Dear Husband

Dear Husband
Pisah kamar



"Ayo!" Nando mengamit lengannya dan mengajak Sofia berkeliling rumah setelah acara ramah tamah mereka usai. Atau lebih tepatnya dipaksa selesai karena Nando yang memberi kode para pelayannya agar segera pergi dari sana.


Rumah desain modern yang luas dan bersih dengan pencahayaan maksimum dari jendela besar disana memang menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Belum lagi bentukannya yang kokoh karena disangga pilar-pilar besar membuat rumah dua lantai itu benar-benar terlihat sempurna. Tak ada warna hitam atau abu-abu favorit Nando. Seluruh cat ruangan dibuat putih bersih dengan lantai coklat terang yang sangat elegan.


Mata Sofia kembali dimanjakan oleh taman bunga beserta pepohonan rindang namun terkesan asri disisi kiri rumah. Ada kolam renang dibelakangnya yang langsung terhubung dengan pintu masuk samping rumah utama. Kamar pembantu dan para asisten yang menginap disana ditempatkan pada bangunan lain disisi belakang rumah lengkap dengan skat dan bentukan layaknya rumah kost.


"Apa kau suka sayang?"


"Hmmmm."


"Kau ingin melihat kamar kita?" tak ada sahutan hingga Nando sedikit kesal karenanya.Dia yang begitu bersemangat bercerita dan menunjukkan bagian rumahnya dan berharap Sofia akan seantusias dirinya harus rela mendapat reaksi datar saja dari sang istri.


"Tunjukkan dimana kamarku." seketika Nando menghentikan langkahnya dan menatap Sofia penuh tanda tanya.


"Kamarmu? bukannya kamarmu adalah kamarku? kamar kita?"


"Aku tidak mau tidur dikamar yang sama denganmu." balas Sofia cepat. Dia tidak ingin lagi terbiasa dengan kehadiran Nando di dekatnya karena itu akan membuatnya makin terluka nantinya.


"Sayang dengarkan aku...."


"Beri aku kamar berbeda atau biarkan aku pergi." Serang Sofia diikuti Nando yang mencekal lengan Sofia yang akan pergi dari sana.


"Kau ingin tingga dirumahmu? jika itu maumu maka ayo! kita tinggal bersama disana."


"Itu rumahmu. Bukan milikku lagi." tukas Sofia sinis. Nando menarik nafas panjang. Dia harus banyak bersabar menghadapi ibu hamil dengan emosi naik turun karena perubahan hormon seperti perkataan mamanya.


"Rumah itu kubeli atas namamu."


"Tetap saja itu uangmu." bantah Sofia masih dalam ungkapan datarnya.


''Lalu apa masalahnya? uangku adalah uangmu. Milikku adalah milikmu juga."


"Sekarang iya, mungkin besok tidak lagi." ketus Sofia kembali membuat Nando hampir terpancing emosi.


"Jika kau berpikir aku mau bercerai darimu itu hanyalah mimpi Sofia. Segeralah bangun dari tidurmu karena kau terlalu lelah tertidur."


"Kau ceraikan atau tidak tidak ada bedanya bagiku. Maka itu berikan aku kamarku. Hanya kamar saja. Aku tidak minta rumah atau hartamu." dingin...itulah raut yang tersurat diwajah cantik Sofia yang kembali diam tanpa ekspresi. Dia sadar tidak akan bisa berpisah dari Fernando dalam keadaan hamil. Tapi memilih bertahan bukan berarti dia mu kembali seperti dulu disisi Fernando.


"Baik. Ayo ke kamarmu." kata Nando sambil menggandeng Sofia kekamar besar yang bersebelahan dengan kamar utama dilantai dua. Dia membuka pintunya lalu mengajak Sofia masuk kesana.


"Kenapa ada pintu penghubung?" Nando bergegas menghampiri Sofia dan memegang kedua pundaknya.


"Karena ini adalah kamar calon anak-anak kita sayang. Makanya kubuat pintu penghubung agar kita mudah memantau mereka nantinya."


"Tapi aku tidak mau ada pintu lain disini." protes keras Sofia disambut senyum oleh Nando.


"Kamar tamu sedang direnovasi. Jika tak mau tidur disini maka ayo kembali ke kamar kita."


"Maaf aku tidak bisa.,"


"Jika begitu bertahanlah disini."


"Ini yang kau bilang bangkrut? kau memang penipu ulung tuan Fernando!" kesal, Sofia berjalan menuju balkon dan menghirup udara segar disana.


"Apa aku pernah bilang jika aku bangkrut? bukannya kau sendiri yang menyimpulkan semuanya tanpa bertanya? kau hanya mendengar sebagian saja saat aku menelepon Alex. Kenapa tidak bertanya jika kau ingin tau hmm?"


"Apa peduliku?"


"Tentu kau harus peduli sayang."


"Kita tidak sedekat itu."


"Tapi kau istriku. Jangan katakan diatas kertas karena aku..ahh sudahlah!!" keluh Nando frustasi.


"Alex meneleponku dan mengatakan jika keluarga Andrew di Australia mengalami kebangkrutan. Rumah mereka bahkan sudah disita dan dilelang oleh bank. Tapi tiba-tiba kau datang dengan wajah aneh dan mengajakku pindah ke rumahmu dan berkata yang tidak-tidak tentang aku dan perusahaanku." lanjut Nando hati-hati sambil berdiri memegang tralis pembatas balkon.


"Kau juga tidak membantahnya. Artinya kau memang mau menipuku."


"Bagaimana aku akan membantah jika karena kebohongan itu aku jadi tau jika kau punya rumah lain disini tanpa sepengetahuanku? dari awal kaulah yang sudah merencanakan bercerai Sofia. Bukan aku!" kali ini Sofia hanya diam, pikirannya menerawang pada kejadian kala itu. Nando benar, dia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Harusnya dia tau siapa Nando dan keluarganya. Raksasa bisnis dengan tangannya yang menggurita.


"Sayang dengar...aku memang pernah berbuat kesalahan dimasa lalu, tapi aku benar-benar ingin berubah. Sudah ada calon bayi kecil yang akan ada diantara kita. Biarkan aku menjadi ayah yang baik untuknya....."


"Aku lelah. Bolehkah aku istirahat?" sela Sofia tak ingin lagi mendengar penjelasan sang suami.


"Baik, istirahatlah. Pintu kamar kita selalu terbuka sayang. Aku menunggumu disana." sesaat kemudian Nando mengecup kening Sofia singkat sebelum meninggalkan kamar itu.