
"Dia Amanda Larson, putri Roy larson. Majikan Sean Moraima. Lulusan universitas Tokyo, dan belum menikah. Tapi rekam jejaknya dengan beberapa pria bisa dibilang luar biasa. Dia lebih banyak bekerja di balik layar karena Roy Larson seolah menyembunyikan identitas Amanda. Hanya anak sulungnya, David Larson yang sering muncul di publik sebagai orang yang digadang-gadang meneruskan estafet Larson's grup. Ini data lengkapnya tuan." Alex menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi riwayat hidup Amanda.
"Hmmmm....anak diluar nikah." gumam Nando sambil meneliti beberapa laporan itu.
''Ibunya orang Jepang. Selama ini dia besar dan bersekolah disana. Dia bekerja di sebuah maskapai penerbangan terbaik disana. Dibalik itu entah bisnis apa yang digeluti putri Larson itu hingga memiliki banyak aset dinegaranya."
"Pantas dia bisa leluasa bergerak dan mengambil kesempatan kemarin. Tarik semua bodyguard dilantai ini Lex, kau juga tak perlu mondar-mandir. Cukup letakkan cctv mikro lalu pantau saja dari kamarmu."
"Apa anda yakin wanita itu ada hubungannya dengan pembakaran perusahaan tuan muda? Jangan-jangan dia hanya fans berat anda." Sebenarnya dengan bentuk tubuh ideal dan wajah tampan rupawannya seorang Fernando berhak menyandang gelar most wanted dan memiliki hiden fans yang membuatnya harus super hati-hati. Tapi sikap dingin, arogan dan tak bersahabatnya membuat banyak kaum hawa mundur teratur dan tak berani mendekat.
"Instingku mengatakan iya."
"Baiklah, saya akan menyelidiki lagi perihal Amanda."
"Bukan Amanda yang harus kau selidiki, tapi Roy larsons dan Sean moraima."
"mereka lagi." keluh Alex seolah bosan menghadapi relasi bisnis sang tuan muda."
"Karena hanya mereka dan keluarga Marseden yang punya riwayat hubungan buruk denganku." ucap Fernando penuh keyakinan.
"Perihal keluarga Marseden saya tau dan saya pastikan mereka tidak akan berulah lagi. Tapi apa hubungan Roy larsons dengan semua ini?" tanya Alex sambil mengelus hidung macungnya, berpikir keras. Tak ada ingatan apapun mengenai keluarga Larsons yang berkaitan dengan tuan mudanya atau keluarg Hutama secara keseluruhan. Bahkan mereka juga baru dua kali bertemu saat meeting dan penandatanganan kontrak kerja sama.Tidak ada hal lain. Lalu apa yang membuat tuan mudanya seyakin itu mengaitkan peristiwa kebakaran perusahaan dengan semua ini?
"Karena Roy Larsons adalah mantan pacar momy." jawabnya enteng. Hampir saja Alex terbahak karenanya. Mantan pacar?? Bahkan kejadian saat muda masih diungkit hingga setua sekarang oleh sang tuan muda. Tapi melihat raut wajah Nando yang amat serius membuatnya urung tertawa. Sang sekretaris terpaksa hanya mengigit bibirnya saja.
"Maybe." balas Nando singkat.
"Mom flamboyan juga." bisiknya seraya tersenyum simpul membayangkan wajah mertuanya yang sangat cerewet. Dulunya dia merasa jika hanya Teguh Hutama saja yang kuat menghadapi sikanya karena terlanjur bucin. Tak taunya masih ada juga pria yang kesengsem dengan sang momy. Dan dia bukan pria sembarangan. Dia pemilik Larsons grup yang walau tak sekuat Hutama grup, tapi kiprahnya dikancah bisnis tak bisa diragukan lagi.
"Tapi kak, idemu itu bisa membahayakan keselamatan dirimu." protes Alex dengan wajah khawatir. Selama ini tuan mudanya tidak pernah lepas dari pengawasan para pengawal dan dirinya. Apalagi sekarang adalah masa tak kondusif.
"Turuti saja perintahku Lex." pungkas Nando bersikeras. Alex hanya bisa mengalah. Selama ini memang insting Nando jarang meleset.
"Baiklah." Putusnya kemudian Dikeluarkannya sebuah kamera intai berukuran sangat kecil dari sakunya lalu dia pasang pada tempat tersembunyi namun bisa memperlihatkan seluruh isi kamar lalu menghubungkannya dengan laptopnya. Bisa dipastikan malam ini dia tidak bisa tidur karena harus memperhatikan laptopnya. Dasar menyebalkan!
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku." Alex berdiri dari duduknya dan menuju pintu untuk kembali ke kamarnya. Dia perlu sedikit membersihkan diri sebelum memulai tugas barunya.
Pun Fernando juga melakukan hal yang sama, pria itu ingin mandi dan berendam agar pikirannya kembali fresh.
Baru beberapa menit berendam, suara bel mengagetkannya. Nando yang awalnya cuek menjadi meradang kala bel dipencet terus menerus hingga dia kesal dan memutuskan membuka pintu. Kegiatan paling menyebalkan. Jika itu dirumah mungkin dia tak perlu bersusah payah karena ada pembantu yang akan membantunya. Tapi sekarang tampaknya dia harus berusaha sendiri. Diraihnya handuk lalu melilitkannya dipinggang kemudian beranjak membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, seseorang mendorongnya keras hingga Nando yang berada dalam posisi tidak siap hampir terjerembab karenanya. Belum sempat dia menyadari semuanya, tiba-tiba matanya terasa berat lalu pandangannya menjadi gelap.
"Angkat dia." sebuah suara membuat dua pria datang dan membantunya mengangkat tubuh Fernando ke ranjang. Tanpa malu, wanita itu melepaskan pakaian atasnya lalu berbaring disamping Nando dengan posisi amat intim serta memeluknya mesra. Salah satu pria itu bergegas mengambil foto berbagai pose.