
"Dok, maaf pasien Emily sudah sadar. Bisakah anda memeriksa kondisinya?" pinta seorang perawat nampak ragu saat Sofia baru saja akan beranjak. Sofia melirik jam dipergelangan tangannya. Jam 5 lewat 15 menit, sudah lewat masa tugasnya. Rupanya perawat tadi masih melihat dirinya dan nekat mengejar karena dokter yang seharusnya menggantikannya harus keluar sebentar karena ada keperluan.
"Oh." Sofia melirik Nando sekejap. Memastikan reaksi suaminya yang melepas pelan tautan tangan mereka. Nando cukup tau, istrinya adalah seorang dokter yang selalu bergerak untuk kemanusiaan.
"Kenapa? periksalah dulu pasienmu. Aku akan menunggu." katanya lembut seraya mengusap kepala Sofia yang tertutup jilbab motif lingkaran. Dahi Sofia mengerut menyadari perubahan sikap suaminya. Nando yang dia lihat sekarang jauh lebih sabar hingga mau mengalah demi orang lain. Nando yang berbeda. Tapi bukan itu yang membuat Sofia ragu. Hatinya masih diliputi dilema, ingin menunjukkan Emily atau menyembunyikan dia.
"ehhmmm mas...."
"Dokter Sofia, maaf sudah merepotkan anda. Saya ada keperluan sedikit tadi." sela Dani, dokter jaga yang menggantikannya. Rupanya dokter tadi segera kembali saat perawat menghubunginya.
"Oh, bahkan saya juga belum sempat memeriksanya dokter." sahut Sofia ramah.
"Ok, saya kesana dulu ya." pamit Dokter Dani sambil berjalan tegesa masuk ke ruang ICU.
"Kenapa?" tanya Nando heran saat Sofia tampak ragu melangkah.
"Jika kau merasa tak enak hati kesanalah dulu dan pastikan keadaan pasienmu." lanjut sang tuan muda santai. Sofia kembali termenung.
"Maukah kau ikut kedalam?"
"Aku?" tunjuk Nando pada dirinya sendiri. Sofia mengangguk membenarkan.
"Tapi kenapa sayang? apa bayi kita ini ingin dadynya selalu menemaninya?" lagi-lagi jemari kokoh itu mengelus perut lembut perut Sofia, membuatnya kembali tersipu.
"Bukan." kata Sofia pelan sambil kembali menepis lembut tangan Nando yang serasa tak bisa jauh dari perutnya.
"Lalu?"
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."
"Baiklah." kata Nando sambil berjalan beriringan dengan sang istri.
"Dokter...syukurlah anda kembali." Dokter Dani menarik nafas lega. Kesulitan menangani Emily yang baru saja tersadar membuatnya membutuhkan teman, dan Sofia adalah orang yang tepat. Walau belum lulus program spesialis, tapi dia menempuh program spesialis jantung. Pasti sedikit banyak dia mengerti cara penanganan yang tepat pada pasien gagal jantung seperti Emily.
"Copot saja alat bantunya dokter. Pasien sudah bisa bernafas normal." ujar Sofia, membuat dokter Danu segera melakukan semau arahan Sofia dan benar saja, Emily jauh lebih baik.
"Terimakasih bantuannya dok." ucap Danu tulus. Sofia hanya mengangguk.
"Bisa tinggalkan kami sebentar dok?" pinta Sofia.
"Tidak. Saya hanya ingin berbincang sebentar."
"Oohh..kalau begitu silahkan." dan dokter Danu meninggalkan Sofia dalam tirai pasien. Tak enak hati juga berlama-lama disana.
"Mas..sini." panggil Sofia lirih pada Nando yang masih berdiri diluar tirai. Nando bergerak menyibak tirai hijau muda itu lalu masuk ke dalamnya. Matanya membulat sempurna.
"K...kau..E...Emily...??" Sofia hanya menatap reaksi suaminya dengan wanita yang terbaring disana bergantian. Emily menatap suaminya dengan mata berkaca.
"Kak Nando ...." Nando bergegas menghampiri dan menjangkau tangan Emily yang terangkat menggapainya. Refleks pria gagah itu memeluk tubuh wanita dibawahnya erat mambuat Sofia memalingkan wajahnya dengan senyum getir. Jika dibilang dia menyesal mempertemukan mereka, bisa jadi dirinya menjawab iya. Melihat suaminya memeluk wanita lain saja sudah membuat moodnya naik turun.
"Kenapa kau kembali kemari?" Ingin rasanya Sofia membuang tangan suaminya yang masih tetap memegangi tangan Emily erat. Tapi dia bisa apa? toh dia bukan siapa-siapa.
"Aku...kembali untukmu, juga Elle.." terbata Emily menjawab pertanyaan Nando.
"Apa maksudmu?" tegas Nando dengan sorot mata tak bersahabat. Sofia bergegas mendekati suaminya dan memberinya kode agar tidak banyak bertanya. Emily baru saja sadar dan mungkin bisa mengalami ganguan lagi jika dibuat tertekan.
"Aku tau kau tidak akan bisa melupakan Emma. Aku datang untuk menggantikan Emma kak." suara yang lemah, namun sanggup membuat dada Sofia merasakan gelenyar aneh. Sakit. Menggantikan dia bilang? semudah itu?
"Sayang...kemarilah!" panggil Nando agar Sofia mendekat padanya, tangannya melingkar memeluk pinggang Sofia posesif hingga wanitanya salah tingkah.
"Dia istriku, dokter Sofia." kata Nando tegas mengenalkan dirinya. Wajah Emily membeku.
"Istri?" ulangnya mencoba meyakinkan.
"Ya. Dia juga calon ibu anak-anakku."
"Kau...bagaimana bisa? kau sudah berjanji pada Emma untuk selalu mencintainya saja dan tidak akan menikah dengan wanita selain dirinya." Nando mengeram kesal. Andai saat itu Emily dalam keadaan sehat, mungkin dia sudah membentaknya karena berkata yang tidak-tidak didepan istrinya.
"Janji? ya, aku pernah berjanji padanya untuk tidak menikah dan mencintai siapapun selain saudara kembarmu itu. Tapi itu dulu saat dia masih hidup. Saat dia sudah tiada, maka semua janji itu gugur." Nando memasang wajah sangat dingin sehingga meninggalkan aura gelap disekelilingnya.
"itu tidak mungkin..kau hanya mencintai emma tuan muda Hutama."
"Yang kucintai adalah istriku. Sofia Hutama, bukan orang lain apalagi yang sudah meninggal. Sayang, sepertinya kita harus cepat pergi menemui klienku." pinta Nando sambil mencekal lengan Sofia dan membawanya pergi dari sana, bahkan saat sofia saja belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Nando sudah lebih dulu membimbingnya keluar dari ruangan itu, menuju lobi dimana mobilnya menunggu.
"Sayang...apa kau..."
"Jangan banyak bertanya atau mengatakan apapun mas. Biarkan aku tenang dulu."