
Cukup lama keduanya bersitatap hingga Sofia lebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah lain.Menatap Nando dalam waktu lama hanya akan membuat kesehatan jantungnya bermasalah.Dia juga wanita normal yang tau betapa tampannya Fernando sejak pertama kali bertemu.Pria dingin di depannya ini walaupun irit bicara,dingin,angkuh,dan tidak pernah ramah,namun punya sejuta kharisma yang bisa membuat para kaum hawa sepertinya tergila-gila.
"Mulai malam ini aku akan tidur di kamar Elle." Ujar Sofia dengan kepala tertunduk.
"Tidak!!" seketika kepala Sofia terangkat.Manik coklatnya menatap tajam bola mata blue ocean milik Fernando tak percaya.Harusnya lelaki itu bersyukur jika dia mau pindah kamar secara suka rela.Bukankah itu berarti dia tidak perlu berbagi kamar dengan siapapun?apalagi Nando sudah berulang kali menegaskan padanya jika Sofia bukanlah seleranya.Perkataan yang cukup menusuk dan bernada menghina untuk seorang wanita yang sudah dia persunting menjadi nyonya muda Hutama.
"Tapi aku...."
"Sekali kubilang tidak,maka tidak ada siapapun yang akan pergi.Aku paling tidak suka dibantah dokter!!" hardik Nando sedikit membentak.
"Apa kau tidak berpikir bagaimana keadaan Elle sekarang?dia butuh seseorang yang akan menemani dan membantunya.Ayah macam apa yang membiarkan putrinya yang tidak bisa melihat tidur sendirian?" protes Sofia keras.
"lebih baik diam jika tak tau apa-apa!tau apa kau tentang Elle?"
"Aku memang tidak tau apa-apa tentang Elle,tapi aku hanya tidak ingin Elle kenapa-napa."
"Elle sudah biasa sendiri.Ada Maria yang akan menemaninya."
"Elle butuh ibu,bukan pembantu."
"Tapi kau juga bukan ibu Elle.Ingat itu dokter Sofia!"
"Aku akan tetap ke kamar Elle dengan atau tanpa ijinmu tuan muda." sentak Sofia lalu berlalu menuju pintu.Seketika amarah menguasai pikiran Nando.Dia tidak mau dibantah oleh siapapun Egonya bergerak lebih cepat dari pikirannya.Sekuat tenaga dia menarik tangan Sofia hingga terhempas ke dalam pelukannya.Di pegangnya dagu Sofia kuat seakan ingin menghancurkan tulang-belulangnya.Sofia hanya bisa meringis kesakitan.
"Lepaskan!!" teriaknya kasar,tapi Fernando makin mengeratkan cengkeramannya hingga Sofia makin kesakitan.
"Dengar ...jangan pernah berani membantahku atau aku akan mematahkan lehermu!Aku tidak main-main dokter!" seketika Sofia terkesiap.Sisi liar Nando muncul.Pria arogan itu sudah kembali ke formasi awalnya.
"ba...baik.apa maumu?" jawab Sofia terbata.Dia tau,melawan seorang Fernando hanyalah hal yang sia-sia karena tenaga mereka yang tidak sepadan dan Sofia bukan dalam keadaan bisa melakukan perlawanan.
"Tetap disini dan turuti perintahku dokter." desisnya tepat diwajah Sofia.Bau mint yang menguar dari bibirnya bahkan bisa tercium dihidung Sofia yang membelalakkkan matanya lebar.
"Ba..baik..tapi Ji...jika aku tidak boleh disana,tolong ijinkan Elle tidur disini bersama kita.Se..setidaknya hingga dia sendiri yang menginginkan tidur di kamarnya.Jangan paksa Elle disana seorang diri."Sofia terbata.Kedua netranya bergerak gelisah karena jarak mereka begitu dekat dan intim.Nando mengendurkan cengkeramannya lalu menegakkan tubuh Sofia yang tadi bersandar padanya.
"Baik.Pergilah,jemput Elle dikamarnya." balas Nando tegas lalu kembali acuh dan duduk lagi di sofa.
