
"Bagaimana harimu mas?" tanya Sofia yang baru saja membukakan pintu dan menyalami suaminya. Fernando melarangnya membawa tas kerjanya ke dalam dan malah menyuruh Sarla yang membawanya ke ruang kerjanya. Selepasnya, pria gagah itu malah memeluk istrinya erat, mengecup mesra pucuk kepalanya seolah ingin berbagi kebahagiaan pada wanitanya.
"Aku mendapatkan investor baru Sofia. Perusahaan asing itu sudah setuju bekerja sama dengan Hutama grup. Mereka juga langsung menandatangani kontraknya setelah beberapa menit menghadiri meeting. Rasanya aku bahagia sekali hari ini." celoteh Fernando. Tangan kekarnya tak lepas memeluk tubuh istrinya hingga mereka tiba di dalam kamar mereka di lantai atas.
"Dady...." teriak Rafa yang baru keluar dari kamarnya yang berada di samping kamar orang tuanya. Refleks Fernando melepaskan pelukannya lalu berjongkok dengan tangan terentang menyambut putra tampannya yang berlari kecil ke arahnya. Benar saja, si gembul sudah menghambur dalam pelukannya dan memeluk lehernya erat. Nando kembali berdiri dan menggendongnya.
"Wangi sekali...anak dady sudah mandi ya?" Rafa langsung tersenyum lebar dan mengangguk. Nando yang awalnya ingin segera mandi mengurungkan niatnya dan memberi isyarat pada Sofia agar mengikutinya ke ruang keluarga dimana satu set sofa beralaskan karpet tebal dan televisi berukuran besar terpasang disana.
"Rafa mau nonton kartun atau bermain dengan dady?" tanyanya penuh kasih. Mata polos Rafa mengerjab.
"Nonton kartun sambil bermain. Oma membelikanku mainan baru tadi." benar-benar sikap Fernando yang menurun. Tak hanya wajahnya, sifatnya juga amat mirip dadynya. Tak suka memilih dan terlalu ingin memiliki semuanya. Sofia hingga harus menggelengkan kepalanya karena hal itu.
"Oma? kapan oma datang?" Nando mengrenyitkan keningnya.
"Tadi pagi sesaat setelah kau berangkat momy datang dan membawa Rafa jalan-jalan. Maaf jika aku tak cerita padamu." sambar Sofia karena Rafa yang lebih tertarik pada mainannya dari pada menjawab pertanyaan dadynya. Jemarinya segera bergerak memencet remote tv untuk mencari film kartun favorit Rafa.
"Tak masalah. Toh momy sudah kembali." balas Nando datar.
"Kembali?" ulang Sofia tak percaya.
"Ya, dad membutuhkannya disana. Momy terlalu lama berada di sini." terang Fernando seraya melepaskan dasinya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
"Aku sudah menyiapkan teh hangat untukmu mas."
"Hmmm...terimakasih." Nando mengambilnya lalu menyesapnya pelan, menikmati teh manis yang terasa menyegarkan tubuh penatnya.
"Kau mandilah dulu, biar Rafa bersamaku. Nanti saja bermainnya." Nando melirik jam dinding. Sofia benar, lebih baik dia mandi.
"Baiklah."
"Biar kusiapkan airnya." Tangan Nando menahan pergerakan Sofia.
"Aku bisa sendiri sayang. Tak perlu terlalu melayaniku. Cukup kau berada disampingku saja, aku sudah bahagia." ucapnya lembut lalu mencuri ciuman di pipi kiri istrinya sebelum beranjak pergi. Lagi dan lagi, pipi Sofia menjadi merah dadu. Setelahnya dia menjadi sibuk menemani Rafa bermain.
"Cepat sekali mandinya?" Nando tersenyum mendengar pertanyaan Sofia. Siapa yang ingin mandi dalam waktu lama dan melewatkan moment indah bersama keluarga?
"Hmmmm...aku kangen kalian." Sofia tergelak mendengar jawaban suaminya.
"Kenapa? apa ada yang lucu?" Nando meneliti dirinya sendiri. Dia tak merasa ada yang lucu hingga menyebabkan istrinya tertawa.
"Tidak. Aku hanya berpikir...kau bisa melewatkan enam bulan ini tanpa kami. Tak ada rindu sedikitpun, tapi sekarang kau malah bilang kangen hanya karena seharian ini tidak bertemu. Kau sangat lucu mas." Fernando terdiam. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibirnya. Fokusnya hanya bermain dengan sang putra hingga makan malam tiba. Dengan sebelah tangan menggandeng Sofia dia menuruni tangga dengan langkah hati-hati karena satu tangannya lagi harus menahan tubuh si gembul yang malas berjalan dan lebih senang berada dalam gendongannya.
