
Sofia telah tampil cantik dengan gamis modern dibalik toga hitamnya. Dalam posisinya yang hamil tua, dia tak mungkin memakai kebaya seperti saat acara wisuda pertamanya. Senyum tak surut dari bibirnya saat langkah gemulainya memasuki aula tempat mengadakan wisuda.
Riuh rendah suara para undangan sama sekali tak membuatnya tertarik untuk sekedar menoleh ataupun melihat secara detail pada mereka. Yang dilakukan Sofia hanya segera duduk diantara deretan para wisudawan yang menanti acara dimulai seperti dirinya. Sofia tau, dia hanya sendirian disana.
Mungkin ini acara wisuda paling menyedihkan bagi dirinya. Tak ada siapapun yang menemaninya diruangan besar itu. Bella sejak semalam sudah pamit tak bisa menemaninya karena Aling tiba-tiba demam. Alex jelas tak mungkin karena harus pergi bekerja. Fransisca sang mertua juga harus ke Bali untuk acara peluncuran produk barunya. Sedang orang tuanya di kampung juga sengaja tak dia kabari karena tak ingin mereka tau jika keluarganya sedang retak sekarang. Akan lebih menyakitkan baginya jika melihat mereka bersedih karena ikut memikirkan nasibnya.
Acara demi acara terus berjalan hingga pemanggilan para wisudawan untuk naik ke podium. Sofia yang tau jika gilirannya akan segera tiba mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk meratapi hidupnya, sambil sesekali mengelus perut buncitnya. Iris kecoklatannya dibuat membulat sempurna saat melihat seseorang yang duduk pada deretan paling depan dari para undangan.
"Mas Nando....." gumamnya penuh rasa terkejut. Ya, disana sang suami duduk tenang sambil memangku putra mereka yang berpose amat manis dipangkuan dady tampannya.
"Kapan mereka datang?" lirihnya tanpa mengalihkan pandangannya. Sofia baru memutus pandangannya saat namanya dipanggil. Dia segera berdiri dan berjalan hati-hati menaiki podium untuk prosesi wisudanya.
Saat sesi foto, Fernando juga tiba-tiba sudah berada disamping Sofia sambil menggendong Rafa. Tangan kanannya mengulurkan sebuah buket bunga sebagai ucapan selamat padanya tanpa kata. Mau tak mau Sofia menerimanya, pria itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa pada hubungan rumah tangganya. Tapi Sofia menatapnya berbeda. Lelakinya semakin kurus dengan lingkaran hitam disekitar mata. Nando juga terlihat pucat dengan tatapan sayunya. Hal yang tak pernah dia lihat baik selama pernikahan, maupun sebelum menikah dengannya. Pria itu seakan kehilangan ruh ketampanan dalam dirinya. Tuan muda yang mendekati sempurna itu bak pria biasa yang berbalut jas mahal hasil rental salon saat mendatangi sebuah acara resmi.
"Apa bayi kita baik-baik saja?" tanyanya lirih, Sofia mengangguk. Maria yang melihat interaksi majikannya segera mengambil Rafa dan mengajaknya sedikit menjauh, begitu pula Hena. Mereka harus memberi ruang bagi pasangan suami istri itu untuk saling bicara. Moment yang sebentar lagi akan hilang karena Sofia sudah memutuskan kembali ke Jogja saat acara wisuda usai. Tak ada sesi jalan-jalan yang mereka inginkan setelahnya.
"Boleh aku menyentuhnya?" Sofia mendongak, ditatapnya wajah tampan suaminya penuh tanya. Sejak kapan tuan muda Hutama itu harus minta ijin untuk menyentuhnya? tapi melihat keseriusan diwajahnya, membuat Sofia enggan berpikir lebih lama dan membuat pria itu menunggu jawabannya.
"Ya." jawabnya singkat. Sofia menahan nafasnya saat tangan Fernando terulur menyentuh perutnya. Getaran kerinduan itu begitu terasa pada dirinya. Perasaan yang enggan diucapkan namun berat dirasakan. Sesak di dadanya kembali terasa saat melihat mata Fernando yang berkaca. Ya Tuhan...apa ini kesalahannya? dia sudah memisahkan seorang anak dari ayahnya. Bahkan saat dia belum hadir di dunia fana.
"Maafkan dady sayang. Baik-baiklah didalam perut momymu ya." lirih Fernando sebelum menegakkan tubuhnya dan berlalu tanpa kata melewati Sofia yang juga masih merasakan sesak dalam dadanya.
Sofia menarik nafas panjang, mencoba mengatur detak jantung dan perasaannya sebelum beranjak dari tempatnya. Baru dua langkah pergi dari tempatnya, Sofia dibuat terkejut saat ada suara gaduh dibelakangnya.
"Ahh Ya Tuhan..." pekiknya sambil berlari menyibak kerumunan dan sebuah teriakan histeris lolos dari bibirnya saat melihat Fernando roboh. Sontak dia memeluk tubuh tak berdaya itu.
"Mas...bangun mas...tolong...tolong panggilkan ambulans." Teriaknya, tapi beberapa orang disekitarnya hanya saling pandang dalam kebingungan Mata Sofia nyalang, memcoba mencari-cari sosok pengawa suaminya yang biasanya mengikutinya pergi kemanapun. Namun hasilnya nihil. Tak ada satu orangpun pekerja suaminya yang tampak.
"Anda bisa bantu kami?" pinta sebuah suara yang langsung diangguki beberapa pria. Sofia sedikit merasa lega saat melihat Hena yang datang dengan mobil mereka. Rupanya pengawal itu bergerak cepat membaca keadaan. Beberapa orang membatu menaikkan tubuh Fernando ke atas mobil lalu mereka segera menuju rumah sakit. Berkali-kali Sofia menyebut nama suaminya dengan berurai air mata tanpa bisa berbuat apa-apa selain terus membelai kepalanya yang terus memucat diatas pangkuannya. Dia dibuat lupa jika sebagai dokter dia bisa melakukan pertolongan pertama.
Mobil berbelok ke rumah sakit angkatan darat. Rupanya Maria yang duduk dibangku depan berinisiatif menelepon Fransisca dan menceritakan kejadian tiba-tiba itu hingga sang nyonya besar segera mengarahkan Hena untuk membawa putranya ke rumah sakit itu saja. Selain lebih dekat, rumah sakit itu adalah tempat Shandy bertugas.
Benar saja, Shandy yang ditelepon bibinya segera turun ke lantai bawah menunggu sang sepupu datang. Beberapa dokter umum yang bertugas di UGD menyapanya penuh hormat. Dokter senior yang masih lajang itu bergegas menyuruh perawat jaga membawa brankar mendekat lalu memasukkan nando ke UGD. Dia sendiri yang akan memeriksa Fernando.
"Ba..bagaimana suamiku?" tanya Sofia terbata sambil berusaha menyeka air mata yang tak berhenti turun membasahi pipinya. Bohong jika dia bilang tak takut kehilangan pria itu. Perasaan itu tak bisa ditahannya lebih lama.
"Kak Nando keracunan."