Sofia meraup wajahnya kasar,tampak frustasi.Bagaimana dia bisa hidup bersama pria arogan seperti Nando nantinya?Pria yang bahkan lebih mirip robot dari pada manusia.Bukan hanya arogan,pria ini juga tipikal kejam dan dingin.Seketika bulu kuduknya meremang.Dengan langkah lebar dia keluar kamar,menuju kamar Elle.
Sofia masuk ke kamar Elle saat gadis kecil itu berbaring di ranjangnya sendirian.Kepalanya sedikit miring tanda dia tau ada yang datang dan memastikan siapa orangnya.
"Ini mama sayang.Elle mau tidur?" wajah mungil itupun tersenyum sumringah.
"Mama mau ngapain kesini?" tanyanya ceria,namun membuat kening Sofia berkerut.Anak itu menanyakan mau apa mamanya datang?bukankah itu berarti Emma memang tidak pernah mendatanginya sebelum tidur?
"Mama mau ajak Elle tidur di kamar papa."
"dikamar papa?" ulangnya lemah.Sofia mengangguk,namun langsung menyadari jika Elle tidak bisa melihat anggukan kepalanya.
"Iya Elle sayang."
"Apa mama sedang bercanda?bukanya mama bilang Elle harus tidur sendiri agar bisa mandiri?Tadi mbak Maria bilang Elle tinggal menekan tombol dekat tempat tidur jika butuh bantuannya." Sofia memeluk tubuh mungil itu penuh haru.Tidak!tidak akan dia biarkan gadis kecil ini sendirian.Bagamana jika terjadi sesuatu pada Elle tanpa sempat dia memencet tombol itu sedang Maria ada di lantai bawah?butuh waktu beberapa menit agar bisa sampai ke kamar Elle.Mambayangkan itu saja sudah membuat Sofia geram.
"Mama serius sayang.Kita tidur bersama dulu.Nanti jika Elle sudah bisa melihat lagi,Elle boleh tidur sendiri lagi dikamar ini.Mama tidak tega Elle sendirian." ucap sofia dengan suara bergetar menahan keharuan.
"beneran ma?"
"iya."
"Bagaimana kalau papa marah?" suara gadis kecil itu melemah,mengandung keraguan.Tangan Sofia terulur membelai kepala Elle.
"Tidak akan sayang.Papa sendiri yang menyuruh mama menjemput Elle disini.Sekarang kita kesana ya nak.Papa pasti sudah menunggu kita dari tadi." Elle memeluk leher Sofia erat laksana mengucapka ribuan kata terimakasih padanya.Sofia meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya keluar kamar.
"permisi Nyonya muda,nona kecil mau dibawa kemana?" tanya Maria saat keduanya bertemu di depan kamar Elle.Wanita muda belia itu memegang teko berisi air putih tangannya.Sofia kembali geram.Untuk apa teko dan gelas itu ada disana?toh Elle tidak akan bisa minum tanpa bantuan orang lain karen belum terbiasa dengan tata letak lingkungan barunya.Harus ada seseorang yang membimbingnya,bukan malah membiarkannya seorang diri.Ahhh..andai dia punya kekuasaan di rumah ini,ingin dia memerintahkan agar tidak membiarkan Elle seorang diri.Hal itu sangat membahayakan keselamatan dirinya.
"Membawanya ke kamar kami.Mulai malam ini Elle akan tidur bersama kami." Sofia kembali bertanya-tanya saat Maria tersenyum lebar namun matanya tampak berkaca-kaca.
"Ada apa Maria?"
"Terimakasih sudah memperhatikan dan menyayangi nona kecil nyonya." jawabnya sambil menyusut air mata yang hampir menetes di sudut matanya.
"Itu sudah menjadi kewajibanku Maria."
"Nona kecil,selamat ya...Tuhan sudah mengabulkann doamu." sambung Maria mengalihkan pandangannya pada Elle,membuat pertanyaan besar dihati Sofia.
"Memangnya apa doamu sayang?" Elle mengerjabkan matanya yang menatap kosong.
"Elle ingin mama menyayangiku." jawabnya polos.Hati Sofia bagai teriris pisau tajam,sangat sakit.