Makan malam yang aneh. Saat Sofia sibuk menyuapi Rafa, Nando juga sibuk menyuapi istrinya. Beberapa kali Sofia mengingatkan agar Nando tak menyuapinya. Tapi si pria sudah menulikan pendengarannya. Dia tetap menyuapi atau dalam kenyataannya memaksa Sofia menerima suapannya hingga sang dokter mengeluh kenyang. Dia baru menyudahi suapannya bersamaan dengan Rafa yang juga sudah selesai makan. Maria segera mendekati tuan kecilnya. Sang pengasuh sudah amat hafal jika tuan kecilnya akan segera memintanya menemaninya di kamar.
"Makanlah." Nando menatap istrinya yang mengulurkan sendok tepat di depan bibirnya.
"Sayang aku bisa makan sendiri." Tolaknya halus.
"Aku hanya tak ingin bayi kita kelaparan."
"Ohh begitu?" Nando mengiyakan. Tapi bukannya urung menyuapi, Sofia malah makin memaksanya.
"Sayang...aku kan...."
"Aku hanya tak ingin dadynya bayiku kelaparan mas. Jadi makanlah lalu minum obatmu." Pinta Sofia yang membuat mau tak mau harus dituruti Fernando.
Piring itu sudah bersih karena akhirnya Nando makan dengan lahap. demikian pula obat dari rumah sakit juga sudah dia minum. Hena yang memang masih tinggal di rumah itu membantu bi Sarla membereskan meja makan dengan cekatan.
"Sayang, mulai malam ini kita tidur di bawah saja. Kau sudah memasuki masa persalinan. Tak boleh terlalu capek naik turun tangga. Ehm....satu lagi. Kapan kau mulai mengambil cuti hamilmu?" hampir saja Sofia lupa membahas hal itu dengan suaminya.
"Aku sudah mulai cuti hamil sejak hari ini mas. Shandy sudah mengajukannya sebelum aku kembali ke Jakarta." Mata Nando berbinar. Dielusnya perut besar Sofia.
"Mulai besok banyak istirahatlah bersama momymu. Dady akan menunggu saat bertemu denganmu baby." lirihnya. Sofia amat terharu karenanya.
"Kau sudah tau apa jenis kelaminnya?"
"Tidak. Biar jadi surprise buat kita. Tapi sejujurnya aku ingin jika dia perempuan. Setidaknya dia akan menjadi pengganti Elle untukku." Mendengar nama Elle disebut membuat Nando menegang. Dia takut istrinya kembali salah paham karena gadis kecil itulah yang menjadi retaknya hubungannya dengan Sofia hingga meninggalkan rumah untuk kedua kalinya.
"Tak usah lagi menyebut namanya Sofia." desisnya tanpa ekspresi. Sofia mengelus pipi tirusnya lembut.
"Maafkan aku." ucapnya singkat. Kadang dia lupa pada kejadian kemarin karena pada dasarnya dia sangat menyayangi Elle seperti anak kandungnya sendiri. Sofia tau nama itu akan membuka lagi luka yang mencoba disembuhkan seorang diri oleh Nando.
"Jika aku bisa mengembalikan Hutama grup menjadi seperti semula maukah kau menuruti permintaanku Sofia?" pinta Nando dengan wajah penuh harap.
"Permintaan?"
"Ya."
"Agar aku berhenti dari profesiku?" Sofia ingat betul hanya hal itu yang selalu diminta oleh suaminya. Tak ada yang lain dan tak berubah dari waktu ke waktu.
"Aku hanya ingin anak-anak tidak kekurangan kasih sayang seperti aku dan Karin karena orang tua kami yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku berjanji akan menghidupi kalian secara layak Sofia. Tapi jika kau belum menerimanya....baiklah tidak apa-apa. Tapi aku akan terus memintanya hingga kau menyetujuinya." Fernando mengenggam erat jemari istrinya, tersenyum tulus seolah ingin berkata jika dia tak akan marah dengan apapun keputusan Sofia.
"Berhentilah meminta itu padaku mas. Tak usah lagi mengulanginya karena aku sudah memutuskannya. Ya...aku akan resign."
"Kau serius?"
"Sangat serius. Menjadi nyonya muda Hutama saja sudah cukup bagiku mas." pungkas Sofia. Keputusan paling berat yang dia ambil dalam hidupnya. Tapi ini harus dia lakukan mengingat posisinya sebagai seorang istri yang syurganya terletak pada ridho seorang suami.
"Sayang...terimakasih..." Nando memeluk wanitanya erat.
"Tapi semuanya akan berlaku jika kau...."
"Tenanglah..aku akan berusaha."