
"Cari tau siapa pelakunya Lex!" perintah Nando dengan rahang mengeras. Tangannya terkepal sempurna. Tidak ada yang akan bisa menyentuh miliknya, apalagi seorang Sofia.
"Baik tuan muda." Alex lalu menghubungi agen khusus mereka, juga membuat laporan pada kepolisian untuk mencari tau sekaligus menangkap pelakunya. Setelahnya dia duduk disamping Nando yang terlihat kalut dan memeriksa laporan staf kantor Hutama. Dia tidak ingin ada orang dalam yang memanfaatkan kegentingan dan musibah bosnya dengan berbuat kecurangan. Untuk hal ketelitian, Alexlah yang terbaik.
Dering ponsel membuat Alex menghentikan aktifitasnya. Dia segera mengangkatnya dan memberikan beberapa perintah pada sang penelepon lalu menutupnya serta merta. Dia beringsut mendekati sang ipar.
"Tuan muda..." Nando yang sedari tadi terus mendoakan istri dan anaknya seketika mengangkat wajahnya. Matanya masih sembab bekas tangisan.
"Jack dan rekan-rekannya sudah menangkap pelakunya." lapornya, membuat Nando berdiri tegak penuh amarah.
"Siapa orangnya?" tanyanya tidak sabar.
"Andreas Marseden."
"Sudah kuduga." sinis Nando penuh tekanan. Dadanya serasa meledak karenanya. Laki-laki ini sudah dua kali menghancurkan hidupnya. Dulu dia memaafkannya karena mengingat hubungan keluarga antara dirinya dan Emma. Adik sekaligus pasangan incestnya. Tapi tidak dengan sekarang. Yang dia sakiti adalah Sofia, wanita lain yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan ruwet keluarga mereka dimasa lalu.nWanita yang datang dengan ketulusan dan kesabarannya itu sudah membuatnya melupakan semua masa lalunya yang amat sangat pahit. Dia adalah Sofia.....istrinya, belahan jiwanya.
"Sekarang dia ada bersama Jack di markasnya." lanjut Alex lagi seraya menunjukkan foto dan bukti-bukti di tempat kejadian.
"Tahan dia disana Lex, kita akan kesana begitu Sofia melewati masa kritisnya. Tapi jika terjadi sesuatu pada istriku, kupastikan dia tidak akan selamat, di akhirat sekalipun!" api kemarahan dan dendam itu kembali berkobar.
"Baik tuan muda."
Fernando kembali ke kursinya, menutup matanya dan terus berdoa. Bayangan dan setiap kenangan yang pernah dia alami bersama Sofia berkelebatan tanpa henti laksana scene film romantis dalam kepalanya. Betapa Sofia sudah banyak mengubah dirinya, mengembalikan senyumnya juga menyemangati hidupnya. Wanita biasa itu menjadi sangat luar biasa dalam hidupnya.
"Tuhan...selamatkan istriku." gumamnya berulang kali. Terlalu banyak kesalahan yang sudah dia perbuat pada sang dokter hingga mungkin sangat menyakiti hatinya. Dia yang tulus pasti memaafkan, tapi bukan berarti Nando akan melupakan setiap kesalahan yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Suara tangisan keras seorang bayi membuat seluruh otot ditubuh Nando melemah. Bayi itu lahir di dunia..itu berarti istrinya sudah tidak tertolong. Air mata jatuh membanjiri pipi sang tuan muda. Wajahnya begitu berantakan ditimpa kesedihan. Alex hanya berdiri disamping tempat duduknya tanpa kata. Ini kedua kalinya dia melihat saudara iparnya itu hancur. Kematian Emma mungkin tidak menguras air matanya, tapi Alex tau jika Nando tenggelam dalam kesedihannya. Tapi sekarang...Nando tidak hanya terlihat bersedih, tapi juga terluka. Sejujurnya Alexpun tidak yakin jika Nando bisa kembali baik-baik saja setelah ini. Dua kali kehilangan sudah merupakan pukulan telak baginya. Seperti dejavu...dia kembali ditinggalkan seorang wanita dengan seorang putra. Dulu Elle, dan sekarang bayi laki-laki itu. Entah kemalangan apa yang sudah menimpa tuan mudanya itu.
"Sofia...." hanya nama itu yang terus dia sebut berkali-kali hingga mata Alexpun basah. Bagaimanapun dia juga punya perasaan. Berlahan dia mengirimkan pesan pada Bella agar segera menuju rumah sakit keluarga Hutama.
