
"Kau akan kembali menjadi seorang ayah hubby." lirih Sofia dalam dekapan hangat suaminya. Nando memeluknya amat erat, menciumi setiap inchi wajah istrinya penuh cinta.
"Sayang..terimakasih." ujarnya dengan suara bergetar. Pria itu mengecup bibir wanitanya sekilas.
"Jika yang harus berterimakasih, maka akulah orangnya hubby. Kau yang sudah menikahi perawan tua buruk rupa ini, menjadikannya layak dan hidup terhormat. Entah bagaimana aku bisa membalas semua yang sudah kau berikan padaku."
"Hmmmmm...." gumam Nando sambil menggendong wanitanya menuju ranjang pribadinya lalu membaringkannya disana.
"Perawan tua? mungkin kau lupa jika suamimu ini juga seorang duda saat menikahimu." ujar Nando terkekeh. Dielusnya pipi Sofia dengan sepenuh kelembutan dalam jiwanya.
"Jika aku tau begini rasanya dinikahi duda...mungkin aku tidak akan jadi perawan tua." balas Sofi ikut terkekeh pula.
"Apa kau pernah pacaran dengan duda juga?" rona wajah Fernando seketika berubah masam.
"Tidak..bukan begitu mas." sanggah Sofia cepat. Dia tidak ingin suami posesifnya salah paham lalu merusak moment kemesraan mereka. Bisa runyam urusannya jika Nando sampai cemburu buta.
"Bukan pacaran hubby, tapi beberapa kali mereka...mencoba meminangku." Sofia langsung menundukkan wajahnya, tak kuasa menatap mata tajam Fernando.
"Lalu...." hening, Sofia terpaksa kembali menatap suaminya saat tangan besar Nando memegang dagunya lalu menuntunnya agar mendongak menatapnya.
"Ayah...."
"Kenapa dengan ayah?" buru Nando dengan suara rendah namun terkesan dingin dan menakutkan.
"Sofia..." ulang Nando penuh tekanan.
"Ayah dilahirkan disana, tempat nenek moyang kami memeluk suatu keyakinan secara turun temurun. Mau tak mau ayah mengikuti kepercayaan itu."
"Tapi apa hhmmmm?"
"Menurut tradisi turun temurun di daerah kami, wanita yang berstatus perawan harus menikah dengan jejaka. Akan jadi semacam aib jika melanggarnya. Kami tidak akan mendapatkan hujatan seolah kami ini seorang pendosa."
"Lalu aku? bagaimana dengan kita? aku duda saat menikahimu. Apa ayah juga menjadi bahan gunjingan?"
"Pada awalnya iya. Tapi ayah sudah tutup mata dan menulikan telinganya. Ayah hanya ingin aku menikah dengan orang yang kucintai. Tak peduli bagaimana statusnya. Ayah hanya ingin anak-anaknya bahagia."
"Tapi kita tidak saling mencintai saat menikah dan menemui ayah Sofia."
"Kau saja yang tidak cinta mas."
"Sudahlah."
"Sofia!!" sentak Nando lirih, kembali dengan tatapan penuh intimidasi.
"Apa aku harus menjelaskannya hubby?" Suara lembut Sofia membuat netra blue ocean itu melemah. Dikecupnya kembali bibir si wanita.
"Ya."
"Kau memang tidak pernah mencintaiku hubby...tapi aku...aku mencintaimu bahkan saat pertama kali kita bertemu. Siapa yang bisa menolak pesonamu? aku bahkan hanya wanita polos yang tak pernah dekat dengan pria. Kau...kau pria paling tampan yang pernah kutemui hubby." Senyum Nando merekah. Yang dikatakan Sofia seolah guyuran hujan dimusim kemarau yang amat panjang. Wanitanya...orang yang paling dia cintai bahkan sangat mencintainya. Hal yang selalu ingin dia dengar setiap waktu agar rasa takut akan kehilangan dalam dirinya pupus.
"Sayang bukan tidak pernah...tapi belum. Sekarang suamimu ini sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya. Pria ini bahkan siap menjadi perisai saat kau menghadapi kerasnya dunia, juga memberikan nyawa dan kehidupannya agar kau bahagia." Wajah Sofia memerah dengan getaran halus yang menggetarkan jiwanya. Tuhan memberikan apa yang dia butuhkan. Cinta...cinta suaminya. Matanya berkaca.
"Aku mencintaimu hubby." ujarnya lalu membenamkan dirinya kembali dalam pelukan Fernando yang langsung mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
"I Love you more honey." bisik Nando ditelinga kanan Sofia. Keduanya saling memeluk.
"Sayang, apa menurutmu calon bayi kita sehat?"
"Hmmmm.." Sofia hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya sibuk menelusuri dada beroto suami tampannya.
"Kurasa dia rindu dadynya."
"Tidak." sangkal Sofia tegas.
"Darimana kau tau?"
"Momynya yang sekarang merindukan dadynya." Balas Sofia manja. Jemarinya bahkan sudah menyingkap kaos tanpa krah yang dikenakan Fernando.
"Sayang kanduganmu..bukannya masih trisemeter pertama? dokter bilang...."
"Aku juga dokter hubby." potong Sofia cepat. Bibirnya sudah mengecupi dada suaminya nakal, membuat Fernando menggelinjang karenanya.
"Kau membangunkan macan yang sedang tidur Sofia, jangan salahkan aku jika macan itu akan menerkammu." Bisiknya dengan suara parau.
"Terkam aku hubby." samar Sofia dalam pusaran gairah yang ditimbulkannya sendiri. Gairah itu sudah membakar kewarasannya hingga sepasang tangan kekar itu bergerak seduktif mengikuti naluri lelakinya, mengeja seluruh tubuh wanitanya. Memberikan sensasi ciuman, pilinan dan ******* manja, juga pelepasan penuh peluh dengan nafas yang memburu tanpa jeda.