Fi?" Sofia yang baru meletakkan oleh-oleh mertunya segera menyuruh bi Sarla membuatkan minum.


"Masih mandi mom. Sebentar lagi pasti turun." jawab Sofia sambil mengikuti sang mertua yang duduk di sofa ruang bebas dengan view taman bunga di sisi rumah.


"Anak itu sudah kembali bekerja rupanya." Sofia tau siapa yang dimaksud mertuanya. Pasti mereka bertemu di jalan tadi, atau bisa jadi orang suruhan sang mertua yang melapor.


"Aku akan lihat sampai kapan dia bisa bertahan." ucap Fransisca dingin. Alarm bahaya mendengung di kepala Sofia. Ya, suaminya akan dalam masalah jika Fransisca dan suaminya terus ikut campur masalah perusahaan. Sofia bahkan sudah tau semuanya dari Alex kemarin.


"Mom....kumohon biarkan mas Nando bangkit. Tak usah membantu finansial pada kami, atau investasi besar pada perusahaan mas Nando. Cukup biarkan dia berusaha mom." Fransisca menatap tajam menantunya, tapi Sofia hanya menatap penuh harap padanya.


"Apa kau lupa semua perbuatannya padamu?" tekannya dengan nada amat rendah namun mengintimidasi layaknya wanita kelas atas yang sedang bernegosiasi.


"Tidak mom. Tapi mengadili mas Nando juga tak membuatku bahagia. Aku sudah berjanji akan memaafkan semua kesalahanya kecuali perselingkuhan mom. Dan mas Nando tak pernah melakukannya. Aku tak punya alasan untuk tidak memaafkannya." ucap Sofia dengan kepala tegak. Sekali lagi Fransisca menatapnya tanpa kata.


"Hatiku sangat sakit melihatnya kemarin mom. Lebih sakit dari semua yang telah dia lakukan padaku. Melihatnya tak berdaya, putus asa dan tak terawat saja sudah membuat separuh jiwaku pergi. Aku ingin Fernandoku kembali mom...kumohon biarkan mas Nando berusaha mengembalikan semuanya." Tangis Sofia pecah. Ketakutan akan kekuasaan Fransisca yang ingin meluluh lantakkan perusahaan suaminya menjadi ketakutan tersendiri baginya.


"Apa kau takut miskin Sofia?" pertanyaan yang membuat Sofia segera menegakkan kepalanya lagi, menyusut air matanya cepat.


"Tidak mom, aku sudah terbiasa hidup miskin. Jika ada yang harus menderita biarkan aku saja. Mas Nando tak kan bisa menjalaninya karena sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Kumohon biarkan mas Nando membangun kembali usahanya mom."


"Aku melakukannya agar Fernando sadar jika ada harga yang harus dibayar untuk sebuah keputusan agar kelak dia belajar dari kesalahannya menentukan prioritas dalam hidupnya. Tapi jika itu yang kau mau baiklah...aku akan menyudahinya dan membiarkannya berusaha. Dadynya pasti tidak akan tinggal diam."


"Apa mom dan dad akan kembali membantu mas Nando?"


"Maybe." jawab Fransisca sambil menyesap kopinya. Rasa tak tega juga menjalari benaknya. Bagaimanapun Fernando adalah putra satu-satunya. Pewaris kekayaan Hutama company dimasa yang akan datang. Bagaimana bisa dia atau suaminya lepas tangan begitu saja?


"Apa mom menyayangi mas Nando,?" bola mata kebiruan mirip milik Nando itu berkilat menatap iris kecoklatan Sofia, menelisik.


"Apa maksudmu?"


"Jika mom menyayanginya biarkan mas Nandi berusaha dan membuktikan jika dirinya mampu mom." Fransisca tersenyum tipis. Dia sangat mengenal siapa putranya. Pekerja keras dan negosiator terbaik yang bahkan bisa bekerja sama dengan perusahaan manapun jika dia tak membarikade pergerakannya. Tak akan sulit bagi Fernando memulihkan Hutama grup yang sedang carut marut seperti sekarang jika dia tak ikut campur. Siapapun pasti tau siapa putranya. Bisnisman yang brilian dengan insting bisnis yang amat tajam. Tapi dia sudah cukup puas mendengar tiap perkataan Sofia. Kali ini Fernando tak salah memilih istri. Wanita muda di depannya inilah yang kelak akan menggantikannya menjadi nyonya besar Hutama. Wanita yang kokoh, cerdas, penuh prinsip tapi juga punya hati nurani.


"Baikah. Mom dan dadymu tak akan ikut campur. Apa kau senang sekarang?" Sofia mengangguk senang lalu memeluk mertuanya spontan. Fransisca menepuk bahunya pelan.


"Jaga putraku baik-baik Sofia. Aku mempercayakan dia padamu." bisik Fransisca yang diangguki Sofia cepat.


"Sekarang panggilkan cucuku karena aku akan mengajaknya jalan-jalan."


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Author beri double up untuk permintaan maaf karena up datenya kemalaman ya readers. Soalnya capek banget pulang kerja. Jangan lupa terus berikan dukungan dan komentar pada karya ini agar menyemangati saya berkarya.


Selamat membaca dan jangan lupa bahagiaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