
Tatapan tajam Nando seakan menguliti tubuh Sofia yang masih berdiri tegak di kamar mereka lengkap dengan jas putih dan tasnya. Kilatan kemarahan sangat terlihat disana. Tak ada yang berubah dari Sofia. wanita itu tetap menatap lurus dengan tatapan tak kalah tajam dari sang suami. Dia mungkin perempuan sabar, tapi dia juga wanita biasa yang bisa terluka entah karena apa.
"Untuk apa bertahan katamu?" ulang Nando terdengar mengerikan. Dia memangkas jarak diantara mereka sambil tetap menatap penuh intimidasi.
"Iya. Untuk apa terus bersama jika kita sama-sama merasa tidak nyaman?"
"Tidak nyaman karena apa yang kau maksud? apa sebagai suami aku pernah bersikap kasar, berselingkuh, menduakanmu , membuatmu menderita, kekurangan atau bahkan sengsara?" berondong Nando dengan pertanyaan panjangnya. Terlihat sekali jika emosi masih menguasai dirinya.
"Tidak."
"Lalu apa alasanmu minta cerai dariku?"
"Aku juga ingin tau alasanmu tetap bertahan dengan pernikahan ini."
"Jawab dulu!" sentak Nando dengan suara tinggi.
"Alasanku karena aku tidak ingin membangun rumah tangga tanpa cinta. Aku juga tidak ingin hidup dibawah bayang-bayang Emma. Dia sudah meninggal!"
"Diam!!" Teriakan Nando mengelegar memenuhi seisi kamar. Untung saja kamar itu dibuat kedap suara hingga tidak terdengar sampai kemana-mana. Namun tak urung bentakan Nando membuat Sofia melangkah mundur. Telinganya serasa pecah. Tidak pernah dia melihat Nando semarah ini.
"Diamku tidak akan mengubah apapun tuan Fernando. Terima saja kenyataan jika Emma sudah meninggal. Buka matamu dan terimalah kenyataan itu."
" Berani sekali kau!!" Tangan Nando sudah terangkat keudara hendak menampar Sofia, namun dokter cantik itu dengan sigap menahannya dan menurunkannya dengan sentakan kuat.
" Jangan pernah menamparku karena aku tidak akan mengijinkan siapapun melakukannya walaupun kau suamiku! Apapun alasannya, yang kau lakukan tetaplah salah. Kau sudah berbuat tidak adil padaku karena terus memikirkan Emma setelah menikah denganku. Kau melupakan satu hal tuan...saat kau mengucapkan ijab kabul atas diriku maka kau juga sudah berjanji di atas nama Rabbmu jika kau akan mencintaiku karena sebuah tanggung jawab yang kau pikul atas namamu."
"Aku mencintainya!" sergah Nando dengan gigi bergemletuk menahan marah.
"Kalau begitu lepaskan aku! aku juga tidak berminat melanjutkan pernikahan seperti ini." Kali ini Sofia mengepalkan tangannya kuat.
"Never! yang sudah menjadi milikku tidak akan bisa pergi tanpa ijinku. Bukannya kau ingin tau apa alasanku mempertahankanmu?"
"Elle !!" tebak Sofia cepat.
"Jika itu alasanmu maka yakinlah aku akan tetap mencintai dan menyayangi Elle walaupun kita sudah berpisah nantinya." ujar Sofia dengan suara melunak. Dia selalu saja tidak tega jika menyebut nama Elle. Gadis kecil itu benar-benar sudah membuatnya merasa menjadi seorang ibu tanpa harus melahirkannya ke dunia ini. Sikap manis dan wajah imutnya pasti membuat siapapun jatuh cinta.
"Aku ingin kau tetap menjadi nyonya muda Hutama dan ibu dari anakku dokter. Kita akan hidup masing-masing tanpa saling menganggu. Bukankah kita sudah pernah membahasnya?"
"Tapi aku tidak mau! aku juga berhak bahagia." sergah Sofia kembali meninggi.
"Uang! aku bisa memberimu banyak uang, perhiasan, harta benda atau apapun yang kau minta. Bukannya semua perempuan itu sama? mereka hanya butuh kemewahan." kata Nando dengan nada mengejek.
