Dear Husband

Dear Husband
Arabella



"ke..kenapa mas Nando tidak mengatakan apapun padaku Maria?" tanya Sofia lemah dengan suara terbata. Maria membantunya berdiri dan duduk disofa ruangan. Langkahnya tertatih seolah kehilangan tenaga. Kenapa semuanya terjadi sepagi ini?


"Saya kurang tau nyonya. Itu tuan Alex sudah kembali. Nyonya bisa bertanya padanya." tunjuk Maria pada sosok Alex yang hampir masuk ke ruang kerja Nando.


"Tuan Alex tunggu!" teriak Sofia lalu berlari kearahnya. Dia mendekati Alex dengan nafas memburu.


"Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alex tanpa ekspresi seperti biasanya.


"Kemana mas Nando?"


"Tuan sudah terbang ke Inggris." deg...lagi-lagi hatinya mencelos. Ternyata yang dikatakan Maria benar adanya.


"Kenapa tidak pamit padaku?" tanya Sofia semakin lirih nyaris seperti gumaman kecil.


" Tuan tidak perlu pamit pada siapapun."


"Tapi aku istrinya." tegas Sofia, melawan tatapan sekretaris Alex yang menelisik raut wajahnya.


"Sungguh?" Mata Sofia membulat demi mendengar pertanyaan Alex yang meragukan kata-katanya. Orang lain boleh bertanya begitu karena tidak tau. Tapi ini Alex...tangan kanan suaminya yang pastinya tau statusnya.


"Kau...apa maksudmu?"


"Tuan tidak mungkin tidak berpamitan pada istrinya nyonya."


deg.....


"Maksudmu...mas Nando sudah tidak menganggapku sebagai istrinya lagi?" Sofia kembali bertanya dengan bibir bergetar. Ada lara yang mengiris sudut hatinya. Kemarin memang dia yang ingin berpisah, tapi kenapa sekarang sesakit ini rasanya? bukannya seharusnya dia bahagia karena sudah lolos dari cengkeraman sang tuan pemaksa?


"Saya tidak bicara begitu nyonya. Sebaiknya anda menunggu tuan kembali untuk langsung bertanya pada beliau karena tuan tidak bisa dihubungi kecuali beliau sendiri yang menelepon."


"Tapi kenapa Elle dibawa ke tempat Bella. Bukannya ada aku dirumah ini?" Alex menatap sang nyonya intens. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian. Terlihat sekali jika pria itu mengejeknya.


"Bukannya nyonya bekerja? nona kecil butuh perhatian ekstra. Saya rasa nyonya tau itu." pedas. Itulah yang dirasakan Sofia dari kata-kata Alex yang menusuk.


"Aku juga masih bisa menjaga Elle dan membagi waktuku. Bukannya selama ini juga begitu?" Alex terdiam. Tatapan matanya bertambah tajam. Ada kilat kemarahan yang tersembunyi disana.


"nona kecil butuh seorang mama disampingnya, bukan pekerja paruh waktu yang hanya sesekali berada disisinya dan Nyonya Bella adalah orang yang tepat untuk itu." jawabnya sangat datar.


"Karena Bella ibu rumah tangga biasa yang punya banyak waktu untuk putra-putrinya. Kau tau bukan jika aku ini juga bekerja?" keluh Sofia dengan nada tak terima. Dia juga bisa menjaga Elle walau harus bekerja. Nando saja yang mengambil langkah sepihak tanpa bicara lebih dulu padanya.


"Dia kembali pada kodratnya.” sahut Alex acuh.


l


"Maksudmu?"


"Seorang wanita , sepintar dan sesukses apapun dirinya..,dia tetaplah seorang ibu dan istri. Surga istri terletak pada ridho suami bukan? Bella meninggalkan karirnya demi keluarga."


" Apa anda pernah mendengar Karenina zahra?"


"Pengacara terkenal itu?kenapa dengannya?" tanya Sofia ingin tau. Kania adalah wanita hebat yang sudah terkenal didunia hukum maupun sebagai pembicara di beberapa seminar dan penggiat hukum sebelum menghilang dari pemberitaan media.


"Dialah nyonya Bella. Tapi dia sudah meninggalkan dunia hukum sejak menikah."


"Dia tidak bisa disamakan dengan siapapun. Wanita golongan atas sepertinya pasti juga bersuamikan konglomerat."


