Dear Husband

Dear Husband
Pintu keluar



"Ada telepon dari rumah sakit tuan muda." lapor sekretaris Alex saat rapat bulanan usai. Para petinggi perusahaan beserta staf yang hadir sudah meninggalkan ruangan itu satu persatu.


"Ada apa?" tanya Nando yang enggan berdiri dari duduknya. Tangan kekarnya bahkan masih asyik bertengger pada pegangan kursi.


"Nona Elle sudah bisa dibawa pulang." kali ini suara Alex berubah pelan. Enggan rasanya menyampaikan seputar Elle pada atasannya itu. Tapi apalah daya, dia berada pada jam kerja.


"Hmmm baiklah, aku akan segera kesana untuk menjemputnya." Nando segera bangkit dan keluar dari kantornya menuju parkiran. Alex yang biasanya mengekori kemana saja majikannya pergi hanya menatapnya jengah lalu kembali ke ruangannya. Sungguh, rasa hormat dan kekaguman pada sang kakak ipar sudah sirna.


Dilain tempat, Fernando yang sudah tiba dirumah sakit segera menuju ruang perawatan Elle dan mengajaknya segera pulang ke rumah.


"Papaaa....lama sekali pa." ujar Elle dengan manja saat Nando tiba diruangannya. Gadis kecil itu segera berlari dan memeluk Fernando erat. Tapi yang paling menarik adalah gadis cilik itu bahkan berani mengecup bibir Nando sekilas lalu berlagak tak terjadi apa-apa. Saat keluar dari rumah sakitpun dia terus bergelayut manja di lengan Nando dengan manja. Hal yang bahkan Sofia saja tak pernah melakukannya karena tuntutan profesi dan menjaga nama baik keluarga. Jangan lupakan tatapan galak Elle saat ada yang sengaja memandang Fernando atau menyapanya.


Tak berapa lama mereka sudah sampai ke rumah. Elle tersenyum lebar saat melihat bangunan megah itu kembali. Ya...akhirnya dia kembali kesana dengan penuh kemenangan. Jangan bilang dia tak tau apa-apa soal kepergian Sofia kemarin. Elle bahkan sangat tau rentetan ceritanya meski masih terbaring dirumah sakit. Sekarang dialah ratu dirumah itu. Tak akan ada yang akan menggantikan posisinya hingga nanti.


"Berhenti ditempatmu Fernando!!" sebuah suara wanita yang sarat ketegasan menghentikan gerakan Elle dan Nando yang hendak masuk ke dalam rumah. Nando menatap wanita itu tajam.


"Momy...." desisnya dengan ekspresi bingung. Kemarin momynya itu bahkan sudah mengusirnya dari kediaman Hutama. Lalu sekarang, kenapa dia malah datang ke rumah dan melarangnya masuk ke rumahnya sendiri??


"Ya..ini momy." jawab Fransisca santai. Wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan setelan resminya itu berdiri sambil bersedekap. Anggun dan penuh wibawa.


"Ini rumahku jika momy lupa. Momy tidak bisa melarangku masuk." protes Nando kesal. Fransisca tersenyum tipis menganggapinya.


"Memang tidak. Tapi aku bisa melarang tamu tak diundang ini masuk ke rumah."


"Tamu tak diundang? maksud momy Elle? mom..dia putriku. Dia juga penghuni rumah ini." protes Nando keras.


"Putri?? Putri yang mana? lihat dan baca baik-baik Fernando satria hutama." dan Fransisca menyerahkan beberapa lembar berkas pada putranya yang langsung membacanya dengan tangan bergetar.


Marah, tentu saja itu yang dirasakan Fernando saat melihat kartu keluarga baru yang hanya beranggotakan tiga orang saja. Dirinya, Sofia dan Rafa tanpa nama Hellena disana. Juga ada surat pembatalan akta kelahiran atas nama Elle yang ditandatangani pengadilan bahwa Elle bukan putrinya, namun anak Emma marseden. Bahkan sekarang tak ada nama hutama lagi dibelakang nama putrinya itu. Tangan Nando tekepal kuat.