Bermenit-manit larut dalam kesedihan sudah cukup bagi Fernando untuk terlihat menyedihkan. Tubuh tegap itu bangkit berdiri, membuat Alex mundur selangkah karenanya. Wajah sang tuan menjadi keras dengan sorot mengerikan. Fernando sudah kembali pada sifat awalnya, pria kejam tanpa perasaan.
"Andreas harus bertanggung jawab atas semuanya." katanya keras lalu berjalan cepat menuju lift.
"Kak, apa kau tak ingin menayakan pada dokter? apa kau tak ingin melihat putramu lebih dulu?" tanya Alex yang berusaha mengejar Nando agar tak terlalu tertinggal jauh darinya.
Alex yang sudah terbiasa menghadapi amarah seorang Fernando sama sekali tidak pernah merasa ketakutan. Dia tau Nando bukan orang ceroboh meski berada dalam situasi sulit sekalipun. Akalnya akan bekerja lebih baik dari pada emosinya.
Jack menyambut kedatangan keduanya dengan senyum terkembang. Wajah Indonya semakin bertambah tampan. Siapa sangka pria rupawan dengan dandanan perlente sepertinya adalah pemilik agen mata-mata dan bodyguard terbaik dinegeri ini. Fernando adalah daftar teratas yang sering memakai jasanya selain para pejabat dan orang terkenal lain. Sebenarnya pria ini lebih pantas menjadi seorang aktor dari pada berada pada kerasnya dunia intelijen.
"Ikut saya tuan muda." katanya seolah tau yang diinginkan Fernando. Mereka berdua sama...tipe orang yang tidak suka basa-basi.
Mereka memasuki ruang kedap suara dimana seorang pria sedang duduk diikat tali yang mengelilingi tubuhnya. Darah Nando tersirap. Penuh emosi dia memegang kepala Andreas kasar dan mendongakkannya keatas, memaksa menatapnya langsung. Andreas menyeringai licik.
"Akhirnya kau datang juga Fernando satria hutama." kekehnya tanpa rasa takut. Nando mendengus marah.
"Kau harus membayar perlakuanmu pada istriku bedebah!!"
"ha.. ha.. ha.. wanita busukmu itu pantas mati Fernando. Dia wanita brengsek yang akan merebutmu dari Emmaku." sebuah pukulan keras mendarat di wajah Andreas hingga dia dan kursinya terjungkal kesamping. Jack mendekat dan menariknya hingga kembali ke posisinya .
"Percuma kau memukuliku, istri jelek dan anak brengsekmu itu tidak akan bisa hidup lagi. Selamanya kau hanya akan meratapi rasa cintamu pada Emma dan membesarkan anak yang bukan anakmu hingga dia dewasa. Kau akan sangat tersiksa karena dia akan sangat mirip dengan Emma. Lalu...kau akan menikahi anak yang kau besarkan dengan tanganmu itu. Kau tau Fernando...aku menantikan saat itu. Saat dimana nasib kembali mempermainkanmu ha...ha...ha..." lagi-lagi sebuah pukulan mendarat hingga wajah Andreas babak belur karenanya. Berapa kalipun Nando memukulinya, Andreas tetap tertawa mengejek hingga Nando naik pintam dan makin emosi karenanya.
"Kakak jangan!!!" teriak Alex sambil menepis tangan Nando yang sudah menghunus pisau dari ruangan itu. Yang ada dalam pikirannya adalah membunuh Andreas saja tanpa berpikir akibatnya.
"Jangan pernah mengotori tanganmu dengan darah manusia tak berguna ini. Kak Sofia dan anakmu akan kehilangan dirimu."
"Sofia???" gumamnya dengan bibir bergetar.
"Dia. .."
"Lihat!" dan Alex menyambungkan video call antara dirinya dengan Bella yang menampilkan Sofia yang masih hidup dengan dibantu alat pernafasannya.
"Kita harus segera kesana." tukas Alex.
"Lalu bagaimana dengan bajingan ini tuan muda? Jack menatap miris pada tubuh Andreas yang penuh luka.
"Buat dia buta dan serahkan dia pad polisi."
"Tidaaaaakkkkk!! Fernando keparat!! Jangan lakukan itu padaku!!" Teriak Andreas keras sambil berusaha melepaskan diri dengan sisa tenagannya, namun dua buah besi runcing sudah menancap sempurna pada kedua matanya hingga membuatnya sangat kesakitan dan jatuh pingsan. Jack menyeringai menakutkan. Wajah tampannya berubah bak iblis kejam.