
Sean berjalan mendekati wanita yang sedang bercakap-cakap dengan Sofia hutama di gazebo samping rumah. Baby Rafa berada dalam gendongan sang nyonya muda pagi itu. Sudah kebiasaan bagi Sofia untuk menjemur putra tersayangnya agar terkena sinar matahari pagi hingga jam 9 nanti. Mereka sedang terlibat pembicaraan serius hingga tak begitu memperhatikan sekitarnya. Untunglah Sofia yang melihat bayangan Sean segera menoleh dan melemparkan senyum ramah.
"Selamat pagi tuan Moraima." sapa Sofia membuat Amanda juga menoleh padanya. Sesaat kemudian kepala wanita itu tertunduk membuat Sofia menyadari jika Amanda terlihat malu. Hal yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Apa terjadi sesuatu diantara mereka?
"Selamat pagi nyonya Sofia. Maaf, bisakah anda memanggilku Sean saja? Panggilan yang anda sematkan terlalu formal untuk saya." sahut Sean. Sofia menelisik wajah Sean. Jika dilihat dari tampilannya, pria ini memang masih berusia sedikit dibawahnya. Berarti memang secara adab Sofia bisa memanggilnya dengan nama saja. Apalagi Sean yang memintanya.
"Hmmm baiklah Sean...apa kau mau bicara dengan Amanda?"
"Itu jika anda tidak keberatan nyonya Sofia." balas Sean sedikit ragu.
"Hey, untuk apa aku keberatan? kalian memang butuh waktu berdua saja dan bicara dari hati ke hati. Hmmm...sepertinya Rafa juga ingin mandi dengan dadynya. Aku pamit dulu ya."
"Tapi nyonya, kami yang akan pergi. Bukan anda." cegah Sean merasa tak enak hati karennya. Tapi Sofia sudah lebih dulu bangkit dari duduknya.
"Sudahlah, segeralah bicara karena sebentar lagi dady akan menyuruh kalian fitting baju pengantin."
"Maafkan permintaan lancang saya pada tuan Fernando hingga merepotkan keluarga ini nyonya." ujar Sean tak enak hati. Tadinya dia hanya berharap dinikahkan sederhana saja oleh Fernando karena dia hidup sebatang kara di negeri ini, tapi respon keluarga kaya itu malah diluar ekspektasinya. Mereka malah menggelar resepsi di kediaman mereka layaknya ada anggota keluarga yang menikah. Berulang kali Sean menolak, tapi Teguh maupun Fransisca bersikeras. Pasangan milyarder itu tetap menikahkannya dalam versi sederhana menurut sudut pandang mereka.
Bagaimana keluarga Hutama tak merespon baik pernikahan Sean? bagaimanapun dia mantan suami Emily adik Emma yang pastinya ipar Nando jika semuanya baik-baik saja. Sayangnya semua tak seperti yang diharapkan. Namun posisi Sean yang hanya sendiri disini dan Amanda yang juga tak punya siapa-siapa lagi menumbuhkan simpati keluarga Hutama. Pernikahan model begini bukan masalah besar untuk mereka. Jadilah masa liburan mereka ke tanah air sebagai ajang refreshing dalam tanda petik. Lebih tepatnya mendadak jadi WO gratisan.
"Jangan bilang begitu Sean. Kami semua senang bisa membantumu."
"Sekali lagi terimakasih nyonya."
"Sama-sama Sean. Ohh ya..aku harus pergi. Nikmati waktu kalian ya..." Sofia berlalu, meninggalkan Amanda yang sama sekali tak mengatakan apapun. Berada di dekat Sean sudah membuatnya amat canggung.
"Boleh aku duduk?" Amanda hanya mengangguk, membenarkan letak jilbabnya yang sedikit terbuka. Sejak peristiwa itu dia sudah memutuskan mengganti penampilannya menjadi lebih tertutup dan Sean bahagia dengan perubahan besar itu.
"Apa kau keberatan menikah denganku Amanda?" tanya Sean lirih. Ekor matanya menangkap kegelisahan dalam diri Amanda yang terus memilin tangannya.
"Apa...apa kau tak akan menyesal menikahiku? aku...aku sudah bukan gadis lagi. Ayahku juga orang yang sudah membunuh istrimu. Aku takut jika...."
"Jika aku membalas dendam dengan menikahimu?" Amanda menatap Sean terkejut. Pria ini seperti tau apa yang dia pikirkan. Hal itu juga yang tadi dia bicarakan dengan Sofia. Amanda takut menjadi korban lagi dari sebuah dendam.
"Mungkin aku terlalu perasa." balas Amanda ragu.
"Kita melakukannya dibawah pengaruh obat Sean. Aku tidak akan meminta tanggung jawab darimu." Amanda memang sudah memutuskan meninggalkan dan melupakan semuanya. Apalagi sama sekali tak ada tanggapan dari keluarga Roy Larsons padanya. Jangankan mengajaknya pulang, ibu tiri dan anaknyapun tak berusaha mencarinya.
Amanda memundurkan tubuhnya kala Sean bergerak maju. Tapi Sean sudah lebih dulu meraih tangannya dan menggengamnya erat.
"Amanda, pria sejati tidak akan ingkar janji. Aku Sean moraima..lelaki yang penuh luka hati ini ingin meminangmu dan menjadikanmu wanita terakhir dalam hidupnya. Maukah kau menikah denganku Amanda Larsons?" Ucap Sean penuh kemantapan. Sekali lagi Amanda menundukkan wajahnya.
"Sean...kita tidak saling mencintai, bagaimana bisa kita menikah?" balas Amanda gamang.
"Kita bisa sama-sama belajar Amanda. Cinta akan datang karena terbiasa."
"Tapi Sean...."
"Amanda, kita harus menikah!" putus Sean tak terbantah.
"Lalu kenapa tadi kau bertanya padaku jika pada akhirnya kau sendiri yang memutuskan semuanya?" Amanda kesal juga pada pria di depannya itu. Bola mata hitamnya berkilat marah.
"Baiklah, aku akan memberimu opsi. Aku menikahimu atau kau yang menikahiku."
"Itu sama saja Sean. Itu bukan opsi, tapi pemaksaan. Kau hanya membolak balikkan kata-katanya." dengus Amanda kesal.
"Apa itu artinya kau menolakku Amanda?"
"Sean ini terlalu cepat bagiku." jawab Amanda nyaris seperti keluhan. Wajah Sean moraima mengeras.
"Baiklah. Aku tidak bisa memaksamu Amanda. Aku cukup tau diri disini. Seorang pria yang tak punya apa-apa ingin menikahi anak mantan majikannya? ha..ha...bahkan untuk menikah saja aku minta pertolongan orang lain. Menyedihkan." Sean tertawa getir.
"Sean bukan begitu maksudku...."
"Kau mungkin akan berpikir sama dengan Emily. Aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu meski sudah bekerja seumur hidup. Memang benar...yang berjuang tetap akan kalah dari yang punya uang. Maafkan aku Amanda."
"Sean tunggu!! Sean...." teriak Amanda mencoba mengejar langkah panjang Sean yang pergi meninggalkannya memasuki rumah besar.
"Sean tunggu....bukan itu maksudku!!" tapi sean tetap berlalu.