Dear Husband

Dear Husband
Meeting



Sepanjang perjalanan menuju hotel terkenal yang akan menjadi tempat meeting sekaligus lokasi penginapan tuan Roy, Nando tak pernah melepas genggaman tangannya dari jemari Sofia. Acap kali dokter cantik itu berusaha melepas, namun Nando malah memepererat kaitannya. Ada rasa damai yang menjalari tubuhnya saat menggenggam jemari yang sama sekali tak bisa dikatakan halus itu. Jemari anak petani memang punya sensasi berbeda walau telah menjadi dokter diusia muda. Tapi dari jemari yang bahkan lebih kasar dari miliknya itulah Nando punya kekuatan besar untuk mengambil langkah lain dalam hidupnya. Jemari yang kuat, sekuat pribadi wanitanya.


Sofia yang melihat suaminya sedikit resah mengusap lembut punggung tangannya sengan tangan kirinya, membuat keduanya bersitatap.


"Aku tau ini tak mudah bagimu. Emma dan Emily memang serupa. Aku juga yakin yang dikatakan Emily tentang perasaanmu juga benar adanya." gumam Sofia lirih dengan senyum sendu. Dia tau hal ini akan terjadi.


"Kau bilang apa? perasaan apa? jangan menarik kesimpulan sepihak." tegas Nando tidak suka.


"Tentu saja kau masih menyimpan sesuatu dalam hatimu. Cinta pertama akan susah dilupakan. apalagi sekarang ada orang yang berwajah sama dengan orang yang kau cintai. Tidak sulit bagimu untuk beralih mencintinya bukan?"


"Sofia!!" sergah Nando makin terlihat marah. Tangannya terkepal kuat dan menjangkau leher Sofia dengan beringas lalu menariknya mendekat. Penuh amarah dia mencium paksa bibir istrinya kasar. Dia tak menghiraukan pekikan dan penolakan Sofia hingga.....


"Silahkan tuan." dan seketika Nando melepaskan ciuman dan cengkeramannya saat sopir membukakan pintu. Berlahan dia mengusap bibirnya dan mengatur nafasnya yang sedikit memburu lalu mencium kening Sofia dan mengelusnya penuh cinta.


"Maafkan aku sayang." katanya sebelum turun dan berjalan gagah menghampiri istrinya. Sang sopir lalu berbalik ke sisi lain, membuka pintu Sofia. Nando berjalan amat hati-hati hingga Sofi risih karenanya.


"Mas, berjalanlah dengan normal. Aku bukan pasien yang sakit kronis." bisiknya kesal karena ulah Nando yang sangat protektif.


"hmmm...biarkan saja begini. Aku tidak ingin calon anakku kecapekan. Bahkan aku serasa ingin menggendongmu kemana-mana." dan Sofia makin dibuat kesal karenanya. Mereka tetap saja begitu, berjalan lambat menuju meja dimana Alex dan lelaki paruh baya beserta istrinya berdiri menyambut mereka.


"Selamat datang tuan Fernando." sapanya sambil mengulurkan tangannya, disambut Nando dan Sofia ramah.


"Perkenalkan ini istri saya Sofia." Ujar Nando sambil melingkarkan tangannya di pundak Sofia mesra. Ingin rasanya Sofia berdoa agar bumi berhenti berputar hingga momen ini tak akan terlewatkan begitu saja. Ternyata begini rasanya diakui dan diperlakukan sebagai seorang istri. Hal yang bahkan baru beberapa hari ini dia rasakan.


"Anda terlihat sangat mencintai istri anda tuan Hutama." kata Nyoya Roy membuka pembicaraan. Dia juga heran melihat dandanan Sofia yang tertutup dan sangat sopan tapi sama sekali tidak meninggalkan kesan cantik dan elegan. Jauh dari selera Nando yang dulu mereka kenal.


"Tentu saja nyonya. Kami akan segera mempunyai bayi." balas Nando bangga dan sekali lagi mengelus perut Sofia mesra.


"Oohh ...selamat untuk anda tuan dan nyonya muda. Semoga ibu dan bayinya selalu sehat." nyonya Roy sama sekali tida bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Tangannya ikut membelai perut Sofia.


"Anda pasti sudah memeriksaknnya bukan?"


"Hmmm...setiap hari dia diperiksa nyonya." tukas Nando. Mata nyonya Roy yang masih terlihat cantik diusinya itu lansung melebar.