"Anda salah."


"Jangan bersikap seolah kau tau segalanya tentang Kania."


"Tentu saja saya tau semuanya karena Karena Karenina Zahra Arabella adalah istri saya. Hanya seorang sekretaris tuan Nando saja. Pria yang bahkan tak ada apa-apanya dibanding tuan Fernando." tegas Alex kembali dengan mimik wajah yang identik.


"Bella? Karenina? dia... istrimu?"


"ya, dia istri saya nyonya." jawab Alex yakin. Sofia yang terkejut menatapnya tidak percaya. Tapi yang dia lihat hanya kesungguhan disana. Alex juga bukan tipe pria yang senang bercanda atau berbohong. Yang dikatakannya pasti sebuah kebenaran, apalagi ini menyangkut nama baik keluarga Hutama. Betapa lelaki ini dan suaminya benar-benar manusi sealiran yang sangat profesional. Mereka bahkan bisa menyembunyikan hubungan kekeluargaan diantara pekerjaan tanpa terbebani atau dibuat-buat. Semua mengalir dengan sendirinya.


"Kau..kau...sa...saudara ipar mas Nando juga?" Haruskah pertanyaan itu dilontarkan? sedang Sofia sudah tau jawabannya.


"Harusnya begitu, kakak ipar." balas Alex dengan menekan kata kakak ipar pada Sofia yang mulai merasakan gemetar di dirinya. Kejutan...lagi-lagi kejutan.


"Lalu kenapa Elle kau bawa kesana?" perasaan ingin tau dan tidak terima menjadi satu hingga membuatnya kembali bertanya dan bertanya, menuntaskan dahaganya pada sejuta pertanyaan yang mengendap dalam sukmanya.


"Anda ingin saya menjawab sebagai sekretaris Alex atau sebagai suami Bella?" Ingin rasanya Sofia menempeleng kepala sekrtaris sialan itu. Setiap pertanyaan darinya juga dibalik menjadi pertanyaaj beruntun hingga sulit menemukan jawaban darinya. Entah sang sekretaris ini cerdik atau licik.


"Alex katakan padaku semuanya." sergah Sofia melupakan sopan santun dan tatanan bahasa resminya pada sang sekretaris. Terlalu banyak kejutan untuknya selama berada di rumah ini.


Alex menarik nafas panjang lalu mengurungkan langkahnya memasuki ruang kerja Nando. Sebagai gantinya, dia bersandar pada dinding dengan beberapa berkas tergamit rapi ditangannya.


"Sebaiknya anda tanyakan semuanya nanti saat kak Nando pulang. Saya hanya saudara iparnya yang hanya mampu meraba-raba dan menduga jalan pemikirannya. Ini masalah pribadi kalian. Tunggu kak Nando pulang dan bicarakan dengannya termasuk permintaan perpisahan anda kak." Sontak Sofia kembali terhenyak.


"pi...pisah?" tanyanya terbata.


"ya, bukannya anda yang memintanya kemarin? saya sarankan anda menempuh cara sepihak karena kak Nando tidak akan mau bercerai kecuali oleh kematian.” Sungguhkah begitu?


" Lalu Emma? bukannya mereka sudah bercerai? kau tau bukan jika Emma masih hidup?" seketika raut wajah Alex terlihat garang. Hilang sudah wajah tenang dan datarnya. Dia seolah menjadi manusia lain sekarang.


" Wanita sundal itu yang menceraikan kak Nando!" tukasnya berapi-api. Baru kali ini manusia satu ini punya reaksi. Setidaknya kali ini dia terlihat seperti benar-benar manusia, bukan robot berjalan. Dan satu lagi..ternyata dia juga bisa berbicara dengan bahasa kasar.


"Anda bisa memilih cara seperti Emma jika ingin pisah."


" tapi aku..."


" Jika ingin berpisah maka lakukan segera nyonya, sebelum tuan muda benar-benar membuka hati pada anda dan berakhir seperti penghianatan Emma, karena saya pastikan sekali lagi bahwa siapapun yang menyakiti tuan muda akan langsung berhadapan dengan saya. Permisi nyonya." lalu tanpa kata Alex meninggalkannya seorang diri disana. Dalam kebingungan, rasa galau dan luka tak berdarah dalam hatinya.