
Yang dilakukan Sofia seharian ini hanya berada dirumah. Mondar-mandir tidak jelas dalam perasaan galau. Perkataan Fernando tadi pagi sebelum berangkat ke kantor sungguh membuatnya gugup setengah mati.
"Siapkan dirimu untuk malam pertama kita karena malam ini aku akan meminta hakku." kalimat itu terus terngiang diingatanya yang langsung membuat wajahnya bersemu merah. Ahh...siapa yang bisa menolak pesona tuan muda Hutama? Walau Sofia berulang kali menghalau rasa itu, tapi tetap sulit baginya untuk membohongi diri sendiri. Dia sudah terjerat dalam pesona seorang Fernando jauh sebelum dia tau jika Nandolah yang sudah membuatnya seperti sekarang.
Dalam kegalauan, bayangan Bella hadir dalam pikirannya. Pasti saudari iparnya yang ramah dan baik hati itu bisa membantunya. Bergegas Sofia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia harus segera menghubungi Bella.
"Hallo kak. Tumben ingat aku, tadinya aku mau kesana menjengukmu bersama anak-anak. Tapi takut mengganggu aktivitasmu." cerocos Bella saat telepon mereka tersambung.
"Bell yang sebenarnya...ehh..aku..." lagi. Salah tingkah, pelupa dan jadi gagap adalah trade mark yang sukar dihapus dari dirinya. Antara bimbang dan ingin jujur membuatnya dilema. Apa sopan mengumbar urusan rumah tangga atau ranjang mereka di hadapan adik ipar yang nyatanya hanya sepupu Fernando? apa itu tidak ....
"Ada apa? kau terdengar bingung?" Dan Sofia hanya sanggup meneguk ludahnya yang terasa kering.
"Itu...mas Nando ingin...kami bermalam pertama." jujurnya ragu. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Hanya Bella satu-satunya orang yang dia percaya karena sangat tau seluk beluk pernikahannya.
"Ahhh.. syukurlah. Dalam setengah jam aku akan kerumahmu. Tunggu aku dan jangan kemana-mana oke kakak ipar?" dan setelahnya sambungan terputus, menyisakan Sofia yang bengong ditempatnya. Kenapa Bella seantusias itu? kenapa juga dia seperti anak kecil yang akan mendapatkan coklat atau mainan incaran mereka. Sofia menggelengkan kepalanya. Ternyata seorang mantan pengacara ternama dengan kiprah tak diragukan serta garang dipengadilan punya kisi kekanakan juga dalam dirinya.
Tepat waktu. Setengah jam kemudian Bella sudah sampai dikediaman Fernando. Kekamar utama tepatnya. Sekarang mereka duduk berhadapan disofa kamar.
"Cepat ganti baju dan ikut aku." perintah Bella tegas.
"Kita...mau kemana?" Sofia selalu saja sukar menebak apa maunya sang adik ipar versi sahabat itu.
"Ya kita kesalon Kak. Bukannya tadi pagi kak Nando menyuruh kakak mempersiapkan diri? Jadi ayo kita kesalon. Perawatan agar kakak lebih fresh. Buat kak Nando ketagihan dan tidak melupakan malam pertama kalian. Secara kan kak Nando belum pernah yang namanya malam pertama ha ..haa ..."
"Belum pernah? bukannya mas Nando duda?"
"iya. Tapi sayangnya dapatnya yang sudah longgar ha..ha..." Sofia melengos kesal. Nando memang sudah menceritakan kisah pernikahannya dengan Emma. Sedikit banyak Sofia tau tentang sang suami.
"Semoga kau belum buka segel kak. Agar kak Nando bisa malam pertama dalam artian yang sebenarnya. Kakakku pria baik. Dia tidak pernah bergaul bebas diluaran. Sayangnya wanita ular itu yang malah mendapatkannya, meninggalkan bocah yang bukan dari garis keturunan kami pula. Hanya karena kemurahan hati mom dan dad saja Elle bisa tetap bertahan dirumah ini."
"Bella tolong jangan berkata begitu. Elle tidak bersalah. Aku mamanya dan akan selalu merawatnya. Sore nanti aku akan menjemput putri kecilku Bell." ada yang tersentil disudut hati sofia saat Bella menyingung tentang Elle. Sofia sudah sangat menyayangi bocah itu.
"Hmmm baiklah. Tapi aku akan segera menjemput Elle pulang saat urusanku selesai."
"Aku yakin akan lama selesainya." kata Bella yakin dengan wajah serius.
"kenapa kau bilang begitu?" Selidik sofia penasaran.
"Karena aku yakin Kak Nando tidak akan melepaskanmu. Dia pasti ketagihan berat." balas Bella sambil terkikik keras.
Tak berapa lama, dua wanita itu keluar dari rumah menuju salon langganan menaiki mobil Bella yang menjalankannya lumayan santai. Me time kata sang mantan pengacara, dan Sofia hanya bisa menurut saja.
"Kau masih gugup kak?"
"hmmmmm." Bella terkekeh melihat sofia yang terus memilin tangannya karena gugup. Padahal masih nanti malam acara dimulai.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya yang lumayan ramai di depannya.
"Apa...itu sakit?" Sofia tidak bisa menahan rasa ingin taunya kini. Penasaran dengan rasanya sang malam pertama. Walau dia seorang dokter yang tau anatomi manusia, tetap saja dia masih gadis. Ini pertama kalinya buatnya.
"Tidak. Jangan percaya pada cerita novel yang teralu mendramatisir cerita malam pertama dengan kata sakit yang mengerikan. Tapi...." Bella menggantung kalimatnya lalu menoleh pada Sofia yang menatapnya lurus dengan raut penasaran.
"Tapi apa Bell?"
"Tapi aku kurang tau jika itu milik kak Nando. Dia blasteran bule yang pasti itunya gede. Suamiku kan hanya orang pribumi, jadi ya...tak terlalu sakit. Enak malah." cetus Bella kembali terbahak.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting pemanasan cukup. Lainnya tinggal ngikut."
Obrolan mereka terhenti saat Bella memasuki area parkir salon yang dulu mereka kunjungi. Wanita cantik istri sekretaris Alex itu bergegas memesan paket pengantin untuk sang kakak ipar. Perawatan yang terhitung mahal, namun Bella yakin jika kakaknya nanti akan menyukainya.