"Wow ....benarkah? pantas saja. Cucu keluarga Hutama memang prioritas utama. Kalian pasti tidak segan mengeluarkan berapapun untuk melihatnya sehat hingga lahiran nanti." pasangan suami istri itu begitu antusias hingga melupakan Alex yang sudah siap membuka proposal dari perusahaan Roy ditangannya.


"Istri saya seorang dokter. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan biaya lagi." kali ini Nando mengatakan semuanya penuh kebanggan.


"Dokter? wahh...hebat. Tuan Hutama pasti bangga karenanya." ya, dua pasangan itu tau kisah cinta antara Nando dan Emma kerena bersahabat dengan ayah Nando, Teguh hutama. Dari papa Teguhlah kerja sama itu digagas. Kondisi perusahaan Roy memang sedang membutuhkan investor besar karena sedang bermasalah. Teguh memutuskan membantunya dengan merekomenasikan putranya. Bagaimanapun Nandolah yang kini menanganinya.


Meeting berlanjut dengan santai hingga membuat Sofia nyaman. Nando sangat tau jika istrinya butuh kenyamanan setelah capek seharian bekerja.


"Hmmm...duduklah Sean." kata Roy sambi menunjuk kursi disebelahnya. Pria itu berjalan sambil menundukkan wajahnya.


"Dia Sean moraima, sekretaris saya. Maafkan dia tuan Hutama, tadi ada sedikit human eror hingga dia terlambat." tunjuk Roy pada sekretarisnya yang langsung memberi salam sebelum duduk ditempatnya.


"Moraima??" desis Sofia namun masih bisa didengar semua orang diruangan itu. Nando adalah orang yang pertama menatap intens istrinya. Demikian pula Sean. Pria itu menatap lekat Sofia.


"Apa kau mengenalnya sayang?" tanya Nando penuh penekanan.


"Aku hanya pernah mendengar namanya.'' elak Sofia tak ingin memperkeruh suasana. Dalam hati dia menggerutu. Kenapa harus menyebut nama Sean di dekat suaminya. Dia sangat tau jika Nando adalah tipe tempramen dan posesif.


"Aku sama sekali tidak percaya." decak Nando kesal. Wajahnya seketika meradang.


"Kau...apa kau mengenal istriku tuan Sean?" kali ini Nando menatap tajam Sean hingga lelaki itu kembali tergugup. Sekali lagi dia meneliti wajah Sofia, mengingat dan memastikan jika dia mengenal atau mungkin lupa pada wanita cantik di depannya itu. Tapi hasilnya...sia-sia. Dia tidak mengenal wanita itu.


" Tidak tuan." sahutnya kemudian.


"Lalu kenapa kau memandangnya terlalu lama? aku tidak suka lelaki lain menatap istriku!" sergah Nando marah. Membuat ruangan menjadi lengang.


"Kita tunda meetingnya!"


"tapi tuan Fenando..kami sangat membutuhkan kerja sama ini." cegah suami istri Roy tampak panik. Bagaimanapun mereka butuh Nando. Sudah sejauh ini kenapa jadi gagal karena kedatangan sekretarisnya yang Roy rasa juga tak salah apa-apa. Sedang istri Roy hanya menatap penuh harap pada Sofia.


"Mas, berhenti!" Sofia segera mencekal lengan Nando yang akan beranjak. Lelaki itu menatapnya jengah.


"Dengarkan aku, jangan bersikap seperti ini. Duduklah..aku akan menjelaskan semuanya." kata-kata lembut Sofia membuatnya takhluk. Pria itu kembali duduk dibimbing istri cantiknya yang langsung mengenggam lembut tangannya. Alex saja sampai heran. Tidak biasanya sang tuan muda menurut begitu saja saat emosi menguasai jiwanya. Kemana sikap arogannya?


"Katakan!" ujarnya dingin. Serentak yang ada disana kembali duduk dengan wajah pias.


"Seorang pasienku juga bernama belakang Moraima. Saat kutinggal belum ada satupun keluarganya yang datang. Apa aku salah jika secara spontan aku menyebut nama keduanya yang memang sama?"


"Siapa dia?"


"Emily...Emily Moraima."


"Kau bohong Sofia! nama belakang Emily adalah Marseden karena dia adalah saudari kembar Emma, bukan Moraima!" kali ini Nabdi mulai meninggikan suaranya karena kesal.


"Namanya berganti Moraima saat saya menikahinya tuan muda." ujar Sean hingga membuat semua orang tercekat.