"Simpan saja semua uang dan hartamu yang berlimpah ruah itu tuan Fernando yang terhormat, karena aku tidak butuh itu semua! Aku masih bisa menghidupi diriku sendiri dengan kedua tangan dan kakiku. Ini...kukembalikan semua kartu yang kau berikan. Semuanya utuh! dan tentang orang tua dan adik-adikku...putuskan semua keuangan yang berhubungan dengan mereka karena mereka akan sekolah sesuai kemampuanku membiayai mereka. Jangan pernah membeli kasih sayangku pada Elle dengan uang! aku bukan pengemis!!" Nando membiarkan atm dan kartu kredit yang sudah ditempelkan Sofia ke dadanya terjatuh ke lantai. Tapi dengan sigap tangan kekarnya meraih lengan sang doktet yang masih mengatur nafasnya yang naik turun karena emosi dan merapatkan tubuhnya ke dada bidangnya.
"Lalu apa yang kau inginkan?" bisik Nando lirih ditelinga kanan Sofia yang mau tidak mau membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku...a...aku..." Sofia meruntuk dalam hati karena berubah gagap pada situasi darurat seperti saat ini. Namun siapa yang sanggup menolak pesona seorang Fernando...apalagi dalam jarak sedekat ini? ahh....Sofia juga wanita normal.
"Katakan!" sentak Nando lagi. Sofia hanya mampu menunduk, tak berani menatap manik mata blue ocean sang suami. Dia memaki dalam hati karena terlihat seperti wanita yang ngambek karena cemburu. Dia juga tidak tau apa alasan harus marah dan meminta cerai pada Fernando?
"Mana keberanianmu Sofia? apa sekarang kau sudah berubah menjadi manusia kerdil yang pengecut? aahh...sayang sekali jika kau berubah munafik untuk sebuah kepentingan." kali ini Nando bukan hanya berbisik lirih ditelingannya namun sudah mencuri sebuah ciuman dari pipinya. Wajah Sofia merona. Dia meronta, mencoba melepaskan diri, namun Nando sudah mengurung tubuh kurusnya dengan kuncian mati. Jangankan menjauh, begerakpun dia sangat kesulitan. Tangan dan tubuh atletis itu sudah benar-benar menguncinya.
"Lepaskan aku tuan Fernando!" teriaknya keras. Namun Nando juga makin nekat menekan tubuhnya hingga dada mereka saling menempel dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher wanitanya.
"Jawab!"
" a...aku...."
"Katakan Sofia!"
"Aku ingin kau mencintaiku seperti kau mencintai Emma!" teriak Sofia lantang saat Nando sudah menyesap kuat leher jenjangnya hingga menimbulkan bekas kemerahan disana.
Nando terkekeh dan mengendurkan dekapannya. Tangan kirinya meraih dagu Sofia dan memaksa manik kecoklatan itu menatapnya.
" Jika kau ingin aku mencintaimu sebagai Sofia, maka aku akan berusaha. Tapi jika kau memintaku mencintaimu seperti aku mencintai Emma..maka aku tidak bisa. Kau tau kenapa? Karena Emma adalah seorang penghianat. Dan aku tidak akan memelihara seekor ular di dalam rumahku." desis Nando dengan wajah terluka.
"Pe...penghianat? bu..bukannya kau bilang Emma sudah meninggal?” Nando berdecih sebal. Tangannya menarik lengan Sofia kuat, membawanya ke ruang kerjanya. Disana Sofia hanya berdiri mematung melihat Nando membuka laci dan mengambil beberapa lembar kertas pada Sofia.
" Baca!" perintahnya.
Sofia menatap kertas itu lama dan mulai membacanya dengan tangan bergetar. Sebuah hasil tes DNA.
"k...kau....."
"ya. Elle bukan anak kandungku." jawab Nando pelan. Hembusan nafas kasar terlepas dari bibirnya.
" lalu siapa Andreas Marseden itu?" tanya Sofia ingin tau karena melihat lembaran lain disana. Ada nama Andreas Marseden yang punya DNA identik dengan Hellena. Itu berarti Andres adalah ayah biologis dari Elle.