"Momy terlalu ikut campur masalah keluargaku." Hardik Nando keras. Fransisca kembali tersenyum getir saat menyadari putranya kini sudah kembali ke sifat asalnya, sama seperti saat dia masih berhubungan dengan Emma. Fransisca menangis dalam hati. Dia kembali kehilangan sosok putrnya.


"Mom berhak untuk itu."


"Aku sudah dewasa dan berhak menentukan nasibku sendiri mom. Dan Elle akan tetap berada dirumah ini bersama aku dan Rafa karena aku sendiri yang akan merawatnya."


"Tidak ada?" beo Fernando dengan rona terkejut.


"Ya." balas Fransisca datar.


"Aku akan bicara dengannya di aparteman nanti. Walau rumah ini atas nama dia akulah yang sudah membelinya. Aku juga berhak tinggal disini."


"Apartemen?? Ha..ha...kau pikir bisa bertemu dengannya lagi?" tawa Fransisca sumbang. Ingin rasanya dia menyumpal mulut tak berguna putranya itu, tapi masih ada Elle disana. Setan cilik itu harus tau bagaimana kejamnya dirinya jika sudah murka.


"Dia ..kemana?" Fernando terpancing juga mendengar perkataan momynya. Rasa ingin taunya memuncak. Tapi rasa khawatirlah yang paling mendominasi Bagaimanapun Sofia istrinya dan tenggah mengandung calon bayinya.


"Itu semua tidak penting Fernando."


"Itu penting karena dia istriku mom!!" sarkas Nando penuh amarah. Sama sekali tak ada yang melaporkan padanya jika Sofia sudah pergi. Pasti ini adalah campur tangan momynya itu.


"Istri? kau bahkan masih dengan tak tau malunya menyebut dia istrimu saat sudah mencampakkanya demi anak seorang pelacur yang sudah merusak hidupmu. Dulu ibunya, sekarang anaknya....buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya."


"Mom!!!"


"Apa? jangan kau pikir aku akan berhenti berkata-kata Fernando. Apa yang kuinginkan itulah yang terjadi. Jika kau mau melawan momymu ini...baik. Sore ini dadymu akan pulang. Apa yang bisa kau jelaskan padanya jika separuh investormu akan mencabut kerjasamanya? Ohh iya...satu lagi Fernando, lima puluh persen saham yang kami tanam juga akan kami cabut secara permanen. Kau bisa mencari investor baru."


......degh.......


Jantung Nando seakan berhenti berdenyut. Kali ini Fransisca benar-benar tak main-main. Bahkan saat wanita yang melahirkannya itu amat marah karena mendengar pernikahannya dengan Emma, dia tak pernah bertindak terlalu jauh. Fransisca hanya mendiamkannya saja tanpa ingin mengusik hidupnya. Tapi sekarang....dia tau jika momynya tak pernah bercanda. Apa yang bisa dia lakukan dengan 50% saham yang tersisa? juga kehilanga investornya? Sepintar apapun dirinya, yang akan dia dapatkan hanya kehancuran.


"Apa yang momy inginkan?" lanjutnya melunak. Meladeni ancaman momynya hanya akan membuatnya makin terpuruk.


"Jangan pernah bawa anak haram itu masuk ke rumah menantuku karena hanya anak yang lahir dari rahimnya saja yang punya hak tinggal disini. Dan kau...sepicik apapun pikiran bodohmu itu, kau tetap putraku. Kuijinkan kau tinggal dengan satu syarat... buang anak itu dari kehidupanmu."


"Mom!!"


"Menurut atau...pergi!! Pintu keluar ada disana Fernando!" teriak Fransisca menunjuk pintu gerbang kediaman Fernando.