
"ke kamar atau kuperkosa kau malam ini juga!"
Dingin namun penuh intimidasi. Sofia menatap mata itu tajam. Tak ada rasa takut disana. Yang ada dia geram dengan ancaman Fernando yang kekanakan. Apa tidak ada ancaman lain selain pemerkosaan? hal yang sama sekali tidak dia sukai. Beberapa kali dia menangani korban pemerkosaan yang fatal atau baru ditemukan dan dilarikan ke rumah sakit. Sampai kapan kekerasan seksual itu akan hidup dimuka bumi?
"Lakukan saja jika kau mau aku membuat nama baik keluarga Hutama tercemar. Kau bukan hanya akan dituduh melakukan tidakan KDRT tapi juga penyimpangan seksual." gertak Sofia berani.
"KDRT? ha..ha...aku bahkan bisa membunuhmu sebelum kau menelepon polisi dokter." ancam Nando lagi.
" Aku tidak keberatan." ucap Sofia kalem.
"Ayo!”
" kemana?"
"kamar kita."
"kau salah paham mas. Aku bilang tadi jika aku tidak keberatan kalau kau membunuhku."
"Kau yakin? banyak orang yang diambang kematian berdoa setiap saat agar mereka tak jadi mati."
"Sayangnya aku tidak takut mati."
"Tak akan kubuat mati."
"Ha...ha...mati saja aku tidak takut, apalagi hidup?" ejek Sofia disela tawa berderainya.
"Baik jika itu maumu!" Nando membuka pintu jendela dan menyeret tubuh langsin Sofia menuju balkon. Tanpa banyak kata pria tampan itu mengangkat tubuh Sofia seolah mengangkat karung beras ke udara. Sofia menjerit panik hingga beberapa pengawal yang bertugas diluar berlarian dibawah kamar majikannya. Namun begitu Nando memberi isyarat agar mereka bubar, mereka kembali ketempat semula seolah tidak melihat apa-apa.
"Kau..apa yang kau lakukan? mas turunkan aku!"
"Lihat apa yang ada dibawahmu."
"tidak....lepaskan!" teriak Sofia makin kencang, namun tidak direspon oleh Nando yang terus tertawa mengejek padanya.
"Kau lihat , aku akan menjatuhkanmu sekarang."
"Kau gila mas!"
"Tidur dikamar atau kulempar kau kesana!"
" Aku tidak mau!"
"Baik.."
..........byyuurrrrrr......
Seketika tubuh tinggi semampai itu melayang ke udara lalu terlempar kebawah tepat pada kolam renang luas dibawahnya. Nando menepuk kedua tangannya puas seolah baru menyingkirkan debu dan kotoran dari sana. Itulah pelajaran bagi sang pembangkang sejati. Pasti sekarang istri keras kepalanya itu sudah menyembul dan meraup udara bebas lalu berenang ke tepian dan merasakan dingin yang luar biasa karena cuaca yang juga sedang mendung. Sebentar lagi pasti hujan akan turun.
Semenit, dua menit...hampir sepuluh menit berlalu namun Sofia tetap tak telihat. Apa mungkin wanita itu kuat menyelam sekian lamanya?Ahhh..jangan-jangan dia hanya mengerjai dirinya untuk balas dendam. Tapi tiba-tiba perasaanya menjadi tidak enak. Udara sedingin ini, untuk apa Sofia diam terlalu dalam disana. Dia tau betul watak Sofia yang frontal dan tidak suka bercanda.
"Sofia." teriak Nando keras hingga kembali memancing atensi beberapa pegawal. Namun mereka tidak berani mendekat karena tak ada perintah dari sang majikan.
Merasa panggilannya tak dihiraukan, Nando malah bertambah khawatir. Tanpa berpikir ulang dia memanjat pembatas dan terjun bebas ke bawah.
"Mas..." panggilan lemah itu membuat Nando merasa sangat bahagia. Spontan pria itu merengkuh kuat Sofia dan terus membisikkan kata syukur.
"Kenapa...kenapa tak bilang jika kau tidak bisa berenang? kenapa juga kau sangat keras kepala Sofia? kau tau aku sudah terbiasa tidur denganmu. Aku takut tidurku tak nyenyak malam ini." omel pria yang masih diliputi ketegangan itu.
"Dingin..."
"ohh Ya Tuhan, kenapa aku lupa. Aku..aku akan membawamu masuk." Lalu tanpa banyak berpikir lagi dia mengangkat Sofia masuk ke dalam rumah.
"Buatkan minuman hangat untuk nyonya." perintanya pada salah satu ART yang melintas. Tanpa menunggu jawaban , dia berjalan tergesa masuk ke kamarnya.
" Turunkan aku mas."
" Sofia, kau masih lemah."
" Tapi tubuhku basah."
" sudah biar saja. Tunggu disini." Nando berlari ke arah lemari, mengambil handuk dan baju tidur asal lalu mendekati Sofia yang ada di sofa tanpa berani duduk karena tubuhnya yang benar-benar basah kuyup.
" ganti bajumu Sofia."
"Tapi mas..aku akan ke kamar mandi saja."
"jangan! biar aku yang membawamu kesana." dan tanpa disangka tubuh Sofia kembali melayang ke udara. Nando kembali menggendongnya ke kamar mandi.
" Cepat ganti pakaianmu, aku takut kau masuk angin." katanya seraya menutup pintu lalu kembali menuju lemari untuk mengambil baju ganti untuk dirinya yang tak kalah basah dari sang istri.
kriiiieett.....
"sudah selesai?" Sofia hanya menganggukkan kepalanya dengan bibir membiru karena kedinginanan.
....tok...tok...
"Tuan, ini pesanan anda." kata pelayan tadi saat Nando membuka pintu kamar. Dia menerima segelas besar teh jahe dan membawanya masuk.
"Minumlah dulu." Nando mengangsurkan gelas yang masih terasa hangat itu pada Sofia yang duduk ditepi ranjang. Ragu, dokter cantik itu menerimanya dan minum beberapa teguk dari sana.
"Sini!"
" untuk apa mas? aku bisa meletakkannya sendiri." Tapi Nando sudah lebih dulu meraih gelas itu dan meminum sisanya.
"Mas, apa yang kau lakukan?" Sofia melotot tidak percaya. Suaminya itu tipe pria yang sangat menjaga diri dan kebersihannya. Dia tidak bisa makan atau minum sembarangan. Apalagi bekas orang lain.
"minum." jawabnya enteng.
"Tapi itu bekasku mas."
" Memangnya kenapa? kita bahkan sudah berciuman. Minum dalam gelas yang sama tidak akan merubah apa-apa bukan?"
"ya tapi..itu...."
"Sudahlah..ayo tidur." Nando membantu Sofia merebahkan diri lalu menyelimutinya. Dia juga memutari ranjang lalu merebahkan dirinya disamping Sofia. Tanpa ragu dia masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk tubuh wanitanya.